Ekonomi

Reformasi Hukuman Mati Singapura Dinilai Cacat

Kamis, 12 October 2017 06:31 WIB Penulis: (AFP/Hym/I-2)

AFP

LEMBAGA hak asasi manusia (HAM), Amnesty International (AI), Rabu (11/10), mengatakan reformasi Singapura terkait penerapan hukuman mati cacat. Mereka menyebut beberapa pelaku kejahatan narkoba tingkat rendah dikirim ke tiang gantungan. Setelah bertahun-tahun mendapat kritik dari kelompok HAM, negara kota itu pada 2013 memperlonggar syarat wajib penerapan hukuman mati dalam beberapa kasus perdagangan dan pembunuhan terkait narkoba.

Perubahan itu memberikan hakim diskresi untuk menjatuhkan hukuman seumur hidup dan bukan hukuman mati dalam kasus tertentu.
Dalam sebuah laporan baru, AI mengakui jumlah orang yang dikirim ke tiang gantung-an telah menurun. Namun, lembaga itu menambahkan pengadilan masih memberlakukan hukuman mati.

“Reformasi yang diperkenalkan pada 2013 merupakan langkah yang tepat membiarkan beberapa orang lolos dari tiang gantungan. Masalahnya, hal itu telah cacat sejak awal,” kata Chiara Sangiorgio, penasihat hukuman mati AI. Setelah perubahan itu, hakim dapat menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup pada kurir obat-obatan yang bersikap kooperatif selama penyelidikan.

Namun, AI mengatakan keputusan mengenai siapa yang memenuhi kriteria tersebut berada di tangan jaksa penuntut umum dan bukan hakim. Penetapan itu juga berlangsung ‘di balik pintu tertutup dalam proses yang gelap dan tidak transparan’. Kelompok tersebut mengatakan mayoritas orang yang dijatuhi hukuman mati karena pelanggaran narkoba dalam empat tahun terakhir memiliki jumlah narkotika yang relatif sedikit. Banyak yang mengatakan mereka terdorong karena masalah pengangguran atau utang. “Singapura suka menggambarkan diri mereka sebagai anutan yang makmur dan progresif. Namun, penggunaan hukuman mati menunjukkan ketidakpedulian terhadap kehidupan manusia,” kata Sangiorgio.

Ia mendesak pemerintah ‘Negeri Singa’ itu untuk meng-akhiri hukuman mati segera dan untuk selamanya. AI mengatakan 17 hukuman mati telah dijatuhkan dalam tiga tahun terakhir karena kasus pembunuhan dan narkoba. Sebanyak 10 terpidana berakhir di tiang gantung. (AFP/Hym/I-2)

Komentar