Polkam dan HAM

MK Jamin Keamanan Semua Pihak Selama Persidangan

Kamis, 12 October 2017 17:03 WIB Penulis: Nur Aivanni

MI/ADAM DWI

MAHKAMAH Konstitusi (MK) menegaskan bahwa pihaknya menjamin keamanan bagi siapapun yang hadir selama sidang berlangsung. Hal itu ditegaskan Ketua MK Arief Hidayat saat menanggapi pernyataan dari Kuasa Hukum Pemohon dengan nomor perkara 48/PUU-XV/2017 Ahmad Khozinudin dalam sidang uji materi Perppu Ormas dengan agenda mendengarkan ahli dan saksi dari pemohon.

Saat itu, Khozinudin tengah menyinggung perihal Eggi Sudjana yang sekaligus Kuasa Hukum Pemohon nomor perkara 58/PUU-XV/2017 yang dilaporkan ke Kepolisian karena pernyataannya yang diduga menyampaikan ujaran kebencian. Berkaca dari kasus Eggi tersebut, Khozinudin meminta MK untuk memberikan jaminan hukum baik kepada pemohon maupun pihak-pihak yang dihadirkan di dalam sidang.

"Kami butuh, baik sebagai pemohon atau pihak-pihak yang hadir dalam perkara ini agar mendapat jaminan hukum untuk mengajukan argumen, pernyataan dan hal apapun yang terkait hal proses pengujian undang-undang," kata Khozinudin dalam persidangan, di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis (12/10).

Menanggapi itu, Arief menegaskan bahwa siapapun yang hadir selama sidang berlangsung, MK menjamin keamanan mereka. Namun, sambungnya, MK tidak memiliki kewenangan untuk menjamin keamanan saat berada di luar sidang.

"Kalau yang di luar kita tidak bisa menjamin. Tapi selama ada persidangan di sini, semua yang hadir di sini dijamin keamanannya," terang Arief.

Kuasa Hukum dari Pemohon 50/PUU-XV/2017 Rangga Lukita Desnata yang sekaligus pengacara dari Eggi Sudjana yang dilaporkan ke Kepolisian pun angkat bicara. Ia meminta jaminan kepada MK atas wawancara MK Tv kepada Eggi yang berujung dilaporkan ke Kepolisian. Atas hal itu, Arief pun mempertanyakan kembali apakah wawancara Eggi tersebut bagian dari persidangan atau di luar persidangan.

"Wawancara pas di depan pintu untuk bertanya mengenai apa yang menjadi substansi perkara dan apa yang disampaikan di persidangan," jawab Rangga. Menanggapi itu, Arief menekankan bahwa pernyataan di luar persidangan bukan kewenangan MK.

Ketika sidang akan disudahi, Khozinudin kembali angkat bicara. "Substansi yang hendak kami sampaikan. Jika para pemohon-pemohon ini tidak memperoleh proses yang adil dalam prosesnya kami khawatir ini akan mempengaruhi...," kata dia yang langsung disela oleh Arief. Arief mempertanyakan apa maksud dari kata tidak adil yang disampaikan Khozinudin tersebut.

Khozinudin agak sempat berbelit-belit dalam menjawab hal itu. Ia mengatakan bahwa pernyataannya tersebut hanya berupa pengandaian. "Apa yang dimaksud tidak adil itu? Ini Anda kalau statement juga hati-hati loh ya, apa yang dimaksud tidak memperoleh proses keadilan," kata Arief dengan nada cukup tinggi.

Arief pun mengingatkan kepada Khozinudin untuk tidak berandai-andai dalam sidang yang kemudian akan berdampak pada citra MK yang dinilai tidak adil kepada para pemohon.

"Yang menjadi persoalan adalah itu di luar kemudian, kami mendapat perlakuan yang tidak adil, misalkan Doktor Eggi Sujana, saya pikir perlu imbauan umum dari yang mulia karena segala hal yang berkaitan dengan proses ini mendapat jaminan hukum sehingga pihak-pihak lain yang akan dihadirkan dalam proses ini merasa aman dan nyaman," terang Khozinudin kembali.

Arief pun meresponsnya dengan menanyakan kepada pihak pemerintah, pihak terkait dan tamu yang hadir dalam sidang tersebut apakah mereka merasa aman atau tidak berada dalam persidangan. Mereka pun merespons dengan jawaban aman. "Gimana Saudara bisa prejudice (prasangka) kaya gitu," ucap Arief.

Sidang yang berlangsung sekitar 13 menit tersebut akhirnya ditutup. Awalnya, agenda sidang tersebut adalah mendengarkan keterangan saksi dan ahli dari pemohon nomor perkara 48/PUU-XV/2017. Dua ahli yang dihadirkan adalah Asep Warlan Yusuf dan Heru Susetyo. Namun, keduanya berhalangan hadir saat itu. Dua saksinya pun tidak bisa hadir.

Usai persidangan, Khozinudin membantah bahwa ketidakhadiran ahli dan saksinya lantaran takut nasibnya akan sama seperti Eggi Sudjana yang dilaporkan ke Kepolisian. Dua ahli tersebut memang memiliki agenda lain yang bersamaan dengan agenda sidang. Sementara, dua saksi yang tidak hadir, ia mengaku tidak tahu apa alasannya.(OL-3)

Komentar