BIDASAN BAHASA

Pribumi

Ahad, 5 November 2017 00:31 WIB Penulis: Ridha Kusuma Perdana

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

BEBERAPA waktu lalu, dalam pidato perdananya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membuat banyak kalangan bereaksi, terutama media. Penyebabnya, dia menggunakan kata yang menurut masyarakat sangat sensitif, yaitu pribumi. Sebenarnya, jika diteliti lebih jauh, bukan hanya Anies yang menggunakan kata tersebut. Beberapa pejabat di negeri ini juga kedapatan menggunakan kata itu. Sebut saja Presiden Jokowi dan Megawati Soekarnoputri. Kala itu Megawati mengucapkannya dalam pidato saat menerima penghargaan doctor honoris causa. Sementara itu, Presiden Jokowi menggunakan kata pribumi dalam pidatonya soal lapangan pekerjaan untuk pribumi (Metrotvnews.com).

Lalu, pertanyaannya, kenapa hanya pidato Anies yang menuai kritik? Itu berkaitan dengan pilkada DKI Jakarta lalu yang dipenuhi dengan bumbu SARA sehingga kata itu menjadi sangat sensitif ketika digunakan. Padahal, melalui konfirmasi yang disampaikan, kata pribumi yang dimaksud merujuk pada masa penjajahan dulu, bukan pada masa sekarang ini. Namun, tetap saja kata penggunaan kata pribumi dalam pidato itu menimbulkan polemik karena lawan politiknya ialah Ahok yang kebetulan ialah keturunan Tionghoa.

Berkaitan dengan masalah itu, pada kesempatan kali ini penulis akan membahas kata pribumi. Kata pribumi ialah translasi dari kata inlander (Belanda). Pada masa kolonial Belanda, orang Eropa menyebut penduduk asli sebagai inlander yang kemudian dialihbahasakan ke bahasa Melayu menjadi pribumi/bumi putera. Kata pribumi mengandung unsur rasial karena ada pembedaan hak penduduk asli dan Eropa. Bahkan, dalam segala bidang, hak-hak pribumi dan Eropa dibedakan, baik soal upah kerja, gaya berpakaian, status sosial, bahkan penggunaan bahasa.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V, kata pribumi berarti penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan; inlander. Kata pribumi juga merujuk pada kata inlander yang berarti sebutan ejekan bagi penduduk asli di Indonesia oleh orang Belanda pada masa penjajahan Belanda; pribumi.

Jadi, berdasarkan penjelasan itu, jelas bahwa penggunaan kata pribumi untuk menyebut penduduk Indonesia saat ini tidak tepat. Indonesia sudah lebih dari setengah abad merdeka. Penggunaan kata itu pun sudah sangat tidak relevan dan tidak pantas.

Sejalan dengan itu, sebenarnya Presiden ke-3 Indonesia BJ Habibie pun sudah mengeluarkan instruksi untuk melarang penggunaan kata pribumi dan nonpribumi, yaitu Inpres No 26 Tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Nonpribumi dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan.

Jikapun kata pribumi tidak mengandung unsur rasial dan hanya berarti penduduk asli serta digunakan untuk menyebut seluruh penduduk Indonesia saat ini, hal itu tetap tidak tepat. Penduduk Indonesia bukanlah penduduk asli. Mereka imigran dari berbagai wilayah, yaitu Afrika dan Austronesia. Karena itu, ada baiknya penggunaan kata pribumi untuk menyebut penduduk asli Indonesia disetop. Kita semua warga negara Indonesia. Sama-sama bertanah air Indonesia, tak peduli dari suku mana dan keturunan apa kita berasal.

Komentar