Megapolitan

Rawatlah Oase di Ibu Kota

Ahad, 22 October 2017 07:11 WIB Penulis: Riz/FD/X-7

Pekerja menyelesaikan pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di jalan Simpang Tiga Kalibata, Jakarta, Jumat (29/9). -- ANTARA FOTO/Galih Pradipta

RUANG terbuka hijau (RTH) yang di dalamnya terdapat taman-taman bukan sekadar tempat kongko-kongko atau ngobrol. Ada interaksi sosial di taman yang dikenal dengan sebutan ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) itu. masyarakat bisa menjalin silaturahim, berolahraga, dan mengajak anak bermain. Itulah sebabnya, di era kepemimpinan Gubernur Anies-Sandi, warga berharap pembangunan RPTRA dan RTH diteruskan hingga jumlahnya ideal sebagai oase kota.

Menurut Koordinator Kemitraan Kota Hijau Nirwono Joga, minimal ada tiga fungsi RTH, yakni fungsi sosial untuk berinteraksi di ruang, fungsi edukasi, yaitu mengedukasi warga tentang keanekaragaman hayati, dan ketiga ialah fungsi ekologis sebagai resapan air serta produsen oksigen.

“Fungsi lainnya ialah sebagai tempat evakuasi bencana, tetapi nilai-nilai RTH ini tidak ada di RPTRA sebagai pembandingnya. Hal inilah ternyata yang belum disadari sepenuhnya oleh pemerintah, yaitu fungsi dari taman kota tadi,” imbuhnya.

Bagi Nirwono, indikator mudah untuk melihat sebuah kota memiliki RTH yang baik ialah melalui penelitian teranyar mengenai kota aman dan sehat. Hasil survei terbaru dari Economist Intelligence Unit (EIU) yang dirilis awal minggu ini, jelasnya, menunjukkan dari 60 kota di seluruh dunia, Jakarta menduduki petingkat 57. Artinya, tidak aman dan tidak sehat. Jakarta hanya lebih baik dari Kota Yangon di Myanmar, Dakka di Bangladesh, dan Karachi di Pakistan.

“Kita kalah jauh dari Tokyo, Singapura, dan Melbourne. RTH mereka sudah menembus angka 30% bahkan Melbourne dan Singapura 40% dari luas wilayah,” tambahnya.

Sementara itu, Jakarta, lanjutnya, baru 9,98%. Idealnya, menurut peraturan Pemda DKI Jakarta, harus 30% dari luas wilayahnya.

Salah seorang warga Jakarta Selatan, Vivi Lestari, menyebutkan RPTRA harusnya dibangun jauh dari polusi udara. Sebaiknya RPTRA dibangun agak di permukiman. “Biar tetap nyaman bagi anak-anak sampai lansia. Beberapa fasilitas RPTRA yang kurang terjaga perlu dibenahi juga,” ujarnya.(Riz/FD/X-7)

Komentar