Ekonomi

Sido Muncul Cetak Kenaikan Laba

Rabu, 15 November 2017 06:31 WIB Penulis: Raja Suhud suhud@mediaindonesia.com

MI/HARYANTO

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) membukukan keuntungan bersih Rp380 miliar pada triwulan III 2017. Perusahaan yang bermarkas di Semarang, Jawa Tengah, itu optimistis hingga akhir tahun mampu meraup keuntungan Rp505 miliar dari penjualan jamu dan produk-produk herbal. “Di tengah kelesuan ekonomi, kami masih bisa tumbuh sedikit. Profit triwulan ketiga ini Rp380 miliar. (Akhir tahun) diasumsikan tambah Rp125 miliar, jadi keseluruhan profit Rp505 miliar,” kata Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, seusai merayakan ulang tahun ke-66 Sido Muncul di Danau Rawapening, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (14/11)

Asumsi itu, kata Irwan, membuat laba perseroan naik Rp15 miliar dari laba tahun lalu. “Tahun lalu Rp480 miliar, jadi profitnya masih diharapkan naik dari tahun lalu,” ungkap Irwan. Menurut dia, keberhasilan Sido Muncul dalam meningkatkan pendapatan menjadi prestasi tersendiri karena mampu bertahan dari kondisi ekonomi nasional yang sedang terpuruk. Meski begitu, diperkirakan jumlah penjualan jamu dan produk-produk ­herbal Sido Muncul melenceng dari target.

“Target penjualan tidak masuk. Tapi kami masih bersyukur di tengah semua keluh-an, Sido Muncul bisa tumbuh sedikit,” tegas Irwan tanpa mau membuka detail target penjualan yang ditetapkan. Irwan berharap tahun depan profit perseroan masih bisa bertumbuh lebih baik lagi sehingga sebagai perusahaan yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Sido Muncul bisa mendapatkan harga saham yang lebih tinggi. “Performanya bagus, tapi tidak sesuai dengan harga saham. Harga saham tidak naik, tapi analisisnya masih bagus buat investasi,” jelas Irwan.

Faktor nonteknis
Direktur Utama BEI Tito Sulistio pun mengaku heran jika harga saham Sido Muncul tidak sesuai dengan pencapaian kinerja perusahaan. Padahal, perseroan dinilai sebagai per­usahaan farmasi industri jamu Indonesia yang paling terbuka saat ini. “Produk dia sudah internasional. Aset bagus. Yang menarik performance yang baik ini belum diikuti kesesuaian harga sahamnya,” jelas Tito saat ditemui di tempat sama. Padahal, kata Tito, Sido Muncul memiliki dana tunai Rp1 triliun untuk menopang kinerja perusahaan. Menurut Tito, tidak naiknya harga saham Sido Muncul disebabkan faktor nonteknis.

“Banyak yang menganggap under perform padahal secara perusahaan bagus. Tapi pasar itu kan supply dan demand. Banyak orang kenal Sido Muncul sebagai produk jamu, bukan sebagai perusahaan,” tukas Tito. Saat ini harga saham Sido Muncul di bursa berada pada level Rp530 per lembar saham. Harga itu lebih rendah daripada harga penjualan saham perdana pada 18 Desember 2013. Saham Sido Muncul pernah mencapai puncaknya pada le­vel Rp920 di 11 Februari 2014. Namun, setelah itu saham Sido Muncul terus berfluktuasi dengan tren menurun di level Rp500. Pada 2016 saham Sido Muncul pernah ke level Rp600 sebelum kembali melemah dengan menyentuh level terendah Rp454 pada 6 Oktober 2017. (MTVN/E-3)

Komentar