Katalog Belanja

Ayo, Mulai Gunakan Furnitur Lokal

Jum'at, 17 November 2017 11:30 WIB Penulis: Ghani Nurcahyadi

MI/GHANI NURCAHYADI

MELENGKAPI interior ruangan dengan furnitur unik merupakan suatu kesenangan tersendiri.

Terlebih saat ini ritel penjual furnitur mulai tersebar di Indonesia yang juga menawarkan beragam mebel unik yang diklaim berkualitas nomor wahid dan bisa mempercantik ruangan.

Namun, jangan lupa, sebagai negara yang mempunyai sumber daya alam melimpah, Indonesia juga kaya akan berbagai jenis kayu yang juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat furnitur.

Salah satunya dilakukan oleh Forme, perusahaan lokal yang fokus membuat furnitur dengan menggandeng perajin lokal.

Usaha milik Yani Susilowati tersebut sudah sejak 2008 memproduksi furnitur.

Terbaru, Forme mengeluarkan produk terbaru berupa log cocktail table dan log nesting table dari alumunium.

Keduanya dilepas ke pasar dengan harga berkisar Rp22 juta hingga Rp30 juta dengan model meja yang bisa dimodifikasi.

"Kami berinovasi untuk membuat furnitur dengan menggunakan bahan baku selain kayu. Kami juga mendapati bahwa bahan alumumium ternasuk kerajinan lokal yang harus dikembangkan. Yang jelas, kami percaya bahwa kerajinan lokal ini tetap bisa eksis di taraf internasional," kata Yani di ruang pamer (showroom) Forme di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (16/11).

Peluncuran dua produk baru tersebut juga dikemas dalam acara Your Home, Your Stories yang sekaligus mengenalkan produk-produk Forme yang lain hasil kolaborasi bersama Cita Nirvana, produsen batik Indonesia, dan Havila yang bergerak di bidang desain interior.

Srilita Rajagukguk, pendiri Cita Nirvana mengatakan pihaknya memproduksi batik yang khusus digunakan sebagai sarung bantal atau taplak meja dalam kolaborasinya bersama Forme.

Batiknya berbahan tencel/organik yang berasal dari serat kayu sehingga punya umur yang panjang ketimbang kain batik biasa.

"Pemilihan bahan batik atau tenun untuk digunakan sebagai aksesori dekorasi memang harusnya yang tahan lama. Kalau hanya untuk beberapa acara tertentu, kami menggunakan aksesori yang mengangkat desain atau gambar tertentu. Untuk kolaborasi ini, kami siapkan motif yang menyertakan sawah dan burung gereja di dalamnya," tutur Lita.

Membangun kesadaran

Civita Halim, pendiri Havila, mengatakan kesadaran untuk menggunakan furnitur buatan lokal saat ini masih didominasi oleh kalangan menengah ke atas.

Persoalan aksesibilitas untuk mendapatkan furnitur lokal dengan harga bersaing masih menjadi salah satu kendala.

"Perajin furnitur lokal masih banyak yang membuka toko secara individu. Kalau Swedia saja bisa menghimpun seluruh furnitur menjadi satu toko besar, seharusnya itu bisa dilakukan oleh pemerintah juga. Jadi, ada usaha yang dilakukan untuk perajin lokal juga," kata Civita.

Usaha tersebut, menurut Ketua Umum Himpunan Desain Interior Indonesia, Lea Aviliani Aziz, sudah mulai dilakukan bersama-sama dengan Badan Ekonomi Kreatif.

Namun, ia mengakui tidak semua sisi interior bisa diproduksi di dalam negeri.

"Masyarakat juga perlu terus diedukasi bahwa furnitur lokal kita tidak kalah jika dibandingkan dengan produk luar negeri karena kita kaya akan sumber daya alam di sini. Tapi memang belum semua, bisa diproduksi sendiri di sini, seperti karpet misalnya," tandas Lea.

Sementara itu, Fabelio, salah satu produsen mebel yang juga mengedepankan karya desainer dan perajin lokal, berupaya mendekati pasar dengan menambah gerai fisik, alias showroom.

Kemarin, Fabelio yang selama ini mengemas citranya sebagai destinasi belanja furnitur online, memperkenalkan tiga showroom terbarunya di Alam Sutera, Surabaya, dan Bekasi.

"Berdasarkan riset internal kami, konsumen Indonesia masih menganggap pengalaman langsung sebagai salah satu komponen utama yang menentukan proses pembelian furnitur," ujar Marshall Utoyo, Co-founder sekaligus Chief Design Officer Fabelio.com. (S-2)

Komentar