Ekonomi

Kegiatan Usaha Tetap Menggeliat

Kamis, 12 October 2017 05:45 WIB Penulis: Jessica Sihite Jessica@mediaindonesia.com

ANTARA FOTO/Didik Suhartono

KEGIATAN usaha pada kuartal III 2017 tetap menggeliat meski pertumbuhannya tidak sebagus kuartal sebelumnya. Menurut survei Bank Indonesia, hal itu tecermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) kegiatan usaha yang sebesar 14,32%, lebih rendah jika dibandingkan dengan di kuartal II 2017 yang mencapai 17,36%.
‘Secara sektoral, peningkatan kegiatan usaha terindikasi pada seluruh sektor ekonomi dengan peningkatan terbesar pada sektor jasa, keuangan, realestat, dan jasa perusahaan yang memiliki SBT 3,18%,’ tulis BI dalam laporan yang dirilis Rabu (11/10).

Sejalan dengan peningkatan kegiatan usaha, tingkat penggunaan tenaga kerja pada kuartal III 2017 meningkat dengan SBT 0,13% meskipun lebih rendah daripada kuartal II 2017 yang sebesar 4,23%. Dari sisi keuangan, BI melaporkan kondisi likuiditas dan rentabilitas dunia usaha pada kuartal III 2017 tetap baik dengan akses pada kredit perbankan yang relatif lebih mudah. BI juga optimistis pertumbuhan kegiatan usaha pada kuartal IV 2017 diperkirakan tetap positif, terindikasi dari SBT sebesar 7,63%.
Terkait dengan niaga, Presiden Joko Widodo mengingatkan Kementerian Perdagangan untuk mengantisipasi pergeseran perdagangan dari offline ke online.
“Perubahan digital sudah tidak bisa dilawan, tapi harus dirangkul. Kemendag harus antisipasi hal ini,” ucap Jokowi saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) 2017 di Tangerang, Banten,Rabu (11/10).

Menurutnya, perdagangan daring (online) sudah mesti dimanfaatkan untuk meningkatkan perdagangan nasional. Ia mencontohkan virtual showroom. Konsep itu bisa membuat waktu dan biaya calon pembeli (buyer) lebih efisien ketimbang mendatangi pameran atau expo tiap tahunnya.

Benahi pajak
Di kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan toko offline tetap dibutuhkan meski gaya belanja masyarakat sudah mulai beralih ke online. Ia pun tak memungkiri sudah terjadi persaingan tidak sehat antara perdagangan online dan offline lantaran adanya perbedaan perlakukan, terutama dalam hal perpajakan. Karena itu, pemerintah saat ini masih menggodok aturan yang adil bagi seluruh pedagang, tetapi tidak mematikan investasi di sektor tersebut.

“Keseimbangan ini yang sedang dirumuskan. Kita pasti akan libatkan dunia usaha karena kita percaya dunia usaha lebih tahu apa yang di-alaminya,” imbuh Enggar.
Sementara itu, guna menyiasati perkembangan dalam industri ritel, PT Matahari Department Store Tbk menggandeng kerja sama dengan Walt Disney wilayah Asia Tenggara untuk menghadirkan produk dan pengalaman berbelanja dengan brand Disney. Pihak pengelola Matahari masih melihat peluang cukup besar di industri ritel meski mereka harus beradaptasi dengan penjualan online.

“Tetap ada pengalaman berbelanja offline, seperti suasana dan interaksi yang tidak akan didapatkan saat berbelanja online,” ujar Merchandising, Marketing & Store Operation Director of PT Matahari Department Store Tbk Christian Kurnia. Dalam kondisi perekonomian yang cenderung lesu, imbuh dia, perusahaannya masih bisa tumbuh. “Tahun ini kita rencanakan bisa membuka 6-8 toko baru. Sudah tercapai 4 toko. Setelah Lebaran ini kami akan buka 3 lagi sehingga total menjadi 158 toko,” ujarnya, kemarin. (Try/E-2)

Komentar