Megapolitan

Keterbatasan Data Bawah Tanah Kota Tua Jadi Kendala MRT Bangun Fase II

Kamis, 12 October 2017 16:52 WIB Penulis: Yanurisa Ananta

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta mengaku kebingungan memulai konstruksi Fase II rute Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat hingga Kampung Bandan, Jakarta Utara. Pasalnya, tidak ada yang tahu konstruksi bawah tanah di area Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, dan Kawasan Kota Tua, sekalipun Dinas Pariwisata DKI Jakarta.

Direktur Konstruksi PT MRT Silvia Halim mengatakan hal itu berbeda dengan yang terjadi di Kyoto, Kairo, dan Istanbul. Pengerjaan proyek kereta bawah tanah di ketiga kota itu mampu dilakukan dengan aman karena pemerintah di sana mengantongi data ada apa konstruksi di bawah tanah lokasi yang di atasnya terbangun bangunan tua, sehingga antisipasi bisa dilakukan lebih dini.

“Di Jakarta tidak ada yang tahu bagaimana konstruksi di bawah Kota Tua, sehingga kita mesti sangat hati-hati dalam pelaksanaannya,” kata Silvia Halim di Gedung Wisma Nusnatara, Rabu (11/10).

Fase II pengerjaan MRT akan membentang sepanjang 8,3 kilometer dari Bundaran HI hingga Kampung Bandan. Keseluruhan pembangunan akan dilakukan di bawah tanah. Hal itu mengkhawatirkan, sebab sifat tanah lebih cair dan bangunan di atasnya terbilang tua.

Berbeda dengan Fase I di mana kondisi tanah lebih bagus dan gedung-gedung yang terbangun terbilang baru. Pihak MRT pun sudah melakukan pembicaraan dengan Tim Cagar Budaya Dinas Pariwisata. Dari pembicaraan itu pihak Dinas Pariwisata DKI meminta ada tim ahli yang melihat langsung proses pembangunan bawah tanah.

“Dinas Pariwisata DKI meminta kami untuk membolehkan ada tim dari cagar budaya untuk terjun langsung dalam proses pembangunan. Supaya ketika ditemukan benda-benda bersejarah bisa diamankan,” jelas Silvia.

Pembangunan pun perlu lebih berhati-hati karena di sepanjang terowongan MRT ada Kali Molenvliet. Tipe tanah yang basah akan mempengaruhi kelancaran dalam pembuatan terowongan. Konstruksi bawah tanah serta utilitas yang ada di bawah tanah wajib menjadi perhatian MRT.

Akibatnya, bukan tidak mungkin MRT perlu berkunjung ke Belanda, sebab Belanda yang memiliki peta bawah tanah di masa lalu, bukan DKI Jakarta.

“Ya mau tidak mau, bukan tidak mungkin kita harus cari peta bawah tanah di Kota Tua. Dan yang punya itu semua ya Pemerintah Belanda,” tutur Silvia.

Kendati demikian, anggota tim cagar budaya Pemprov DKI, Chandriyan Attahiyat mengatakan mekanisme pengeboran yang akan dilakukan diakui akan sulit diamati. Pengeboran dikhawatirkan menyebabkan patahan pada material arkeologi yang mengakibatkan tidak terlacaknya fungsi dari benda bersejarah itu dan sejak kapan benda itu ada di bawah tanah.

“MRT tetap meminta Pemprov DKI untuk membahas bersama para arkeologi,” katanya.

Namun demikian, menurut Chandriyan opsi pemindahan Kali Molenvliet untuk sementara saat masa konstruksi tidak perlu dilakukan. Pasalnya, rencananya MRT yang akan membangun terowongan dengan kedalaman 20 meter dikatakan masih pada level yang tidak akan mengganggu struktur kali yang ada di atas. (OL-6)

Komentar