Internasional

Label Teroris Ditentukan Warna Kulit

Jum'at, 13 October 2017 07:45 WIB Penulis:

AFP/ROBYN BECK

PENEMBAKAN massal di Las Vegas yang menewaskan 59 orang dan melukai sedikitnya 500 orang, awal Oktober lalu menyisakan pertanyaan bagi warga muslim Amerika Serikat (AS). Tidak satu pun pejabat pemerintah atau media menyebut aksi Stephen Paddock itu sebagai aksi terorisme. Naaz Modan, editor Muslim Girl, sebuah publikasi yang fokus pada isu hak dan pemberdayaan perempuan Muslim, mempertanyakan hal itu dalam opini yang dituangkannya di laman CNN.com. Ia mengatakan sudah 273 aksi teror terjadi sepanjang 2017, tapi AS tetap tidak mengatakan hal itu sebagai tindakan terorisme.

Naaz menyebutkan, jika penembakan massal dilakukan oleh kulit cokelat, insiden akan segera dirangkai ulang dan dikonstruksi sebagai isu imigrasi. Jika ribuan orang tewas di tangan kulit hitam, insiden akan dijadikan alasan untuk mengizinkan brutalitas polisi, meminimalisasi gerakan Black Lives Matter dan menegaskan stereotipe amukan kulit hitam. “Jika penembak massal teridentifikasi sebagai muslim, insiden akan segera ditetapkan sebagai terorisme dan memicu peningkatan pengeluaran pertahanan dan keamanan,” kata Naaz dalam opininya, Rabu (4/10).

Padahal, sejak 1982, lanjut Naaz, penembakan massal di AS telah dilakukan laki-laki kulit putih yang kerap dilabeli lonewolves atau cacat psikologis.
Akibatnya, pemerintah AS yang seharusnya bisa memobilisasi institusi-institusinya untuk mewujudkan reformasi, malah tetap menjadi pendukung Amandemen Kedua dan sekutu terbesar penembak massal.

Tanggapan serupa juga disampaikan Yasir Qadhi, seorang warga muslim AS. Melalui akun Facebook miliknya, Yasir juga menyinggung soal tak disematkannya status teroris kepada pelaku penembakan Las Vegas. Ia menyebutnya sebagai keistimewaan kulit putih, dengan menggunakan tagar #whiteprivilege. “Apakah Anda tahu apa itu #whiteprivilege? Itu ialah membunuh lebih dari 50 orang dan melukai 450, hanya untuk membuat pihak berwenang mengklaim, dalam beberapa menit dan tanpa ada verifikasi, bahwa Anda bukan seorang teroris,” ujar Dekan Intitute Al-Maghrib tersebut.

Sindiran Naaz dan Yasir itu mewakili seruan warga AS lainnya. Menanggapi hal ini, Kepolisian Las Vegas dan Biro Penyelidikan Federal (FBI) menyatakan Stephen tidak memiliki catatan kriminal. Mereka juga menyatakan tidak menemukan hubungan antara pelaku dan organisasi teroris internasional mana pun. (CNN/Arv/I-1)

Komentar