Internasional

Hamas-Fatah Raih Kesepakatan Rekonsiliasi

Jum'at, 13 October 2017 01:16 WIB Penulis: Haufan Hasyim Salengke haufan_hasyim@mediaindonesia.com

AFP/Kevin Hagen

DUA faksi utama Palestina yang berseteru, Hamas dan Fatah, telah mencapai kesepakatan mengenai aspek-aspek upaya mereka untuk mengakhiri perpecahan selama satu dekade dalam pembicaraan yang dimediasi Mesir. Rincian kesepakatan tersebut belum dirilis dan sebuah konferensi pers yang direncanakan, Kamis (12/10) siang waktu setempat, di ibu kota Mesir, Kairo, tempat pembica-raan telah berlangsung sejak Selasa (10/10).

Pertemuan di Kairo berpusat seputar pelaksanaan Kesepakatan Kairo 2011 antara kedua faksi politik itu dengan harapan dapat menga-khiri perpecahan politik 10 tahun. Seorang pejabat Fatah, faksi pimpinan Presiden Mahmoud Abbas, yang memerintah Tepi Barat, mengatakan Abbas berencana melakukan perjalanan ke Jalur Gaza sebagai bagian dari upaya persatuan, yang akan menjadi kunjungan pertamanya dalam satu dekade.

“Sanksi yang diterapkan Abbas terhadap Gaza yang dikuasai Hamas juga akan segera dicabut,” kata pejabat Fatah tersebut. Sementara itu, kantor Hamas yang dipimpin Ismail Haniya mengatakan dalam sebuah pernyataan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut, bahwa, “Sebuah kesepakatan dicapai hari ini antara Hamas dan Fatah di bawah sponsor Mesir.”

Seseorang yang terlibat dalam perundingan, yang berbicara tanpa menyebut nama, mengatakan kesepakatan itu memberi jalan bagi pasukan Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat dan didominasi Fatah, mengendalikan perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir. Dia menambahkan semua faksi Palestina akan memulai perundingan yang lebih luas mengenai pembentukan pemerintah bersatu dalam dua pekan mendatang.

Zakaria al-Agha, pemimpin senior Fatah di Jalur Gaza, mengatakan Abbas akan berada di Gaza dalam waktu kurang dari sebulan. Salah satu isu utama yang dibicarakan ialah tindakan hukuman yang diambil Abbas terhadap Gaza dalam beberapa bulan terakhir, termasuk mengurangi pengaliran listrik yang membuat penduduk di sana hanya hidup dengan beberapa jam listrik sehari. “Semua tindakan hukuman yang diberlakukan baru-baru ini akan segera berakhir,” ujar Agha.

Upaya Mesir
Kedua belah pihak telah bertemu di Kairo pekan ini dengan tujuan untuk mengakhiri perpecahan satu dekade yang melumpuhkan antara faksi-faksi yang berseteru.
Hamas merebut Gaza dari Fatah dalam sebuah perang pada 2007 dan kedua faksi sejak itu terlibat pertikaian mendalam. Beberapa pembicaraan rekonsiliasi sebelumnya telah gagal.

Mesir telah berusaha untuk meningkatkan keamanan di Semenanjung Sinai yang berbatasan dengan Gaza dan tempat kelompok bersenjata memberontak dengan waktu yang berlangsung lama. Seorang sumber Mesir yang dekat dengan perundingan tersebut mengatakan bahwa kepala intelijen Khaled Fawzi telah mengikuti pembicaraan itu dengan seksama.

Bulan lalu, Hamas setuju menyerahkan kekuasaan sipil di Gaza kepada Otoritas Palestina, namun nasib sayap militernya yang besar tetap menjadi isu penting bagi kedua belah pihak. Gerakan Hamas dimasukkan dalam daftar hitam sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dihadapkan dengan meningkat­nya isolasi dan kekurangan listrik yang parah, Hamas mencoba meminta bantuan Mesir dengan harap-an agar perbatasan Rafah dibuka. Area penyeberangan itu sebagian besar ditutup dalam beberapa tahun terakhir. (AFP/Aljazeera/I-2)

Komentar