Internasional

COP Komit Kurangi Emisi

Rabu, 15 November 2017 07:04 WIB Penulis: Eni Kartinah

ANTARA/SAPTONO

KEPUTUSAN AS keluar dari Kesepakatan Paris tidak mengurangi semangat menekan peningkatan suhu bumi.

Dari Bonn, Jerman

Keluarnya Amerika Serikat (AS) dari Kesepakatan Paris tidak mengurangi semangat negara-negara peserta Konferensi para Pihak (Conference of Parties/COP) tentang Perubahan Iklim PBB Ke-23 di Bonn, Jerman, 6-17 November 2017. Negara peserta konferensi tersebut tetap berkomitmen mengurangi emisi karbon sebagai upaya mitigasi perubahan iklim.

Hal itu disampaikan Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim Rachmat Witoelar di Paviliun Indonesia di COP Ke-23, Bonn, Senin (13/11).

Semula, mundurnya AS, selain mengurangi kemampuan seluruh negara menekan peningkatan suhu bumi di bawah 2 derajat celsius pada 2020-2030, dikhawatirkan mengendurkan semangat mengendalikan perubahan iklim. Namun, ternyata itu tidak terjadi.

"Semua negara kompak menghadapi berita buruk AS mundur dari Kesepakatan Paris. Justru sekarang Indonesia ditantang untuk kinerja lebih tinggi dalam pengendalian perubahan iklim," kata Rachmat.

Ia memaparkan bahwa sesungguhnya di AS sendiri ada ketidaksepakatan. "Lebih banyak negara-negara bagian di AS yang tidak sepakat dengan keputusan Presiden Trump yang menyatakan keluar dari Kesepakatan Paris."

Mantan menteri lingkungan hidup itu mengatakan mundurnya AS memang menjadi contoh buruk. Namun, Tiongkok dan India telah memberikan 'kick' untuk terus maju dalam pengendalian perubahan iklim sehingga itu akan mengimbangi mundurnya AS.

Sebelumnya, Presiden Trump menyatakan AS keluar dari Kesepakatan Paris yang mewajibkan setiap negara mengurangi emisi karbon guna mencegah penaikan suhu global di bawah 2 derajat celsius.

Keikusertaan AS sebetulnya sangat diperlukan karena 'Negeri Paman Sam' itu termasuk salah satu negara penghasil emisi karbon yang besar di dunia.

Tiongkok, India, dan Indonesia ialah negara yang terus menggenjot pembangunan sehingga emisi yang dihasilkan banyak. Namun, menurut Rachmat, Tiongkok dan India perlu dipuji karena melakukan aksi lebih besar dalam pengurangan emisi gas rumah kaca.

Jadi prioritas

Di tempat yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan mengatakan Indonesia berkomitmen untuk memenuhi target penurunan emisi gas. "Presiden pesan agar kita bisa memenuhi target 23% penurunan emisi. Karena itu, kita harus melakukan aksi nyata, bukan hanya ngomong.''Terkait dengan upaya itu, Indonesia bekerja sama dengan sejumlah negara. "Kerja sama itu di bidang energi terbarukan, seperti energi matahari dan angin," ujarnya.

Komentar