Humaniora

Imunisasi Cara Jitu Cegah Virus Influenza

Senin, 13 November 2017 19:47 WIB Penulis:

ANTARA FOTO/Rahmad

IMUNISASI jadi cara jitu pencegahan terhadap menyebarnya virus influenza. Terlebih virus ini bisa memicu timbulnya penyakit lain yang lebih serius seperti sinusitis, bronchitis, bronchiolitis dan pneumonia.

Ketua Pusat Studi Infeksi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Cissy B Kartasasmita dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (13/11), menyebut cara yang paling efektif untuk meredam virus influenza adalah imunisasi yang dilakukan secara berkala.

"Paling tidak setahun sekali (imunisasi), karena virus ini paling mudah bermutasi dan virus hanya bisa dilawan oleh antivirus," ujar Cissy dalam diskusi Indonesian Influenza Foundation di Hotel Aryaduta, Jakarta.

Cissy mengungkapkan, satu vaksin influenza saat ini mengandung H1N1, H3N2, B Yamagata dan B Victoria. Komposisi itu dianggap paling komplit karena sebelumnya vaksin hanya terdiri dari tiga strain saja yakni H1N1, H3N2, dan salah satu dari influenza B.

Dokter RS Hasa Sadikin Bandung itu juga mengatakan, meskipun sering dianggap enteng, influenza memungkinkan menjadi penyebab kematian. Kasus yang paling menyedot perhatian publik adalah pandemik influenza di Meksiko 2009. Saat itu influenza menginfeksi lebih dari 2.500 orang dengan 152 meninggal.

"Di Indonesia ketika flu burung (H5N1) ya, itu salah satu influenza. Tetapi di kita beban penyakitnya tidak begitu diketahui karena rumah sakit enggak pernah periksa. Misalnya ada pasien meninggal setelah cuci ginjal, kemudian demam. Diagnosanya ginjal, kita tidak pernah tahu penyebab demamnya," tuturnya seperti dilansir Antara.

Untuk meredam merebaknya infeksi ini, idealnya 80% masyarakat telah diimunisasi. Sayangnya, di Indonesia angka itu masih sangat jauh mengingat masyarakat sering abai terhadap influenza dan cenderung menyamakannya dengan pilek biasa.

Padahal penyebaran virus ini cukup mudah di antaranya lewat mikroorganisma kecil yang masuk lewat udara, percikan ludah, atau kontak langsung dengan sekret (ingus).

"Di Indonesia mungkin satu persen saja belum ya. Oleh karena itu perlu perhatian dari pengambil kebijakan. Mungkin kematiannya tidak tinggi, tapi harus kita cegah," tukasnya.

Cissy tak memungkiri kalau gejala influenza kerap disamakan dengan influenza, sehingga masyarakat cenderung mengandalkan obat warung untuk penanganannya.

"Ketika batuk, pilek, dan demam kurang dari lima hari itu bisa disembuhkan dengan obat symptoma, tetapi kalau sudah lebih dari itu, ya influenza," tegasnya. (OL-4)

Komentar