Gaya Urban

Nostalgia di Lintasan Tamiya

Ahad, 19 November 2017 02:01 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/Ramdani

DENGAN kecepatan mencapai 30 kilometer per jam, mobil mini dengan rangka badan plastik itu melibas lintasan. Meski di jalur menurun dan berbelok, kecepatannya tidak juga berkurang hingga membuat beberapa mobil itu terbang dan berguling keluar lintasan.

Tentu saja tidak ada korban ketika aksi dramatis itu terjadi karena mobil-mobil itu dikemudikan dengan alat pengendali jarak jauh. Yang ada hanyalah teriakan kesal atau malah tawa dari para penonton. Sementara itu, sang pemilik mobil tangkas memperbaiki setelan mobil dan segera meluncurkan kembali jagoan mininya ke lintasan.

Begitulah suasana yang kini hadir lagi di beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta. Setelah sempat tren di era 90-an, adu balap mobil mini bermerek Tamiya ini muncul lagi.

Penggemarnya tidak hanya remaja, malah lebih banyak para pria usia 30-an. Salah satu yang kembali menjadi racer Tamiya adalah Anggoro Sulistyono.

Dengan membawa kotak perkakas layaknya seorang teknisi, pria berusia 35 tahun itu hobi menyambangi berbagai tempat adu balap Tamiya. Tyo panggilan akrabnya mengaku mengalami demam Tamiya di masa remajanya. Kini hobi Tamiya juga menjadi cara melepas kepenatan.

Hal sama juga dirasakan Erwin Eko Dwi dan Imam Mutaqqin. Erwin yang merupakan seorang anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) mengaku kecintaannya memainkan Tamiya sesungguhnya bukan mengikuti tren. Namun, ketika komunitas penggemar Tamiya tidak lagi intens bertemu, seolah permainan itu lenyap.

Karena itu, ketika kini Tamiya tren kembali, momen tersebut pun benar-benar dimanfaatkan mereka yang menjadi racer sejati. Erwin dan rekan-rekannya bekerja sama membuat sebuah acara kompetisi agar antusiasme yang kembali muncul ini bisa terus terjaga. Dari banyaknya peserta kompetisi, Erwin menilai jumlah penggemar Tamiya di Tanah Air berada di urutan kedua setelah negara aslinya, Jepang.

"Nah kalau kita sedang membuat event, yang daftar pasti selalu penuh. Bahkan banyak yang tidak bisa daftar lalu hanya bisa menonton saja. Jadi Tamiya lover di Indonesia itu luar biasa banyak," jelas Erwin ketika berbincang dengan Media Indonesia di Jakarta, Selasa (14/11).

Mobil baru

Erwin juga menilai tren Tamiya saat ini didukung dengan munculnya jenis mobil baru, Tamiya Original Box (TOB). "Kalau Indonesia memang selalu ada yang hobi main Tamiya ini, tetapi kembali naik daun sekitar tiga tahun lalu karena muncul jenis Tamiya baru yakni jenis TOB," tuturnya.

TOB atau Standart Tamiya Box (STB) merupakan sebuah mobil mini 4WD yang semua part berasal dari dalam boks. Seorang Tamiya racer hanya boleh mengganti atau memodifikasi ban, roller, plastik, serta dinamo dari Tamiya tersebut. Spesifikasi dari TOB merupakan spesifikasi yang paling standar, yakni terdiri dari kit (bodi), rangka, ban, dinamo, roller, dan baterai.

"Kalau TOB paling kita hanya mengutak-atik baterai dan dinamonya saja supaya lebih tahan lama dan lebih cepat. Yang lainnya tidak kita ganti," jelas Anggoro.

Baginya, jenis TOB tetap tidak menurunkan tantangan teknis bermain Tamiya. Seorang racer sejati biasanya tidak akan puas dengan hanya menggunakan spesifikasi mobil yang telah ada dari pabrikan. Mereka akan selalu tertantang untuk mengulik teknis mobil.

"Namun, yang namanya sudah hobi, pasti mereka tidak akan pernah puas hanya buka Tamiya dari boks lalu dimainkan, kurang seru. Karena yang seru menjadi seorang Tamiya racer itu adalah duduk bareng, utak-atik mesin bareng, balapan bareng. Itu serunya," ujarnya.

Meski terihat simpel dan monoton, banyak keseruan lain yang membuat Tyo sulit beranjak dari hobinya itu. Salah satunya ialah jika berhasil mencapai garis finis dan meraih peringkat pertama.

"Bangga banget kalau bisa melewati tiga lap tanpa keluar lintasan dan jadi juara. Karena kalau kita balapan yang TOB itu semua mesin dan mobilnya sama, jadi ada kepuasan lebih deh," tambahnya.

Ajang reuni

Tidak sekadar bernostalgia dengan hobi, ajang balap Tamiya juga bisa berubah menjadi reuni dadakan. Hal itu dialami sendiri oleh Tyo.

Ia mengaku secara tidak sengaja bertemu lagi dengan teman kecilnya saat beradu balap Tamiya. Dari situlah kemudian mereka mengenang lagi masa-masa sulit memiliki Tamiya hingga harus berpatungan. Maka kini ketika mereka sama-sama telah mapan secara ekonomi dan memiliki banyak Tamiya, kenangan itu membuat hobi balap tersebut makin terasa manis.

Bagi Imam, kembalinya tren Tamiya seperti menjadi oasis sosialisasi. Ia mengaku ritme kehidupan yang kini sibuk dan jarak tempat tinggal yang jauh membuatnya tidak lagi leluasa bersosialisasi.

Ketika mengetahui komunitas penggemar Tamiya muncul lagi, ia merasa hobi dan kerinduan bergaul pun tersatukan. Jarak tidak lagi menjadi kendala baginya. Setiap kali ada ajang kumpul atau balap yang diadakan komunitas penggemar Tamiya, ia akan berupaya ikut serta. (M-3)

Komentar