Sepak Bola

Polemik Baru Melanda Liga 2

Kamis, 12 October 2017 11:48 WIB Penulis: Satria Sakti Utama

ANTARA/BUDI CANDRA SETYA

BELUM juga hilang dari ingatan ancaman mogok 15 klub kompetisi Liga 1, PSSI sekaligus PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) dihantam polemik baru. Problem kali ini lebih rumit karena berkaitan dengan pemahaman berbeda antara PSSI dan PT LIB dalam memandang regulasi.

Permasalahan berawal dari penentuan klasemen Grup 6 kompetisi Liga 2. Dua tim, yaitu Persewangi Banyuwangi dan PSBK Blitar, saling klaim lolos ke babak play-off untuk bertahan di Liga 2 musim depan. Kedua tim sama-sama meraih 18 poin dan secara regulasi penetuan peringkat harus dilakukan dengan head to head (pertemuan kedua tim).

Dalam regulasi Liga 2 Pasal 16 poin 5 memang tidak dijelaskan secara gamblang aturan head to head yang dimaksud. PT LIB condong ke meloloskan Persewangi Banyuwangi yang unggul selisih gol setelah secara head to head saling mengalahkan. Persewangi pun sampai ikut pengundian babak play-off pada 18 September oleh PT LIB.

Di sisi lain, PSBK Blitar menilai aturan head to head seharusnya sejalan dengan format agregat gol. Jika dilihat dengan format tersebut, PSBK Blitar pantas mendapatkan tiket play-off karena unggul agregat 3-2 dari dua kali pertemuan di Grup 6.

PSBK lantas mengajukan protes ke Badan Arbitrase Olahraga Republik Indonesia (BAORI) yang kemudian direspons PSSI dengan digelarnya pertandingan ulang di tempat netral pada 10 Oktober.

“Kewenangan murni di federasi (PSSI). Saya tidak menyatakan itu profesional atau tidak karena di setiap negara berbeda. Itu keputusan PSSI dan posisi PT LIB menjalankan. Kita berharap menjadi pembelajaran untuk semua bahwa pemahaman regulasi harus dipegang baik-baik,” ujar Chief Operating Officer (COO) PT LIB Tigor Shalomboboy di Jakarta, kemarin.

Pertandingan ulang pun digelar di Stadion Kanjuruhan. Namun, pertandingan tidak berakhir penuh karena di menit ke-86 dihentikan setelah terjadi kericuhan dengan skor 1-0 untuk keunggulan PSBK. Belakangan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI memutuskan untuk menghukum ‘Laskar Blambangang’--julukan Persewangi Banyuwangi--dengan kalah 0-3 dan denda Rp100 juta setelah menolak melanjutkan permainan.

Sanksi itu membuat CEO Persewangi Banyuwangi, Hari Wijaya, siap melawan. “Ini bukan lagi dizalimi, tapi kami sudah berkali-kali dihajar seperti ini. Kami tidak terima semua ini. Setelah dari Malang, kami akan konsolidasi suporter untuk meminta keadilan ke Jakarta,” ujar Hari.

Gelar sidang
PSSI belum memberikan respons terkait dengan kepastian status kedua tim karena masih menunggu sidang kedua mengenai pelanggaran disiplin saat pertandingan. Jika merunut hasil Komdis PSSI, Persewa-ngi Banyuwangi akan terdegradasi ke Liga 3. Sebaliknya PSBK berhak meraih satu tiket babak play-off, mengisi Grup H bersama PSIM Yogyakarta, Persipur Purwodadi, dan PSCS Cilacap.

“Kita masih akan bersidang untuk kedua kali. Untuk informasi agar lebih jelas menunggu hasil sidang agar menjaga kebenaran informasi,” tutur Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria. (R-1)

satria@mediaindonesia.com

Komentar