Katalog Belanja

Jual Beli di Glodok masih Elok

Jum'at, 13 October 2017 07:30 WIB Penulis: Ghani Nurcahyadi gani@mediaindonesia.com

MI/WISNU ARTO SUBARI

RAHMAT tertatih-tatih membawa dua kardus ukuran sedang ke arah sepeda motornya yang diparkir di area depan Lindeteves Trade Center (LTC) Glodok. Setelah sampai, kardus berisi perlengkapan keselamatan tersebut ia tempatkan di bagian belakang jok motor dan diikat tali rafia. Ia pun kemudian melenggang ke arah tempat pembayaran parkir dan meninggalkan LTC Glodok.

Pria asal Bekasi yang bekerja di salah satu proyek pembangunan gedung perusahaan swasta itu mengaku kerap mendapatkan perintah untuk membeli sejumlah peralatan yang akan digunakan pekerja proyek. Pakaian keselamatan kerja itu mencakup helm, rompi, dan sepatu bot. LTC menjadi tempat yang sering ia kunjungi untuk mendapatkan barang tersebut. “Di sini semua lengkap dan gampang dapat barang dibandingkan toko material biasa,” katanya, kemarin.

Begitu pun Fajar dari PT Bintang Delapan Mineral. Ia sudah menjadi langganan LTC sejak 2011. Perusahaannya bergerak di pertambangan nikel yang berlokasi di Morowali, Sulawesi Tengah. Fajar mengaku berbelanja di LTC bisa seminggu tiga kali. Barang-barang yang dicari, seperti selang, mesin genset, handy talky (HT), dan alat kimia. “Nilai sekali belanja saya di LTC kadang Rp80 juta dan yang terbesar baru-baru ini mencapai Rp100 juta,” ungkapnya. Tak mengherankan ia mendapat penghargaan dari LTC karena menjadi pelanggan setia.

Fajar suka belanja di LTC karena merasa nyaman. Ada AC dan bagian informasi sebagai tempat bertanya. Menurut Manajer Periklanan dan Industri LTC Glodok Hendry Trie Asmono, sekitar 45 ribu-50 ribu pengunjung memadati LTC setiap hari. Hal itu tentu berkebalikan dengan rumor yang berkembang saat ini bahwa pusat perdagangan elektronik Glodok mulai sepi pengunjung karena dihajar perdagangan elektronik (e-commerce).

Sekadar informasi, Glodok punya 11 kawasan perdagangan. Sebut saja Pinangsia yang fokus pada penjualan sanitari, Glodok Makmur menawarkan HT dan alat servis, Glodok Plaza memajang produk elektronik, dan Asemka menyediakan perlengkapan anak-anak. “Kalau di LTC bersifat beda karena yang dijual barang teknik. Seiring pembangunan infrastruktur yang semakin gencar oleh pemerintah, makin ramai juga LTC Glodok karena pembelian barang teknik perlu diuji coba, enggak bisa beli di e-commerce,” ujar Hendry. Pemilik toko di LTC pun masih dapat tersenyum bahagia. Tengok saja, pemilik Makmur Mandiri Penjualan bernama Yulia yang menjual alat listrik di lantai UG LTC Glodok.

Perempuan asal Tangerang, Banten, itu mengatakan tokonya tetap ramai pengunjung. Ia bahkan bersiap membuka cabang baru tahun depan untuk menjangkau pasar yang lebih luas. “Beberapa kali kami bahkan tidak bisa memenuhi permintaan konsumen karena barang kosong. Itu lebih karena ada kebijakan impor baru yang ketat dari pemerintah. Untuk peminat dan daya beli masih seperti biasa,” tutur perempuan yang memulai usaha tersebut pada 2013 tersebut.

Begitu pula Alex Suharly yang punya empat kios di LTC. Usahanya mengadakan alat-alat teknik. Ia menepis rumor bahwa perdagangan Glodok sepi. “Glodok yang mana dulu? Di LTC masih ramai pembeli kok,” bantah Alex yang juga Ketua Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun LTC Glodok. Ia menyebut bahwa omzet tokonya sehari bisa Rp10 juta. Bahkan, perhimpunan para pedagang LTC masih dapat memberikan sumbangan bagi korban erupsi Gunung Agung di Bali, baru-baru ini.

Kualitas pelayanan
Kondisi itu tampak berbeda dengan kawasan Pasar Glodok yang dikelola Perusahaan Daerah Pasar Jaya. Direktur Utama PD Pasar Jaya Arief Nasrudin secara implisit mengakui adanya penurunan kunjungan tersebut. Itu bukan semata karena e-commerce, melainkan makin banyaknya toko elektronik di sejumlah daerah suburban yang membuat konsumen tidak lagi perlu datang ke Glodok.

Namun, upaya untuk menarik pengunjung tetap dilakukan PD Pasar Jaya. Pihaknya saat ini sedang memperbaiki semua fasilitas di Pasar Glodok, mulai eskalator, AC, hingga cat dinding yang dibuat semarak. Kamila, pedagang grosir dan eceran yang menjual beragam aksesori seperti kalung, hiasan kepala, hingga manik-manik di pasar Asemka, mengaku punya strategi khusus agar tetap bisa menarik minat pembeli. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas pelayanan.

“Beli online dengan beli langsung ke toko tentu beda. Itu yang mesti kami pertahankan. Jangan sampai orang datang mau beli enggak jadi karena kami enggak ramah terus akhirnya memilih belanja online,” ujarnya, kemarin. (Mut/S-4)

Komentar