Humaniora

Edukasi Sampah Plastik Masuk Kurikulum

Rabu, 15 November 2017 07:40 WIB Penulis: Eni Kartinah

ANTARA/DIDIK SUHARTONO

INDONESIA menjadi negara penyumbang sampah plastik di lautan terbanyak kedua setelah Tiongkok dengan volume 1,29 juta meter kubik per tahun.

Perubahan pola kebiasaan masyarakat dalam menggunakan kemasan plastik menjadi kunci untuk menanggulangi masalah tersebut.
Salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah ialah mengedukasi anak-anak tentang sampah plastik dengan memasukkan pembahasan tersebut dalam kurikulum sekolah tahun depan.

Hal itu dikatakan Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan seusai sesi diskusi di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim PBB COP 23 di Bonn, Jerman, Senin (13/11). “Upaya penanggulangan sampah plastik sudah kita lakukan melalui berbagai cara, termasuk menggunakannya sebagai campuran aspal. Kita juga akan memasukkan edukasi sampah plastik dalam kurikulum sekolah tahun depan,” ujar Luhut.

Menurutnya, isu sampah plastik perlu terus digaungkan karena dampaknya yang serius, antara lain pada kesehatan. “Sampah plastik di lautan yang terpecah menjadi mikroplastik (plastik berukuran sangat kecil) akan termakan ikan dan binatang laut. Jika ikan itu dimakan ibu-ibu yang sedang hamil, janin akan berisiko mengalami gangguan kesehatan.”

Pada kesempatan sama, pembicara dari Bank Dunia Karin Kemper menekankan pentingnya perubahan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan kemasan plastik. “Penting bagi masyarakat untuk menerapkan perilaku yang meminimalkan jumlah sampah plastik dalam kehidupan sehari-hari,” kata dia.

Ia pun menyampaikan apresiasinya pada Indonesia karena telah menunjukkan aksi nyata dan menjadi salah satu leader dalam penanganan sampah plastik di lautan.

Pengelolaan gambut

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, kemarin, melakukan pertemuan dengan perwakilan Kongo dan Peru serta UN Environment di sela konferensi. Indonesia bersama Kongo dan Peru yang tergabung dalam Global Peatlands Initiative (GPI) menguatkan kerja sama dalam pengelolaan lahan gambut sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim, mengingat peran lahan gambut dalam menyerap emisi karbon sangat signifikan.

“Lahan gambut menjadi salah satu perhatian internasional. Ada kebutuhan untuk mengelola gambut secara global,” ujar Menteri Siti seusai pertemuan.

Ia menjelaskan, meski ada pihak seperti Malaysia yang menyatakan bahwa kondisi lahan gambut dunia baik-baik saja, Indonesia memiliki pengalaman kebakaran hutan pada 2015 yang sebagian terjadi di lahan gambut. Kebakaran itu menjadi salah satu yang terparah karena menyebabkan bencana kabut asap lintas negara. Pengalaman itu meneguhkan pengelolaan lahan gambut amat penting.

Siti menjelaskan, dalam pertemuan, setiap negara berbagi pengalaman, pengetahuan, dan teknologi, juga tantangan dan cara mengatasinya dalam pengelolaan gambut di negara masing-masing. “Saya meng­awali dengan berbagi pengalaman kebakaran hutan pada 2015 serta menjelaskan berbagai upaya yang telah kita lakukan untuk penyelamatan gambut. Dunia internasional memandang pengalaman Indonesia dalam pengelolaan gambut sangat baik,” ucapnya. (H-2)

Komentar