Khazanah

Mengenang Perjanjian Breda

Ahad, 15 October 2017 06:46 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/Ebet

SEPINTAS memang mirip dengan buah duku. Hanya, bentuknya sedikit lebih besar. Buah itu berbentuk bulat lonjong, berdaging buah, dan beraroma khas. Kulitnya berwarna cokelat muda dengan ketebalan sedang. Daun tanaman ini berbentuk lonjong langsing dengan warna hijau tua. Buahnya bergelantungan di seluruh bagian pohon, tetapi tidak dalam satu rangkaian. Bila buah masak, kulit dan daging buahnya akan membuka dan akan terlihat biji merah. Buah sekaligus rempah itu bernama pala.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Indonesia dahulu merupakan penghasil utama pala, terutama Pulau Run. Secara geografis, pulau tersebut terletak di Indonesia bagian timur yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Pulau Run memang kurang familier bagi masyarakat, padahal pulau itu mempunyai sejarah yang begitu besar.

Pulau kecil di Kepulauan Banda itu pernah dijadikan penukar pulau Manhattan di New York. Pulau itu menjadi kunci dalam Perjanjian Breda yang mengakhiri konflik Inggris dan Belanda. Dalam kesepakatan itu Inggris menyerahkan Pulau Run kepada Belanda dan sebagai imbalan Inggris mendapat Manhattan. Pulau itu terletak di sebelah selatan ujung Sungai Hudson. Itu satu dari lima kota bagian yang membentuk New York.

Perjanjian Breda berisi penawaran pertukaran Pulau Run dan Manhattan akibat perebutan sengit dan berdarah antara Vereenigde Oostibdischeb Cinpagnie (VOC) dan sekelompok tentara Inggris pimpinan Kapten Nathaniel Courthope pada awal abad ke-17. Disebut Perjanjian Breda atau Treaty of Breda karena perjanjian ini ditandatangani di Kota Breda, Belanda. Perjanjian breda ditandatangani pada 31 Juli 1677.

Belanda rela menukar Pulau Manhattan dengan Pulau Run karena pala memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Bahkan kala itu, Belanda berperan peting dalam ekonomi dunia karena memiliki Pulau Run.

Begitu pentingnya pala, maka rempah-rempah tersebut menjadi barang yang sangat dicari dalam pasaran dunia. Tidak hanya itu, bahkan pala menjadi komoditas terpenting saat itu di Barat sehingga orang yang mempunyai sejumput pala saja bisa menjadi orang kaya. Hanya, peredaran pala di Barat sangat minim dan terbatas.

Pulau Run ialah satu-satunya pulau yang menyediakan suplai pala terbesar di dunia meskipun pulau tersebut hanya mempunyai panjang sekitar 3 km dan lebar sekitar 1 km. Keberadaan Pulau itu pun diburu negara-negara kolonial macam Portugis, Belanda, dan Inggris.

Pada 1603, Belanda mendatangi Pulau Run yang terletak di Kepulauan Banda untuk membeli rempah-rempah. Berharganya rempah-rempah kala itu membuat bangsa Eropa, termasuk Inggris, berlayar menuju timur untuk mendapatkan rempah rempah pula. Pada 1616, Inggris sampai di Pulau Run dan melakukan kontrak dengan penduduk setempat. Awalnya, kontrak itu hanyalah perjanjian ekonomi yang menyatakan Inggris membeli rempah-rempah, khususnya pala, di pulau tersebut. Namun, pada akhirnya Inggris menyatakan bahwa Pulau Run merupakan wilayah koloni Inggris.

Kunci bagi dunia

Saat itu Run adalah kunci bagi dunia. Biji pala waktu itu ditukar dengan berat yang sama dengan emas. Harga emas dan harga pala sama persis.

Pala merupakan satu tanaman buah yang namanya sudah mendunia. Para pedagang kuno sudah banyak mengincar tanaman ini karena nilai jual tinggi dan permintaan kebutuhan yang sangat banyak. Salah satu fungsinya sebagai bahan pengawet. Saat itu, pala dianggap bisa menyembuhkan segalanya mulai wabah sampar hingga berak darah. Bukan hanya penyakit-penyakit pengancam nyawa yang dikabarkan bisa disembuhkan pala.

Belanda kala itu sudah menguasai Maluku. Belanda tidak rela melepaskan Pulau Run kepada Inggris. Terlebih dengan banyaknya pala yang dihasilkan pulau tersebut. Perebutan pala oleh bangsa Inggris dan Belanda ini terus terjadi. Mereka berperang demi mendapatkan Pulau Run. Perjanjian lalu ditandatangani pihak Belanda dan Kerajaan Inggris di Kota Breda.

Isi utama dari Perjanjian Breda ialah Kerajaan Inggris harus angkat kaki dari Pulau Run dan sebagai gantinya Belanda menyerahkan Pulau Manhattan yang menjadi koloninya kepada Inggris. Belanda telah menjajah Pulau Manhattan pada 1624. Manhattan kala itu dinamai Nieuw Amsterdam oleh Belanda. Setelah Belanda memberikan Pulau Manhattan kepada Inggris untuk ditukar dengan Pulau Run, Inggris mengubah nama Nieuw Amsterdam menjadi New York.

Begitu pentingnya sejarah itu lalu disikapi Kemendikbud bersama Yayasan Warisan Budaya Banda dengan menyelenggarakan pameran bertajuk Banda Warisan untuk Indonesia: Pala dan Perjanjian Breda 1667-2017 pada 20 September-4 Oktober 2017 di Galeri Nasional Indonesia. Pemeran menyoroti sejarah Banda sebagai penghasil rempah yang kaya dan bagaimana peran Banda sebagai pusat perhatian dalam perdagangan dan politik internasional.

Pameran itu juga menghubungkan episode sejarah tersebut dengan Banda saat ini dan bagaimana Banda menjadi sumber inspirasi dalam karya seni kontemporer. Pameran ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda akan perannya sebagai penerus sebuah bangsa besar yang sejak dahulu telah memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan dunia. Dengan demikian diharapkan, akan muncul kebanggaan pada jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

"Pameran ini terinspirasi dari 350 tahun Perjanjian Breda. Kami berharap pameran ini dapat meningkatkan kesadaran dalam menghargai dan melestarikan kekayaan alam dan budaya Banda, dan memberikan inspirasi untuk membangun Banda berbasis kemasyarakatan agar Banda dapat memberikan dampak secara nasional maupun internasional," terang Ketua Yayasan Warisan dan Budaya Banda Neira Tanya Alwi.

Ada beberapa seniman nasional dan internasional seperti Hanafi, Titarubi, I Made Wianta, dari Indonesia; Beatrice Glow dari New York; Isabelle Boon dari Belanda; dan Jez O'Hare dari Inggris.

Perjanjian Breda telah diteken 350 tahun lalu. Perjanjian itu pula yang menjadi saksi bahwa dulu Indonesia sempat berjaya dengan maritimnya. Indonesia menjadi tujuan bagi para pelayar dan pedagang. Jadi budaya maritim dan impian menjadi poros maritim dunia bukan hal mustahil diwujudkan. Indonesia pernah menjadi pusat perdagangan maritim dunia. (M-2)

Komentar