Humaniora

OPSI Diharapkan Tularkan Budaya Penelitian Siswa

Rabu, 11 October 2017 22:14 WIB Penulis: Syarief Oebaidillah

Ist

DIREKTORAT Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan SMA kembali menggelar Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2017 yang diikuti 173 pelajar finalis hasil seleksi dari seluruh provinsi untuk unjuk kemampuan melalui riset dan penelitian terbaik mereka.

Acara yang berlangsung 9-14 Oktober 2017 di Kota Malang, Jawa Timur, itu resmi dibuka Dirjen Dikdasmen Kemendikbud, Hamid Muhammad, pada Selasa (10/10). Hamid berharap, OPSI menjadi salah satu wadah aktivitas positif dalam menularkan virus penelitian dan budaya penelitian di kalangan siswa.

Direktur Pembinaan SMA Ditjen Dikdasmen Kemendibud, Purwadi Sutanto, kepada Media Indonesia, Rabu (11/10), mengutarakan, OPSI yang digelar sejak 2008 merupakan agenda penting Direktorat Pembinaan SMA sebagai wadah penyaluran bakat dan minat sekaligus menjadi ajang seleksi karya-karya penelitian unggul dan mampu bersaing di level penelitian dunia internasional.

Terbukti, beberapa tahun belakangan, siswa-siswa hasil seleksi OPSI mampu berbicara di olimpiade penelitian internasional dengan selalu berhasil membawa pulang medali.

"'Virus' penelitian yang ditebarkan para finalis di OPSI 2017 ini kami harapkan mampu menjadi motivasi yang menular, sehingga wabah penelitian dapat menyebar ke seluruh sekolah," kata Purwadi.

Melalui OPSI juga, lanjut dia, para peserta didik tidak kesulitan mencari saluran bakat, minat, dan kemampuan mereka di bidang penelitian. Dari situ lah diharapkan kegiatan meneliti akhirnya menjadi budaya di kalangan siswa.

Ia menjelaskan, OPSI menepis anggapan bahwa meneliti itu aktivitas yang membosankan, sehingga minim siswa yang berminat. Sebaliknya, sepanjang pelaksanaannya hingga tahun ke-10 ini, jumlah siswa dan sekolah yang mendaftar memperlihatkan grafik peningkatan.

Kasubdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan SMA Dikdasmen Kemendikbud, Suharlan, menambahkan, seiring waktu berjalan, OPSI menjadi ajang yang semakin banyak dilirik para peserta didik setiap tahunnya. Sebuah sinyal positif yang menggambarkan semakin menyebarnya 'virus' meneliti di kalangan siswa. Meneliti tidak kalah seru dan mengasyikkan jika dibandingkan dengan bidang hobi lain, seperti seni dan olahraga.

"Dari tahun ke tahun peminatnya terus meningkat. Untuk tahun ini sebanyak 2.092 peserta yang mendaftar. Dari jumlah itu, akhirnya masuk 1.207 naskah yang kemudian harus diseleksi lagi, mengerucut hingga akhirnya terpilih 90 naskah terbaik dari 173 finalis untuk maju ke OPSI 2017," ungkap Suharlan.

Menurut dia, dari 90 karya penelitian para anak bangsa yang lolos pada OPSI kali ini bisa dilihat pada booth demi booth yang memenuhi ruang Theatre Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga menjadi lokasi pembukaan OPSI yang diikuti pelajar SMA dan Madrasah Aliyah (MA) ini.

Jajaran booth yang tampil dengan ciri khas masing-masing provinsi peserta memperlihatkan cermin keberagaman budaya yang melebur menjadi semangat kebangsaan, keberagaman, dan kebinekaan Indonesia yang bersatu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan OPSI dahulunya lebih dikenal dengan sebutan Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) yang dimulai pada 1977 hingga 2008. LPIR kemudian berganti menjadi OPSI pada 2009. OPSI merupakan wahana pengembangan dan kompetisi bagi siswa SMA dan MA, yang bertujuan memotivasi siswa dalam penelitian dan mengembangkan penelitian agar bermanfaat bagi khalayak.

Transformasi mekanisme pengelolaan OPSI yang awalnya masih menggunakan metode konvensional yaitu dengan pengiriman naskah melalui pos, sekarang dialihkan dengan metode daring (online).

"Keberadaan teknologi memungkinkan terjadinya pelipatgandaan kecepatan eksponensial, memperpendek mata rantai administrasi, tetapi tetap menggunakan standar mutu yang diharapkan," imbuh dia.

Pemenang OPSI 2017 selanjutnya akan dipanggil untuk mengikuti tahap pembinaan dan seleksi kompetisi penelitian tingkat internasional pada 2018 mendatang.

"Dari sini telah banyak lahir anak bangsa yang membuka mata dunia tentang prestasi anak anak Indonesia," pungkas Suharlan. (OL-2)

Komentar