MI Muda

Menjadi Petani Muda Kekinian

Ahad, 19 November 2017 01:16 WIB Penulis: Dwi Safitri Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jambi

Dok. Pribadi

KONDISI sektor pertanian yang belum berkembang di desanya membuat I Gede Artha Sudiar­sana bertekad melakukan inovasi. Terlebih dengan latar belakang jurus­an agrobisnis, ia sadar akan pentingnya pengembangan sektor pertanian. Bukan itu saja, potensi di Desa Pidpid, Bali, yang menjadi tempat tinggalnya pun kaya dengan lahan pertanian serta limbah kayu yang bisa dijadikan media tanam.

Maka dengan keyakinan diri, segala potensi itu ia satukan. Kini, pemuda ber­usia 22 tahun itu sudah mendirikan usaha budi daya bernama Gede Jamur yang ikut merangkul petani sekitar. Bagaimana usaha itu dirintis? Berikut penuturannya kepada Muda.

Apa sebenarnya ide besar kamu ketika mendirikan Gede Jamur?

Saya mendirikan Gede Jamur pada 2005 karena sebagai generasi muda ingin berkontribusi nyata untuk pertanian dan sistem pangan Indonesia. Saya juga ingin mengubah image petani dari yang selama ini diindentikkan dengan tua, kemiskinan, pekerjaan kotor, dan kurang berpenghasil­an menjadi petani yang muda, keren, menguntungkan, dan kekinian.

Tujuan usaha saya ialah menghasilkan produk jamur yang berkualitas dengan menerapkan GAP (good agriculture practice) dengan penanganan yang organik tanpa menggunakan input bahan kimia. Fokusnya saya pilih di budi daya jamur tiram yang memanfaatan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam. Gede Jamur juga melakukan pengolahan pascapanen dan memproduksi media tanam (baglog) untuk dibudidayakan petani mitra. Usaha jamur ini juga menjadi pionir pengembangan jamur di desa saya sehingga banyak masyarakat di desa berkunjung untuk mengetahui proses budi dayanya. Usaha ini sebagai pilot project di desa yang bisa sebagai tempat belajar bagi generasi muda maupun petani yang ingin budi daya jamur tiram untuk dikembangkan di daerah masing-masing.

Bagaimana prosses merintis usaha ini?

Saya rintis dari saat saya masih kuliah di semester 4 di Jurusan Agrobisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Saya memang bertekad setelah tamat kuliah kembali ke desa karena melihat fenomena pertanian di desa tempat para orangtua masih menggunakan cara-cara yang sangat konvensional dan belum sadar market. Generasi mudanya malah ke kota untuk bekerja. Selain itu, banyak lahan yang dibiarkan tidak produktif, padahal potensial. Saat kuliah semester 2 saya mendapat kesempatan untuk magang selama tiga hari di Dinas Pertanian Provinsi Bali untuk membuat media tanam dan budi daya jamur tiram. Dari sanalah saya tahu bahwa budi daya jamur tiram, bahan baku yang dominan digunakan adalah limbah serbuk gergaji, yang mana sangat berlimpah di desa.

Modal pertama yang digunakan dari mana?

Modal pertama dari usaha Gede Jamur ini berasal dari sisa beasiswa kuliah saya. Kebetulan saya memperoleh beasiswa Generasi Lestari dari BPR Lestari. Selain itu, saya mendapat pinjaman modal dari teman-teman kuliah serta bantuan permodalan dari Bali Bhakti yang berfokus pada pengembangan usaha gene­rasi muda Bali. Modal pertama yang saya gunakan sekitar Rp20 juta untuk pembuatan kumbung (rumah jamur) dan media tanam.

Kendala yang pernah di alami?

Kendala yang pernah dialami pas memulai usaha ini, pertama, ialah meminta restu orangtua karena orangtua berharap untuk menjadi pekerja kantoran. Kedua, baglog yang ditanam tidak tumbuh akibat terkontaminasi oleh penyakit. Namun, semua bisa diatasi.

Berapa jumlah petani yang sudah dirangkul?

Untuk saat ini Gede Jamur sudah meng­ajak dua tenaga kerja yang kebetulan ibu-ibu di lingkungan saya. Pada awal 2016, saya juga mengajak petani sekitar untuk membentuk kelompok tani yang bernama Kelompok Tani Pertiwi Mesari yang artinya tanah dan menghasilkan hal-hal yang baik. Kelompok tani ini bertujuan meningkatkan bargaining power petani, menjadi wadah berbagi informasi antaranggota, serta dapat memperoleh penyuluhan dari dinas terkait. Untuk menghindari permainan tengkulak, kelompok tani ini juga bisa menjadi wadah dalam memasarkan produk dari anggota kelompok tani secara kolektif. Saat ini kelompok sudah mulai melakukan budi daya jamur secara kolektif oleh anggota kelompok yang berjumpah 28 orang.

Sudah berapa besar penjualannya?

Rata-rata panen kami 15-20 kg per hari dengan harga 22 ribu/kg. Jamur segar kami itu secara langsung dibeli putus oleh rumah-rumah makan, toko sayur, pasar tradisonal, maupun langsung ke tempat kami. Untuk olahan keripik jamur ‘Nyang-luh’ sementara ini kami pasarkan secara online. Omzet kami berkisar Rp10 juta-Rp12 juta per bulan.

Program ke depan Gede Jamur?

Mengingat potensi pasar pariwisata Bali sangat luas, Gede Jamur akan lebih banyak lagi mengajak petani mitra utamanya generasi muda dengan cara sharing pendapatan, yaitu 60% untuk mitra dan 40% untuk Gede Jamur dengan baglog dipasok Gede Jamur dan pendampingan ke petani mitra. Dengan begitu, pasokan jamur bisa memenuhi 3 K (kualitas, kuantitas, dan kontinuitas) dan bisa masuk market yang lebih besar seperti hotel, restoran, katering, dan supermarket. Kami juga berencana merambah ke jamur kuping, jamur champignon, jamur merang, dan shitake. Kemudian kami meningkatkan nilai tambah di pascapanen dengan membuat keripik, kerupuk, abon, dan nugget yang nanti dipasarkan melalui toko oleh-oleh. Impian terbesar Gede Jamur ialah menjadikan Desa Pidpid sebagai sentra jamur di Bali dan membuat agrowisata jamur dengan melibatkan masyarakat sekitar.

Pesan buat anak-anak muda Indonesia?

ANak muda yang akan atau sudah berkecimpung di dunia pertanian itu harus punya mindset bahwa bertani itu kekinian. Bisnis pertanian merupakan bisnis yang bagus karena kebutuhan akan pangan terus akan meningkat seiring dengan pertambahan penduduk. Kawan-kawan muda bisa berkontribusi baik dari hulu maupun hilir dan menjadi bagian dalam mencapai kedaulatan pangan Indonesia. Intinya, bertani itu untuk kini dan nanti; dan petani muda itu keren. (M-3)

Komentar