Ekonomi

Membumikan Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi

Kamis, 12 October 2017 15:52 WIB Penulis: Puji Santoso

FOTO ANTARA/Rosa Panggabean

WAHYUDI Aulia Siregar (32) mengaku kebingungan menerima materi workshop tentang industri perdagangan bursa berjangka komoditi di sebuah hotel berbintang di Medan, Sumatra Utara. Jurnalis sebuah media daring di Medan ini, merasa tidak pernah melakukan peliputan mengenai industri ini, sehingga dirinya menemui kesulitan ketika mencerna proses perdagangan bursa berjangka.

"Kalau saya saja bingung, saya khawatir pembaca saya juga ikut kebingungan jika saya harus menulis tentang industri ini, tanpa saya dalami terlebih dahulu," ujar Wahyudi. Dia tidak sendirian. Sejumlah jurnalis lainnya yang mengikuti workshop ini juga merasakan hal yang sama dengan Wahyudi.

Fakta tadi merupakan pernak-pernik sebuah workshop tentang perdagangan bursa berjangka komoditi yang diselenggarakan perusahaan pialang PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) bekerja sama dengan Jakarta Futures Exchange (JFX) dan PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) yang dikhususkan untuk 20 awak media akhir pekan lalu di Medan.

Mendalami liputan tentang ekonomi, terutama industri perdagangan bursa berjangka komoditi memang sebuah keharusan bagi seorang jurnalis yang generalis, jika tidak ingin medianya ditinggalkan para pembacanya.

Bagi sejumlah perusahaan pialang, maupun pihak (JFX) dan PT KBI, workshop ini merupakan salah satu upaya mereka memperkenalkan sekaligus membumikan industri dan bisnis perdagangan berjangka komoditi yang keberadaannya mungkin tidak sepopuler PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kepada masyarakat luas melalui media.

BEI sendiri adalah wadah atau suatu pasar terorganisir untuk transaksi saham yang diterbitkan oleh emiten dan terdaftar secara publik (publiclyenlisted). Selain BEI ada pula PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), yaitu wadah transaksi untuk kontrak berjangka (futures contract).

Secara umum BBJ adalah pasar terorganisir untuk produk derivatif, yaitu produk turunan dalam ranah keuangan dan investasi, misalnya migas, emas, hasil bumi, dan lainnya. Head Coorporate Secretary Jakarta Future Exchange (JFX), Tumpal Sihombing, menjawab Media Indonesia di Medan mengakui bahwa kalangan jurnalis menjadi sasaran utama bagi mereka dalam rangka memberikan edukasi dan sosialisasi terhadap industri ini.

"Semakin pusing dan kebingungan kawan-kawan media dalam memahami industri ini, justru membuat kami akan semakin mudah memberikan pemahaman kembali mengenai materi ini. Kami bersyukur bahwa itu artinya teman-teman media benar-benar memperhatikan seluk beluk bisnis perdagangan berjangka komoditi ini," ujar Tumpal.

JFX sendiri merupakan bursa berjangka pertama di Indonesia yang didirikan tahun 1999 dengan landasan untuk membawa manfaat besar bagi komunitas bisnis dan sebagai sarana lindung nilai.

Kehadiran JFX dilandasi oleh Undang-undang Nomor 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. JFX berperan sebagai penyedia fasilitas bagi para anggotanya untuk melakukan transaksi kontrak berjangka berdasarkan harga yang ditetapkan melalui interaksi yang efisien berdasarkan permintaan dan penawaran dalam sistem perdagangan elektronik.

Dan setelah mencermati relatif rumitnya proses dan alur perdagangan bursa berjangka komoditi ini, memang diakui belum banyak masyarakat luas dari kalangan pebisnis, terutama di tingkat lokal Sumatra Utara yang antusias melakukan perdagangan berjangka komoditi dengan memanfaatkan BBJ maupun KBI.

Direktur Utama BBJ, Stephanus Paulus Lumintang, mengatakan kepercayaan masyarakat terhadap industri perdagangan berjangka komoditi (PBK) hingga kini masih tetap tinggi. Namun adanya beberapa kasus, seperti maraknya investasi bodong, membuat pihaknya harus bekerja keras memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap industri ini.

"Saat ini dinamika industri perdagangan berjangka komoditi masih memiliki potensi yang besar untuk berkembang dan memberi kontribusi bagi perekonomian Indonesia. Begitupun perlu adanya edukasi yang konsisten dan intensif terhadap masyarakat, media, maupun kalangan perguruan tinggi untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap industri ini," ujar Stephanus kepada wartawan pada kesempatan terpisah di Medan.

Chief Busines Officer RFB, Teddy Prasetya Rifan menyambut baik usulan tentang sosialisasi dan edukasi untuk mengembalikan citra positif industri PBK ini, setelah beberapa kali terjadi kasus investasi bodong yang merugikan masyarakat. Penipuan berkedok PBK, sampai kini dinilai masih marak terjadi di Indonesia. Hal itu disebabkan oleh masih kurangnya pemahaman masyarakat atas investasi jenis ini.

"Harus diakui, masyarakat masih awam dengan PBK sehingga perlu sosialisasi apalagi ada citra negatif yang melekat di kalangan pelaku perusahaan pialang,"kata Teddy.

Sebagai pelaku di industri PBK dan anggota dari BBJ serta Kliring Berjangka Indonesia (KBI), Teddy dan perusahaan pialang yang dipimpinnya merasa perlu mengembalikan citra positif industri ini.

"Kami melakukan sosialisasi dan edukasi, dimulai dari rekan-rekan media sebagai corong informasi. Sebab, kalau mengandalkan karyawan kami meskipun jumlahnya sekitar tiga ribuan, tidak cukup kalau kami harus bekerja sendirian. Media lah menjadi andalan kami agar industri PBK ini benar-benar dipahami di masyarakat," ujarnya.

Upaya membumikan PBK ini, Tumpal Sihombing menambahkan, pihaknya melakukan kerja sama dengan kalangan kampus di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (FE USU). "Ada program di kampus USU yang kami beri nama Futures Trading Learning Centre (FTLC). Di situ siapa saja boleh mengetahui seluk beluk industri PBK ini," ujarnya. (OL-3)

Komentar