Ekonomi

Saatnya Melirik ke Digital

Rabu, 15 November 2017 08:00 WIB Penulis: Fetry Wuryasti

Ilustrasi

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia tahun depan diperkirakan mencapai 5,3%. Proyeksi ini, antara lain ditopang fundamen ekonomi yang kuat serta tumbuhnya ekonomi digital.

Demikian hal yang mengemuka dalam acara UOB Indonesia’s Economic Outlook 2018: Navigating Your Business in Uncharted Waters, yang digelar di Jakarta, kemarin. Enrico Tanuwidjaja, ekonom UOB Indonesia, mengatakan kekuatan fundamen ekonomi Indonesia didukung konsumsi swasta, pertumbuhan pembelanjaan investasi, serta peningkatan kinerja ekspor yang berkelanjutan.

Pada kuartal III 2017 tercatat permintaan konsumsi swasta terus stabil di angka sekitar 5,0% year-on-year, sedangkan belanja investasi meningkat 7,1 %, dan ekspor meningkat 17,3 %.

Terus membaiknya pertum-buhan ekonomi global, perbaikan harga komoditas, serta berbagai program infrastruktur domestik, juga diyakini akan mendukung momentum pertumbuhan tahun depan.

Selain itu, lanjut dia, tumbuhnya ekonomi digital menjadi salah satu kontributor terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun depan. Apalagi hal ini ditunjang dengan komposisi penduduk di Indonesia yang kini mulai melek teknologi.

Dengan populasi lebih dari 262 juta jiwa pada 2016, yang 51% atau 132,7 juta di antaranya merupakan pengguna internet, serta 40% atau 106 juta merupakan pengguna media sosial, lndonesia telah menjadi sebuah negara yang memiliki fondasi kuat untuk pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan.

Pada 2016, Asosiasi E-commerce lndonesia mencatat 24,74 juta orang lndonesia membeli produk secara online (e-commerce buyers) atau 9% dari total populasi. Pada 2017, transaksi ini diperkirakan meningkat sebesar 30% hingga 50% dari jumlah transaksi total sebesar US$5,6 juta di tahun 2016. “Tumbuhnya era ekonomi digital, ditambah dengan pertumbuhan kelas menengah, akan memberikan dorongan yang lebih kuat lagi bagi pertumbuhan ekonomi lndonesia. Ekonomi digital diperkirakan akan terus menjadi salah satu fokus pemerintah lndonesia ke depan,” tukas Enrico.

Potensi e-commerce

Ekonom sekaligus anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti menyatakan pemerintah harus mulai mencari sumber pertumbuhan ekonomi lain di luar konsumsi. Sebab, menurutnya, perkembangan teknologi (terutama digital) telah menggeser pola konsumsi masyarakat dari yang sebelumnya mencari barang kebutuhan dasar menjadi kenyamanan (leisure).

Saat ini, Badan Pusat Statistik (BPS) tengah mengkaji potensi transaksi e-commerce ini sebagai indikator penyokong produk domestik bruto (PDB). Dengan menggandeng Asosiasi E-commerce Indonesia (Idea), BPS menghitung lebih rinci kontribusi transaksi perdagangan elektronik yang saat ini berkisar 1%-2% dari total transaksi perdagangan konvensional.

“Kita harus punya pegangan pasti berapa share-nya, jadi tidak sekadar dugaan. Memang sebelumnya ada perkiraan kontribusi 1%-2% walaupun nilai transaksinya besar. Namun, BPS belum bisa memilah berapa share dari online. Paling penting ialah bagaimana pergerakan pattern produk yang dijual di online itu bergeser atau enggak,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, kemarin. (Tes/E-2)

Komentar