Humaniora

Jangan Sembarangan Konsumsi Anti Biotik

Selasa, 14 November 2017 20:56 WIB Penulis: Thomas Harming Suwarta

Ilustrasi--thinkstock

PEMAKAIAN anti biotik harus dengan resep dokter. Pemakaian yang tidak beraturan apalagi tanpa resep dokter, bisa berakibat buruk karena memunculkan kekebalan bagi bakterinya.

Resistensi anti biotik merupakan kondisi di mana bakteri menjadi kebal terhadap anti biotik. Seperti diketahui anti biotik merupakan obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan bakteri, dan tidak bisa digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan virus.

Demikian ditegaskan Dirjen Farmasi dan Alkes Kemenkes Maura Linda Sitanggang pada acara temu media sekaligus memperingati Pekan Peduli Anti Biotik di Kantor Kementerian Kesehtan RI, Jakarta, Selasa (14/11).

"Obat antibiotik itu harus berdasarkan resep dokter. Dia bukan obat rumahan yang bisa dikonsumsi sewaktu-waktu. Maka perlu pengetahuan dan informasi yang memadai, karena jika tidak bisa juga memberi dampak negatif yaitu resistensi terhadap antiobiotik itu sendiri," ujar Maura.

Ia menambahkan, hal yang harus dilakukan oleh pasien jika diberi anti biotik oleh dokter ialah meminumnya sampai habis. “Jadi kalau disuruh minum anti biotik itu harus habis, karena ada alasannya. Anti biotik merupakan obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan bakteri, sehingga jika tidak dihabiskan, bakteri tidak sepenuhnya mati dan bisa berkembang lagi di kemudian hari,” jelas Maura lagi.

Ia menambahkan, agar tidak terjadi dampak buruk akibat pemakaian anti biotik yang keliru, perlu pemahaman yang cukup, yaitu anti biotik harus berdasarkan resep dokte, patuh pada aturan pakai, dan harus dihabiskan, serta tidak boleh disimpan di rumah untuk dijadikan persediaan obat.

Ia mengakui, pemahaman masyarakat tentang anti biotik masih sangat minim. Padahal risiko penyalahgunaan anti biotik bisa berakibat fatal karena bisa menyebabkan kematian. Setidaknya hingga 2014, angka kematian akibat resistensi antibiotik mencapai 700 ribu orang per tahun.

Resistensi antibiotik juga disebabkan oleh penggunaan anti biotik secara berlebihan atau tidak rasional, serta pencegahan dan pengendalian infeksi yang buruk. Bila infeksi tidak dapat lagi diobati dengan antibiotik pada lini pertama, pasien harus menggunakan obat yang lebih mahal.

Ditambahkan oleh Mariyatul Qibtiyah dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) bahwa semakin anti biotik digunakan dengan dosis yang tidak tepat, akan semakin menimbulkan mulitresistensi.

“Karena ketika anti biotik dikonsumsi, bukan hanya bakteri jahat tapi bakteri baik juga mati. Sehingga jika terus diberikan anti biotik, justru malah akan membuat pasien menjadi lemah,” ujarnya. (OL-4)

Komentar