Jendela Buku

Pustaka Klasik Warisan Dunia

Sabtu, 18 November 2017 06:16 WIB Penulis: Galih Agus Saputra

MI/Seno

Peremajaan Desawarnana merupakan sebuah upaya menampilkan naskah kuno dalam bahasa yang mudah dipahami anak-anak muda.

SEJARAH Indonesia terentang sejak adanya kerajaan Hindu, Buddha, dan Islam, maupun pada era kolonialisme atau saat masih bernama Hindia-Belanda. Panjang rentang sejarah itu, sejak masa prakemerdekaan hingga pada masa Indonesia kontemporer, masih tetap relevan untuk dipelajari dan dihubungkan dengan situasi Indonesia dalam konteks masa kini.

Nagarakertagama ialah salah satu karya sastra klasik karya Empu Prapanca yang ditulis pada 1365. Nagarakertagama atau yang disebut juga Kakawin Desawarnana merupakan Kakawin Jawa Kuno yang ditemukan pertama kali pada 1894 oleh ILA Brandes, seorang ilmuwan asal Belanda yang kala itu mengikuti ekspedisi KNIL di Lombok, untuk menyelamatkan isi perpustakaan raja Lombok di Cakranagara sebelum istananya dibakar tentara KNIL.

Nagarakertagama berisi catatan rinci tentang sistem pemerintahan kerajaan di Nusantara pada abad XIV. Asas keadilan sosial, kebebasan beragama, keamanan pribadi, dan kesejahteraan rakyat dijunjung tinggi. Kandungan isinya juga menjelaskan sikap demokratis dan keterbukaan penguasa atas rakyatnya, dalam suatu masa ketika sistem demokrasi absolut kerajaan masih dianut.

Wujud fisik dari peninggalan peradaban di masa lampau ini sekarang dapat dilihat di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Selatan No 11, Jakarta Pusat. Kakawin ini menguraikan keadaan Kerajaan Majapahit dalam masa raja agung tanah Jawa dan Nusantara yaitu Prabu Hayam Wuruk, pada 1350-1389. Dalam Nagarakertagama dijelaskan pula luas wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit di seluruh Nusantara, termasuk di beberapa negara tetangga saat ini.

Regenerasi pembaca

Dewasa ini, Nagarakertagama telah disadur Mien Ahmad Rifai ke dalam Desawarnana: Saduran Kakawin Nagarakertagama untuk Bacaan Ramaja. Mien Ahmad Rifai atau yang akrab disapa Pak Mien itu berharap agar penerbitan dan pemopuleran naskah terkenal ini akan menggalakkan usaha 'peremajaan' isi bahan-bahan pustaka klasik Indonesia yang lain. Dengan demikian, lanjut Pak Mien, kekayaan khazanah kebudayaan bangsa Indonesia dapat diperkenalkan pada kalangan generasi muda mendatang, sesuai dengan usia, tingkat pendidikan, dan perkembangan kejiwaan masing-masing.

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) mendukung penuh penyaduran pustaka tersebut. "AIPI mendukung berkembangnya ilmu pengetahuan, salah satunya melalui berbagai teks dan dokumentasi sejarah yang ditempatkan dalam konteks yang relevan bagi Indonesia di masa kini," kata Ketua AIPI, Sangkot Marzuki, kala membuka peluncuran sekaligus bedah buku Desawarnana: Saduran Kakawin Nagarakertagama untuk Bacaan Ramaja yang terselenggara berkat kerja samanya dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Penerbit Komunitas Bambu di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Kamis (16/11).

Menurut Komisi Kebudayaan AIPI Toeti Heraty, karya ini diawali dengan pembuka yang mengisyaratkan adanya dewa menitis di dalam sukma seorang raja perkasa. Dengan demikian, kata Toeti, Empu Prapanca mencoba menampilkan kelahiran rajanya, Prabu Hayam Wuruk, yang dirasuki seorang dewa.

"Ada penggugah yang cukup menarik di sini. Apa yang terjadi saat itu, bumi digoyang gempa prahara, mengubah jagat raya. Gunung Kelud meletus, asap menggumpal, halilintar menyambar, gelegar petir mengguntur, mencabut nyawa durjana," kata dia.

Dari penggugah itu pula, lanjut Toeti, tampaknya ada hal yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia. "Kita tahu bahwa Hayam Wuruk tampak diagung-agungkan dalam tulisan Prapanca. Namun, keagungannya itu terkait soal apa? Tidak sesuatu yang aneh bagi kita yaitu terkait dengan gaya blusukan, seperti Jokowi itu. Bedanya, Hayam Wuruk itu blusukan untuk menyembah leluhur di mana-mana, tapi sekaligus untuk dekat dengan masyarakatnya," imbuh Toeti yang kala itu turut membedah buku Desawarnana: Saduran Kakawin Nagarakertagama untuk Bacaan Ramaja.

Bagi Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar AIPI Bambang Hidayat, Basa iku busananing bangsa (baca: bahasa itu adalah pakaiannya bangsa) kalau menurut kebijakan kuno. Dari bahasa kita dapat mengenal karakter bangsa, walau harus disadari bahwa bahasa bukan satu-satunya parameter untuk mengukur kadar suatu bangsa.

Kebesaran Majapahit yang terurai itu bukan untuk menepuk dada sendiri, tapi harus dipahami sebagai alas kenyataan sejarawi. "Juga kenyataan bahwa di Nusantara masa lalu, kolonis Belanda sangat berhati-hati, untuk tidak dikatakan melarang, dalam mengajarkan sejarah agar tidak menjunjung tinggi kebesaran Majapahit di Jawa sebelah timur itu," katanya.

Pengetahuan kesejarahan yang berbalut aroma kebesaran negeri di Nusantara akan merupakan suntikan semangat ke dalam vena segmen masyarakat yang berkesadaran membangun negeri sendiri. "Sudah semestinya bahwa masyarakat muda dan dunia terpelajar bersyukur oleh kehadiran saduran bebas, berbahasa modern masa kini, yang dipersembahkan Mien Rifai tentang Kakawin Negarakertagama ini," jelas Bambang.

Periode sejarah yang dicakup Nagarakertagama atau Desawarnana berakhir saat diselesaikan Prapanca pada 30 September 1365. Kakawin Nagarakertagama telah ditetapkan sebagai warisan dokumenter tertua dari Indonesia untuk dunia oleh UNESCO dan diberi label Memory of the World (MoW) sejak 2013. (M-2)

Komentar