Humaniora

Ada 900 Penderita HIV AIDS di Palembang

Selasa, 14 November 2017 21:44 WIB Penulis:

Ilustrasi

ADA 900 orang lebih yang terjangkit virus HIV dan AIDS di Kota Palembang, Sumatra Selatan.

"Data penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) Palembang itu tergolong tinggi, sehingga memerlukan perhatian semua pihak untuk melakukan upaya pencegahan dan penanggulangannya," kata anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Palembang Adi Wijaya di Palembang, Selasa (15/11).

Adi mengungkapkan, pihaknya mencatat 900 orang lebih terjangkit virus HIV dan dinyatakan positif AIDS hingga November 2017. Pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS membutuhkan dukungan dari semua pihak dan lapisan masyarakat, karena Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) tidak bisa dilihat secara kasat mata dan tidak memiliki tanda-tanda khusus.

Sehingga jika tidak memiliki pengetahuan mengenai cara pencegahan dan penanggulangannya, bisa dengan mudah menularkan penyakit itu. Berdasarkan kondisi tersebut, masyarakat perlu diberikan edukasi kesehatan dan sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan HIV AIDS (P2HIV).

Hal itu bertujuan agar masyarakat bisa bersikap bijaksana dalam menjalani kehidupan, dengan menghindari berbagai tindakan yang bisa mengakibatkan terinfeksi HIV dan positif AIDS, serta memperlakukan ODHA dengan baik.

Orang-orang yang termasuk kelompok rawan terinfeksi HIV AIDS seperti pekerja seks komersial, orang yang memiliki perilaku seks menyimpang seperti waria, gay, lesbian, serta yang sering gonta-ganti pasangan atau seks bebas, diimbau menggunakan alat pengaman seperti kondom.

Adi menuturkan, masyarakat tidak perlu menjauhi orang dengan HIV AIDS karena virus HIV tidak menular melalui kontak sosial seperti berjabatan tangan, menggunakan peralatan makan bersama, menggunakan kamar mandi bersama, ataupun terpapar batuk/bersin dari orang pengidap penyakit itu.

"Penularan virus HIV AIDS bisa terjadi dengan berhubungan seks dan penggunaan jarum suntik secara bergantian. Untuk mencegah tertularnya penyakit tersebut, setidaknya dua hal tersebut semaksimal mungkin dihindari dalam menjalani kehidupan ini," tandasnya seperti dilansir Antara.

Dia menjelaskan untuk mencegah penyebaran penyakit itu, harus benar-benar memahami proses penularannya sehingga tidak perlu timbul rasa ketakutan berlebihan dalam diri masyarakat.

Ia juga berharap kegiatan sosialisasi itu bisa ditiru perusahaan lain untuk meningkatkan pemahaman kepada masyarakat. (OL-4)

Komentar