Edsus 3 Tahun Jokowi-JK

Pamor yang kian Cemerlang

Jum'at, 20 October 2017 15:45 WIB Penulis: MI

Suasana di stan Kementerian Pariwisata, di Gedung Bank Dunia, di Washington DC, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu. Stan Kemenpar mengenalkan Indonesia serta mempromosikan 60 paket wisata di enam destinasi di Indonesia. --MI/Windy D Indriantari

SEJAK Presiden Joko Widodo-Wapres Jusuf Kalla menggulirkan roda pemerintahan mereka pada 2014, sektor pariwisata mengalami perkembangan pesat. Data Travel and Tourism Competitiveness Report 2017 oleh World Economic Forum (WEF) untuk wilayah Asia Tenggara menunjukkan Indonesia saat ini masuk peringkat keempat setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand dengan indeks pertumbuhan pariwisata sebesar 25,68%.

"Jika dibandingkan dengan ASEAN dan dunia yang tumbuh hanya 6%, pariwisata Indonesia justru mengalami peningkatan dalam kurun waktu Januari-Agustus 2017. Alhasil indeks daya saing pariwisata kita juga meningkat," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya Yahya saat ditemui Media Indonesia di ruang kerjanya di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (17/10).

Menurutnya, pariwisata Indonesia ibarat raksasa lincah (dancing giant). Meski dua-tiga tahun lalu jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia hanya sepertiga dari Malaysia dan Thailand, Arief Yahya optimis Indonesia akan mengalahkan keduanya.

Apalagi, Malaysia yang relatif merupakan pesaing utama bagi pariwisata Tanah Air justru mengalami penurunan indeks mulai Januari-Mei 2017 sebesar 0,87%. Thailand hanya naik 4,47%, berbeda tipis dengan Singapura yang tumbuh 4,48%.

"Dari data yang dikeluarkan WEF, masalah sanitasi dan kesehatan kita mendapatkan rapor merah. Tapi, untuk natural resources dan cultural
resources
kita sangat baik sehingga dapat menunjang sektor pariwisata," lanjut Arief Yahya.

Peningkatan indeks daya saing pariwisata tersebut juga sejalan dengan naiknya peringkat Indonesia dari ke-70 pada 2013 menjadi peringkat ke-50 pada 2015 sampai akhirnya melesat ke rangking ke-42 tahun ini. Target di 2019, Indonesia akan menempati peringkat ke-30 dunia.

Untuk dapat terus meningkatkan daya saing pariwisata di Tanah Air, terang Arief Yahya, pihaknya gencar melakukan berbagai upaya dan strategi. Mulai promosi branding besar-besaran hingga memperbaiki masalah akses di sejumlah destinasi wisata.

Terbukti dari segi country branding, Wonderful Indonesia dinobatkan menjadi yang terbaik di dunia mengalahkan Malaysia dengan Truly Asia dan Amazing Thailand. Itu, menurutnya, terjadi berkat kerja keras dari Kemenpar serta pihak-pihak terkait lain yang ikut mendukung.

Digital tourism

Kelak, ia menyebutkan ada tiga program prioritas yang akan dijalankan guna mendukung percepatan pembangunan di sektor pariwisata. Salah satunya ialah dengan menerapkan digital tourism atau strategi pariwisata melalui konsep digital.

Pasalnya, dewasa ini masyarakat mulai beralih dari cara-cara konvensional ke arah pemanfaatan teknologi. Sebagai contoh, pemesanan tiket pesawat yang dahulu menggunakan metode pemesanan lewat agen travel, kini banyak dilakukan via aplikasi di smartphone.

"Travel is online. Kita tahu 70% orang search and share pakai digital media," cetus Arief Yahya.

Oleh sebab itu, menurutnya, praktik turisme digital sudah menjadi tren yang semestinya dirangkul. Demikian halnya jika sektor pariwisata ingin maju, harus mengikuti perkembangan zaman yang menuntut adanya perubahan ke arah digital tersebut.

"Digital media empat kali lebih efektif jika dibandingkan dengan konvensional. Traveloka yang baru berumur empat tahun, faktanya berhasil mengalahkan dua perusahaan travel agent terbesar di Indonesia, yaitu Panorama dan Bayu Buana," ucapnya.

Setelah menyadari fenomena tersebut, Kemenpar pun kini telah melakukan strategi promosi dan pemasaran lewat digital. Selain iklan melalui media massa, juga memastikan destinasi pariwisata unggulan masuk booking portal seperti TripAdvisor, Ctrip, dan Expedia.

Meski begitu, imbuh Arief Yahya, pihaknya juga tetap memprioritaskan pembangunan secara fisik, terutama di 10 destinasi baru alias Bali Baru. Di antaranya membangun homestay desa wisata yang ditargetkan mencapai 10 ribu pada 2019 serta menggunakan konsep arsitektur Nusantara yang berciri khas lokal.

"Secara fisik, kita juga akan mengembangkan area-area sekitar tujuan destinasi utama. Seperti Bali, kalau kita datang ke Bali kita tahu ada di Bali karena mulai dari pagar sampai rumah-rumahnya bernuansa khas Bali. Begitu pun destinasi wisata lainnya, nanti akan kita bangun arsitektur Nusantara." (Mut/S2-25/OL-6)

Komentar