Olahraga

Kekerasan kembali Nodai Sepak Bola

Jum'at, 13 October 2017 03:31 WIB Penulis: Satria Sakti Utama satria@mediaindonesia.com

ANTARA FOTO/Septianda Perdana

KEKERASAN suporter yang melibatkan aparat pertahanan negara kembali menyeruak ke publik. Pertandingan pada kompetisi Liga 2 2017 Persita Tangerang melawan PSMS Medan di Stadion Persikabo Kabupatan Bogor, Rabu (11/10), diakhiri dengan kericuhan. Suporter tuan rumah yang diramaikan masyarakat sipil terlibat perseteruan dengan pendukung tim PSMS Medan yang didominasi tentara dari kesatuan Divisi 1 Kostrad, Cilodong.

Akibat kerusuhan di luar lapangan seusai pertandingan tersebut, satu orang dari suporter Persita Tangerang dilaporkan meninggal di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), kemarin. Suporter bernama Banu Rusman, 17, meninggal karena mengalami pendarahan di otak setelah dipukul dengan balok di bagian kepalanya. Meninggalnya Banu merupakan korban ke-65 yang pernah dicatat dalam sejarah kelam sepak bola nasional.

Insiden ini seperti meng­ulang mimpi buruk yang lazim terjadi di sepak bola Indonesia. Belum lengang dari ingatan, suporter Persib Bandung Ricko Andrean yang meregang nyawa karena menjadi korban salah sasaran saat duel klasik Persib kontra Persija Jakarta pada akhir Juli lalu. Kemudian kasus suporter timnas Indonesia Catur Yuliantono yang juga meninggal dunia akibat terkena ledakan petasan saat menyaksikan timnas beruji coba melawan Fiji di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, awal September lalu.

Di sisi lain, kekerasaan suporter yang kembali terjadi ini seperti kutub berlawanan dengan harapan digelarnya acara Jumpa Suporter Sepak bola Nasional Indonesia yang dirancang PSSI. Bubuhan tanda tangan para pendukung klub Liga 1 dan Liga 2 belum menjadi jalan ampuh. Ketua Umum PSSI sekaligus Panglima Komando Stra­tegis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen Edy Rahmayadi berkomitmen akan mengusut tuntas aksi kerusuhan tersebut. Perwira bintang tiga itu menegaskan akan meng­hukum para personelnya yang terbukti bersalah meski dalam hal ini tidak sedikit anggota TNI juga mengalami cedera. “Saya pasti akan hukum. Ini akan saya cari tahu apa persoalannya,” jelas Edy.

Kekerasan yang melibatkan anggota TNI sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Pada periode akhir Mei silam, suporter PS TNI juga terlibat kerusuhan di markas Persegres Gresik United. Sebagai tindakan antisipasi, Edy pun akan melarang anak buahnya mendukung langsung di stadion. “Untuk sementara ini, tidak saya izinkan prajurit-prajurit (suporter militer) ini masuk ke stadion,” lanjutnya.

Kalender FIFA
Di sisi lain, PSSI tengah mengupayakan mengisi kalender FIFA pada periode 6-14 November. Menurut rencana, PSSI akan menggelar dua kali laga uji coba untuk timnas Indonesia senior yang sebelumnya gagal tercapai di periode Oktober ini. Untuk calon lawan, PSSI masih merahasiakan calon lawan untuk skuat Garuda--julukan Indonesia--saat ini. Seperti diketahui, kalender FIFA merupakan ajang bagi Indonesia untuk memperbaiki posisinya di rangking FIFA. Dua tahun vakum karena pembekuan, kini Indonesia berada di posisi 169. “Yang untuk 6 November masih berproses, tapi yang untuk 14 November sudah hampir jadi,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI Ratu Tisha Destria. (R-3)

Komentar