Ekonomi

Setop Pemakaian Antibiotik Sembarangan

Selasa, 14 November 2017 20:14 WIB Penulis: Thomas Harming Suwarta

Ilustrasi

PEMAKAIAN antibiotik harus dengan resep dokter. Dengan kata lain pemakaian yang tidak beraturan tanpa resep dokter justru bisa berakibat buruk karena bisa terjadi resistensi terhadap anti biotik yang dikonsumsi atau bakterinya menjadi kebal.

Resistensi antibiotik merupakan kondisi di mana bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik. Seperti diketahui Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri, dan tidak bisa digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus.

Demikian ditegaskan oleh Dirjen Farmasi dan Alkes Kemenkes Maura Linda Sitanggang pada acara temu media sekaligus memperingati Pekan Peduli Anti Biotik di Kantor Kementerian Kesehtan RI, Jakarta, Selasa (14/11).

"Obat antibiotik itu harus berdasarkan resep dokter. Dia bukan obat rumahan yang bisa dikonsumsi sewaktu-waktu. Maka perlu pengetahuan dan informasi yang memadai, karena jika tidak bisa juga memberi dampak negatif yaitu resistensi terhadap antiobiotik itu sendiri," ujar Maura.

Ia menambahkan, hal yang harus dilakukan oleh pasien jika diberi anti biotik oleh dokter ialah meminumnya sampai habis.

“Jadi kalau disuruh antibiotik itu harus habis itu ada alasannya. Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri, sehingga jika tidak dihabiskan, bakteri tidak sepenuhnya mati dan bisa berkembang lagi di kemudian hari,” jelas Maura.

Ia menambahkan, agar tidak terjadi dampak buruk akibat pemakaian anti biotik yang keliru, perlu pemahaman yang cukup, yaitu antibiotik harus berdasarkan resep dokte, harus patuh pada aturan pakai, dan antibiotik itu harus habis, serta tidak boleh disimpan dirumah untuk dijadikan persediaan obat.

Ia mengakui, pemahaman masyarakat tentang antibiotik masih sangat minim. Padahal resiko penyalahgunaan antio biotik bisa berakibat fatal karena bisa menyebabkan kematian. Setidaknya hingga 2014, angka kematian akibat resistensi antibiotik mencapai 700 ribu orang per tahun.

Resistensi antibiotik juga disebabkan oleh penggunaan antibiotik secara berlebihan atau tidak rasional, serta pencegahan dan pengendalian infeksi yang buruk. Bila infeksi tidak dapat lagi diobati dengan antibiotik pada lini pertama, pasien harus menggunakan obat yang lebih mahal.

Ditambahkan oleh Mariyatul Qibtiyah dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) bahwa semakin antibiotik digunakan dengan dosis yang tidak tepat maka akan semakin menimbulkan mulitresistensi.

“Karena ketika antibiotik dikonsumsi, bukan hanya bakteri jahat tapi bakteri baik juga mati. Sehingga jika terus diberikan antibiotik, justru malah akan membuat pasien menjadi lemah,” ujarnya. (OL-6)

Komentar