PIGURA

Sayembara Kunti

Ahad, 22 October 2017 06:16 WIB Penulis: Ono Sarwono

MESKI pemilihan kepala daerah (pilkada) baru berlangsung tahun depan, suasana saat ini sudah mulai kemrengseng (hangat). Ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan menyelenggarakan pilkada. Tradisi politik yang niscaya terjadi dalam negara demokrasi.

Namun, yang selalu menjadi catatan sampai saat ini, pascapilkada hampir selalu menimbulkan ekses. Biasanya, itu dipicu kontestan yang tidak puas atau tidak menerima kekalahan dengan berbagai alasan. Baik, bila itu diselesaikan di ranah hukum. Tapi, faktanya, kerap ketidakpuasan dilampiaskan dengan aksi anarkistis.

Bangsa ini harus semakin dewasa dalam berdemokrasi. Bahwa dalam setiap pemilihan pimpinan, pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Maka, sangat penting adanya modal yang harus dimiliki setiap kontestan, yaitu jiwa kesatria, yang punya etika, moral, dan kelegawaan.

Narasoma

Dalam cerita wayang, di antara contoh jiwa kesatria kompetitor ketika bersaing dapat disimak dalam lakon Sayembara Kunti. Semua pesaing mengikrarkan komitmen mereka untuk menerima apa pun hasilnya.

Fairness (kejujuran) pun terbangun dalam perlombaan tersebut. Alkisah, Raja Mandura Prabu Kuntiboja menggelar sayembara memperebutkan putrinya, Dewi Kunti alias Prita. Lomba itu terbuka untuk umum dari negara mana pun. Siapa yang unggul, baik itu kesatria maupun golongan lain, dalam adu kesaktian di gelanggang perang, berhak memboyong sang putri kedhaton (putri raja.

Seperti adatnya, Kunti hidup dalam pingitan. Namun, keharuman namanya mampu menembus seluruh pelosok jagat. Daya tariknya bukan hanya pada keayuan tataran fisik. Lebih dari itu, ia memiliki kecantikan jiwa (inner beauty). Berkepribadian luhur dan mulia. Inilah pesona yang membuat siapa pun kepincut (tergiur).

Saking banyaknya peminat sayembara, Alun-Alun Mandura seperti pasar malam. Sebagian besar terpaksa mesranggah (mondok atau menginap) di tempat tersebut karena asal (negara) mereka rata-rata jauh. Namun, situasi itu justru menambah kian sengit dan meriahnya persaingan.

Dikisahkan, setiap kontestan yang kalah lalu mundur teratur. Mereka meninggalkan gelanggang dengan legawa dan tanpa dendam. Tapi, ada yang ambisius, nekat memungkasi perlombaan hingga tetes darah penghabisan.

Setelah adu kesaktian berlangsung sekitar satu pekan, muncullah satu pemenang. Sang pemenang itu bernama Narasoma, kesatria dari Negara Mandaraka. Tidak ada satu pun peserta lain yang kuat menghadapi kedigdayaan putra Prabu Mandrapati itu.

Prabu Kuntiboja lalu menobatkan Narasoma sebagai pemenang dan berhak memboyong Prita. Tapi, sejatinya, hati kecil Kuntiboja tidak puas dengan hasil sayembara tersebut. Jauh sebelumnya, Kuntiboja berharap Prita dipersunting kesatria keturunan atau trah Raja Astina Prabu Kresnadwipayana alias Abiyasa.

Tapi, hingga akhir perlombaan, yang ia nanti-nanti tidak muncul. Apa boleh buat, sabda pendhita ratu tak kena wola-wali, apa yang telah terucap (dijanjikan) tidak boleh diralat. Narasoma pemenangnya.

Aji candrabirawa

Beberapa saat setelah Kuntiboja mengalungkan rangkaian bunga melati kepada Narasoma, muncullah kesatria dari Astina yang mengaku bernama Pandu. Kepada sang raja, ia menyatakan kedatangannya mengikuti sayembara. Sang raja bersabda, perlombaan telah rampung.

Betapa galaunya hati Pandu. Namun, ia tidak ingin berlarut dalam kesedihan karena itu kesalahannya, datang terlambat. Berpegang teguh pada jiwa kesatria, ia menerima kenyataan ini. Pandu kemudian pamit dan bergegas kembali ke Astina.

Namun, baru beberapa langkah, Narasoma mengejar dan mendekat. Ia mempersilakan Pandu mengambil Kunti dari gendongannya dengan syarat, bila mampu mengalahkannya dalam adu kesaktian. Pandu terkesima, tidak menduga sang pemenang bersikap demikian. Tapi, saat itu pula Pandu menolak tawaran tersebut karena tidak ingin membuat kegaduhan mengingat sayembara sudah dinyatakan rampung.

Berulang kali Narasoma meyakinkannnya. Bahwa apa yang ia sampaikan murni dari hati nurani. Baginya, pemenang sejati itu sang pemenang di dalam maupun di luar gelanggang. Ia ingin membuktikan itu.

Kata-kata Narasoma itu menyengat Pandu. Ia lalu bersedia meladeni. Maka, terjadilah peperangan sengit dan seimbang. Namun, setelah beberapa babak berlalu, Narasoma terdesak. Saat itulah ia kemudian mengeluarkan ajian Candrabirawa, pusaka pamungkas yang sebelumnya menjadi andalan untuk menaklukkan lawan-lawannya.

Dalam sekejap, muncullah sejumlah raksasa kecil menggiriskan yang memburu Pandu. Namun, sebelum makhluk jadi-jadian itu menyentuh, Pandu mengheningkan panca indranya. Terjadilah keajaiban. Candrabirawa ketakutan dan serta-merta balik ke tuannya. Seketika itu Narasoma mengaku kalah dan menyerahkan Kunti. Bukan itu saja, ia memberikan adiknya, Dewi Madrim, kepada putra mahkota Astina itu.

Dalam perjalanan pulang, Pandu bertemu Raja Plasajenar Prabu Gendara dan kedua adiknya, Tri Gantalpati dan Gendari. Gendara menyatakan ingin mengikuti Sayembara Kunti. Seperti meniru Narasoma, Pandu lalu menawarkan Gendara berhak memboyong Kunti bila bisa mengalahkannya. Singkat cerita terjadi peperangan hingga akhirnya Gendara tewas.

Tri Gantalpati pun diberi kesempatan. Namun, meski telah mengeluarkan segala kemampuannya, Gantalpati keok dan pasrah hidup-mati. Gendari pun lalu ikut menyerahkan jiwa raganya kepada Pandu.

Peristiwa budaya

Hikmah kisah itu ialah sang pemenang benar-benar yang unggul atas lawan-lawannya. Keadilan bukan ditentukan pihak lain (aturan), melainkan oleh para pesaing itu sendiri, terutama seperti yang dilukiskan dalam peran Narasoma dan Pandu.

Dalam konteks pilkada, adu kesaktian dalam sayembara tersebut merupakan simbolisasi adu ide, gagasan, dan program. Siapa yang paling ampuh (baik) ialah yang menang. Dan itu harus terus diadu hingga lahirlah sang pemenang sejati.

Nilai lain ialah kejujuran mesti menjadi modal utama bagi mereka yang ingin menjadi pemenang (pemimpin). Bukan dengan menghalalkan segala cara untuk menggenggam kedudukan. Bila demikian, selamanya pilkada tidak akan menimbulkan ekses-ekses, tetapi justru malah akan menjadi peristiwa budaya yang baik.

Komentar