Ekonomi

Bank Dunia Serukan Fokus Pada Pembangunan Manusia

Kamis, 12 October 2017 22:50 WIB Penulis: Windy Dyah Indriantari, Laporan dari Washington, AS

(AP Photo/Andy Wong)

NEGARA-negara kelompok pendapatan menengah maupun rendah diminta lebih fokus pada investasi sumber daya manusia (SDM) yang meliputi pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial. Ketiganya paling berpengaruh dalam memangkas kesenjangan kesejahteraan sekaligus mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengemukakan hal tersebut dalam konferensi pers pembukaan Pertemuan Tahunan Dana Moneter InteRnasional (IMF)-Bank Duni 2017, di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (12/10) pagi waktu setempat.

Jim mengemukakan Bank Dunia telah melaksanakan studi membandingkan 20 negara teratas di peringkat teratas dalam kualitas SDM dan 20 negara terbawah dalam 25 tahun. Hasilnya, terdapat korelasi signifikan antara peningkatan kualitas SDM dan pertumbuhan ekonomi.

Negara-negara yang berada di peringkat teratas membukukan pertumbuhan ekonomi tambahan 1,2% per tahun. "Ini pengaruh yang sangat signifikan. Kami berkewajiban membagikan pengetahuan ini kepada negara-negara anggota," ujar Jim.

Menurut Jim banyak negara-negara berpendapatan menengah salah kaprah dalam menempatkan investasi. Mereka cenderung lebih memilih pinjaman Bank Dunia untuk dialokasikan ke infrastruktur fisik, seperti jalan.

Jim mengatakan pembangunan infrastruktur fisik juga penting, tapi jika kemudian pembangunan SDM terpinggirkan, sulit untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Di sisi lain, investasi yang besar di SDM tidak serta merta memberikan hasil positif. Hal itu tergantung pada efektivitas program investasi. Ia mencontohkan negara-negara kawasan Amerika Latin yang sudah lebih banyak mengalokasikan anggaran ke pembangunan SDM. Perancangan program yang kurang efektif membuat investasi belum cukup berdaya hasil.

Sebelumnya, dalam sebuah diskusi panel di ajang yang sama, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani menyatakan Indonesia dalam satu dekade terakhir telah mengalokasikan 20% belanja negara ke sektor pendidikan dan 5% ke sektor kesehatan. Namun, hasilnya masih jauh dari memuaskan.

"Masih banyak kasus stunting dan tidak meratanya kemampuan murid. Mencapai hasil baik dari alokasi dana yang lebih banyak di sektor pendidikan dan kesehatan tidak semudah yang dibayangkan," ujar Sri Mulyani.

Sri menyebut investasi SDM bukan semata soal uang. Di Indonesia, hasil yang diinginkan terganjal otonomi daerah. Layanan pendidikan didelegasikan ke pemda yang memiliki kemampuan dan komitmen pengelolaan yang bisa sangat timpang.

Untuk mengatasinya, kata Sri Mulyani, pemerintah Indonesia tengah mencari konsep program yang menghubungkan alokasi anggaran ke daerah dengan kinerja pengelolaan. Fokusnya pada penguatan kelembagaan pemerintah daerah.

Dana Moneter Internasional pada Rabu (10/10) memublikasikan proyeksi pertumbuhan tahun ini. Secara global, proyeksi pertumbuhan sedikit meningkat menjadi 3,6% dari proyeksi awal 3,5%. Indonesia masuk dalam lima besar negara ASEAN yang diperkirakan membukukan laju pertumbuhan di atas 5%, yakni 5,2%.

Proyeksi pertumbuhan itu lebih optimistis ketimbang Bank Dunia yang memprediksi Indonesia tumbuh 5,1%, turun dari proyeksi pada April 2017 yang ada di angka 5,2%. (X-12)

Komentar