Foto

Sepintas Tanah Abang di Jalanan Karachi

Ahad, 19 November 2017 01:01 WIB Penulis: MI/DZULFIKRI PUTRA MALAWI

MI/DZULFIKRI PUTRA MALAWI

BERJUANG untuk menyeberang jalanan di daerah pusat perbelanjaan Saddar Empress Market, Karachi, Pakistan, saya pun teringat keriuhan wilayah Tanah Abang, Jakarta. Kendaraan yang parkir seenaknya ditambah dengan pedagang yang sibuk menjajakan pakaian hingga gorengan, melengkapi aroma kemiripan itu.

Hal itu pula yang mendorong saya untuk mengabadikan suasana Pasar Saddar lewat lensa kamera sekaligus merasakan seberapa jauh kesamaannya dengan Tanah Abang.

Nyatanya, Saddar lebih menguji kesabaran dan kewarasan. Berbagai kendaraan berlomba mengambil jalur, termasuk angkutan barang yang ditarik keledai. Para pengemudi kendaraan bermotor juga seolah tidak memiliki empati kepada pejalan kaki. Kesemrawutan jalan makin menjadi dengan contra flow ‘inisiatif’ pengemudi dan gaya menyetir mereka yang saling salip serta ugal-ugalan. Tidak mengherankan, saya sulit menemukan mobil dengan badan yang mulus tanpa goresan atau penyok.

Tidak hanya di wilayah perbelanjaan Saddar Empress Market, kenihilan aturan berlalu lintas saya temui di tol. Selepas melewati gerbang yang masih menggunakan portal manual, saya mendapati bajaj ditumpangi satu keluarga berjumlah 5-6 orang. Di jalan raya lainnya, anak kecil bisa hadir di balik kemudi.

Dengan kondisi itu, sepintas rasa syukur muncul ketika membandingkan dengan Tanah Abang. Di sisi lain, kondisi yang lebih baik di ibu kota sesungguhnya bukan pula sebuah kebanggaan.

Bukankah semestinya perbandingan harus dilakukan pada wilayah lain yang lebih baik? Memilih berkaca pada wilayah yang lebih buruk hanya akan membuat malas dan memaklumi segala kesemrawutan. Terlebih kita pun tahu, saat aturan disiplin ditegakkan, wilayah-wilayah biang macet di Ibu Kota bisa berubah jauh lebih baik.

Di akhir hari, saya hanya berharap Jakarta tidak akan menemui kesemrawutan layaknya di Karachi. Keberhasilan perubahan yang telah dibuat Jakarta beberapa waktu lalu sudah cukup menjadi cermin bagi Jakarta selanjutnya. (M-3)

Komentar