Ekonomi

Bank Dunia Serukan Fokus pada Investasi SDM

Jum'at, 13 October 2017 07:22 WIB Penulis: Windy Diah Indriantari dari Washington DC

AP/Jose Luis Magana

NEGARA-NEGARA kelompok pendapatan menengah dan rendah diminta lebih fokus pada investasi sumber daya manusia (SDM) yang meliputi pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial. Ketiganya paling berpengaruh dalam memangkas kesenjangan kesejahtera­an sekaligus mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Presiden Bank Dunia Jim Yong-kim mengemukakan hal itu dalam jumpa pers pembukaan Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia di Washington DC, AS, kemarin. Bank Dunia telah melakukan studi dengan membandingkan 20 negara peringkat teratas yang lebih fokus pada pembangunan SDM dan 20 negara terbawah dalam 25 tahun. Dengan hasil, terdapat korelasi kuat antara peningkatan kualitas SDM dan pertumbuhan ekonomi.

Negara-negara di peringkat teratas, jelas Jim, membukukan pertumbuhan ekonomi tambah­an 1,2% per tahun. “Ini pengaruh yang sangat signifikan. Kami berkewajiban membagikan pengetahuan ini kepada negara-negara anggota,” ucapnya.

Menurut Jim, banyak negara berpendapatan menengah salah kaprah dalam menempatkan investasi. Mereka lebih memilih pinjaman Bank Dunia untuk dialokasikan ke infrastruktur fisik, seperti jalan. Infrastruktur juga penting. Namun, jika pembangunan SDM terpinggirkan, itu akan sulit menggenjot pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Sebelumnya, dalam diskusi panel di ajang yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan Indonesia dalam satu dekade terakhir telah mengalokasikan 20% belanja negara ke sektor pendidikan dan 5% ke kesehatan. Namun, hasilnya masih jauh dari memuaskan.

Sri menyebut investasi SDM bukan semata soal uang. Di Indonesia, hasil yang diinginkan terganjal otonomi daerah.

Pada Rabu (11/10), IMF memublikasikan proyeksi pertumbuhan global tahun ini yang sedikit meningkat menjadi 3,6% dari proyeksi awal 3,5%. Indonesia masuk lima besar negara ASEAN yang diperkirakan membukukan pertumbuhan 5,2%. Proyeksi itu lebih optimistis ketimbang Bank Dunia yang memprediksi Indonesia tumbuh 5,1%. (X-8)

Komentar