MI Muda

Adu Kekompakan Tim Sekolah di Festival UMB

Sabtu, 18 November 2017 23:46 WIB Penulis: Suryani Wandari

DOK UMB

MENGIKUTI aba-aba sang danton, pemimpin pasukan, belasan siswa itu bergerak serempak. Barisan mereka membentuk beragam formasi dengan penuh kekompakan. Di beberapa bagian, yel-yel pun mereka teriakkan hingga membuat suguhan itu tampak makin bersemangat.

Begitulah suasana perlombaan Paskibra dalam rangkaian Festival Universitas Mercu Buana (UMB) 1 Dekade, Rabu (15/11). Puluhan siswa dari 13 sekolah SMA/sederajat se-Jabodetabek Banten saling adu kekompakan dalam baris-berbaris dan tata upacara.

Festival ke-10 UMB merupakan kegiatan tahunan yang digagas Biro Sekretariat Universitas dan Humas UMB. "Kegiatan itu mengusung tema diversity, creativity, dan green living, dengan berpijak pada kompetisi nalar, olahraga, dan kesenian," kata Riko Noviantoro, ketua Pelaksana Festival UMB, kepada Media Indonesia.

Tahun ini tercatat 150 sekolah ikut berpartisipasi dalam kompetisi multicabang pertandingan selama 25 hari tersebut. Tidak hanya paskibraka, ada pula perlombaan Tari Saman. Dua bidang perlombaan itu memang menekankan kekompakan dan kebersamaan tim yang solid.

Baris-berbaris Paskibra

Meski memiliki arti Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, dalam perlombaannya ini tidak mengharuskan peserta untuk mengibarkan bendera. Panitia membebaskan peserta untuk melakukan baris-berbaris dengan tambahan variasi dan formasi yang unik tetapi tetap dalam formasi rapi dan posisi tubuh yang tegap.

"Penilaian berdasarkan kekompakan gerakan, kostum, maupun gerakan menarik dari variasi dan formasi yang mereka tampilkan," kata Prawira Hadi Fitrajaya, panitia Festival UMB. Dengan alasan itulah, 13 tim peserta lomba berupaya menampilkan formasi yang variatif. Seperti yang dilakuakan SMK Jakarta 1 yang memadukan variasi formasi gerakan dengan nyanyian. Upaya mereka membuahkan tiga penghargaan sekaligus.

"Kita hanya melakukan yang terbaik. Enggak nyangka menang juara 2, variasi terbaik dan formasi terbaik, tentu senang dan terharu sekali sampai menangis semua," kata Mutiara Safitri dari kelas 10 SMK Jakarta 1 yang berposisi sebagai danton.

Yura demikian panggilan akrabnya mengaku telah lama menjadi bagian dari Paskibra. Belajar disiplin, saling menghormati, dan kebersamaan antarpasukan membuatnya betah berada di lingkungan Paskibra. "Saya juga punya mimpi untuk menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka yang bertugas di Istana Negara," kata Yura.

Tari Saman

Mempunyai tantangan yang sama, kompetisi Tari Saman juga menghasilkan tampilan yang menarik. Para peserta memiliki kesempatan selama 10 menit untuk menampilkan kepiawaian dan kesesuaian gerak mereka.

Kompak dalam tepukan pada tangan, dada, dan pangkal paha, mereka harus fokus pada beragam tantangan seperti nyanyian atau syair yang keras, keseragaman formasi, hingga tempo. Ya, tarian asal Gayo, suku bangsa yang mendiami dataran tinggi di Provinsi Aceh Tengah, ini memang terkenal dengan temponya yang sering kali berubah dari pelan hingga cepat dan sebaliknya.

"Mereka dinilai dari beragam sisi, yang paling utama ialah seperti kekompakan karena mereka bermain bersama belasan orang dalam satu tim," kata Juniawan Mandala Putra, pelatih dan penanggung jawab Tari Saman UMB. Juniawan menambahkan para penari seharusnya memiliki tinggi pundak yang sama saat duduk bersimpuh agar tarian ini bisa kompak dan enak dipandang.

Sambil duduk bersimpuh sejajar, belasan perempuan penari itu pun menggerakkan tangan, kepala, dan tubuh. Diiringi suara gendang syekh, kadang terdengar teriakan nyaring sang penari. Selain menyanyikan syair sebagai alat dakwah, tarian ini kadang diselingi teriakan sang penari untuk menambah semangat.

Pada umumnya Tari Saman dimainkan dengan jumlah ganjil oleh laki-laki, tetapi kini penari perempuan semakin mendominasi. Tari Saman juga menjadi kegiatan seni yang tren di beberapa kampus, termasuk di UMB, lewat unit kegiatan mahasiswa. (M-3)

Komentar