MI Muda

Satu Kampus Banyak Pelatihan

Ahad, 12 November 2017 01:01 WIB Penulis: Suryani Wandari Putri P

MI/WANDARI

DUA action figur Minion, animasi komputer dalam film bergenre komedi Despicable Me (2015), ditempatkan menghadap buah pir yang besarnya tak jauh berbeda. Di belakangnya terdapat background kertas warna kuning dan biru.

Tiga benda itu menjadi objek untuk difoto. Dengan memperhitungkan cahaya, komposisi warna, serta sudut kamera, beberapa orang yang ikut dalam workshop fotografi dengan smartphone itu berlomba menciptakan gambar yang ciamik, Selasa (7/11).

Workshop yang diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Festival Universitas Mercu Buana (UMB) 1 Dekade ini mengundang banyak orang untuk ikut serta. Apalagi Festival UMB menyasar para anak muda khususnya SMA sederajat. Jumlah sekolah yang mengikuti kompetisi selama 25 hari itu pun selalu membeludak. "Pada tahun ini tercatat 150 sekolah ikut berpartisipasi dalam kompetisi multicabang pertandingan," kata Riko Noviantoro, ketua Pelaksana Festival UMB.

Festival ke-10 UMB merupakan kegiatan tahunan yang digagas Biro Sekretariat Universitas dan Humas UMB. Kegiatan itu mengusung tema diversity, creativity, dan green living, dengan berpijak pada kompetisi nalar, olahraga, dan kesenian. "Juara di semua kompetisi pada jenjang SMA, SMK, atau MA berhak mendapatkan beasiswa di kampus UMB," ucapnya.

Workshop fotografi

Tak hanya berkompetisi, festival pun menghadirkan banyak workshop yang bisa dicoba pelajar, salah satu di antaranya fotografi dengan smartphone. Sederhana memang, tapi peserta mengaku kegiatan tersebut sangat membantu menambah wawasan tentang fotografi.

"Zaman digital seperti memotret sudah menjadi bagian penting. Dengan workshop ini saya bisa memanfaatkan memotret dengan gawai seadanya, tentu dengan teknik tertentu," kata Syafiq, kelas 12 SMA N 12 Tangerang.

Syafiq bersama puluhan temannya bereksplorasi memotret beberapa objek yang telah disiapkan seperti pir dan cermin, pasir, hingga alat antik di atas meja. "Objek ini sebagai pemancing saja bahwa benda yang sering kita lihat bisa menjadi sesuatu yang menarik saat difoto. Kita mengarahkan untuk bisa jadi sebuah seni yang indah," kata Junaidi Salam, dosen Fakultas Desain Seni dan Kreatif.

Para peserta ditantang harus bisa memotret objek dengan cahaya sederhana dari lampu, memanfaatkan bayangan, menggunakan komposisi warna meskipun berada di dalam ruangan. "Intinya dalam memotret itu harus fokus, jangan puas dengan satu hasil gambar, dan sebisa mungkin hindari fitur zoom," kata Junaidi. Ia juga mengungkapkan batasan di layar juga bisa langsung dimanfaatkan untuk memosisikan foto di tengah.

Setelah puas eksplorasi benda di dalam ruangan, mereka pun berkeliling di sekitar lingkungan kampus untuk mencari objek yang unik dan menarik. Salah satunya taman kampus yang mempunyai koleksi tanaman yang beragam. "Di luar cahayanya bisa lebih bagus. Aku bisa foto beragam tanaman," kata Syafiq.

Laser marking dan laser cutting

Berada di ruangan berbeda, yakni di Dormitori dekat asrama mahasiswa, kelompok lain pun tak kalah seru menjalani workshop Laser Marking dan Laser Cutting. Workshop ini mengandalkan tools dan mesin yang biasanya dipakai untuk bahan belajar mata kuliah desain produk. "Kita mengeksplor gagasannya, membuat konsep-konsep baru dengan mengenali tools-nya. Kalau kita kenal tools-nya, gagasannya pun akan lebih luas," kata Rizky Dinata, dosen Desain Produktif Fakultas Desain Seni dan Kreatif.

Rizky menjelaskan tools ini bisa digunakan untuk membuat merchandise, guntingan kunci, kalung, dan sebagainya dengan beragam bahan seperti akrilik maupun kayu.

Para peserta kemudian mengumpulkan ide, mendesain di komputer menggunakan software Corel Draw, lalu memproduksi hasilnya pada mesin. "Enggak terlalu sulit sih untuk belajar ini karena kami pun jurusan Multimedia, jadi sudah terbiasa mendesain. Yang baru bagi kita itu, cara mengaplikasikan desain pada mesin cutting dan marking ini, tentunya sangat berguna," kata Arvin Adrian, kelas 10 SMK Santa Maria.

Kedua mesin itu menggunakan sistem laser. Mesin cutting sifatnya memotong atau menggrafis, dan berkasnya pun harus dalam bentuk outline berukuran 0,1 point. Setelah karyanya selesai, dia bisa menandai pada laser marking yang pakai sistem panas.

Berbeda dengan laser cutting, laser marking bisa digunakan pada bahan metal, plastik berbahan bahan tebal, karet ataupun kulit. Para peserta pun mencobanya pada casing belakang smarphone mereka, tentu dengan ukuran dan jenis huruf yang bisa diubah.

Rizky pun mengingatkan workshop ini bertujuan menghasilkan produk, bukan menjadi teknisi.

Selain dua workshop itu, dalam festival UMB di waktu yang bersamaan pun berlangsung workshop 3d Fashion, yakni memanfaatkan daun untuk dijadikan sebagai desain baju. Ada pula workshop desain interior yang merancang suatu karya seni di dalam suatu bangunan dan Workshop Adobe Muse yang mempelajari pembuatan website yang berbasis HTML yang tentunya tak kalah menarik. (M-2)

Komentar