Humaniora

Buku buat Merintis Cita-Cita

Kamis, 12 October 2017 03:01 WIB Penulis: DOK PRIBADI

DOK PRIBADI

PEREMPUAN kelahiran Aceh Utara, Alfiatunnur atau lebih akrab disapa Dedek, berkisah tentang motivasinya telibat dalam pelbagai kegiatan sosial. Awalnya untuk membantu korban tsunami. Namun, kegiatan berkontribusi sejak di bangku sekolah menyadarkannya anak-anak Aceh kurang memiliki wadah menyalurkan bakat mereka. Dedek yang tumbuh dari daerah konflik menyaksikan begitu banyak kekejaman dan penindasan mempersempit akses pendidikan. Pembakaran sekolah terjadi di mana-mana.
“Saya ingat dulu, saat masih kuliah, dalam perjalanan dari Aceh Utara ke Banda Aceh, mobil yang saya tumpangi ditembaki, sampai kami harus tiarap dan masuk ka parit. Nah, itu pernah saya rasakan. Begitu berat perjuangan mendapatkan pendidikan,” kata dia.

Ia pun menjadi saksi mayat dibawa di atas becak hingga para lelaki yang kesulitan mencari penghidupan. Ia pun bertekad mengubah Aceh menuju ke arah lebih baik lewat pendidikan.

Tantangan Aceh kekinian
“Dulu tertekan karena konflik, setelah tsunami ada pergeseran nilai, remaja tumbuh lebih konsumtif, terutama dengan banyaknya dana asing. Jadi mindset yang harus diubah. Ada NGO yang memberikan dana for free, bahkan ketika membersihkan rumah sendiri, sangat merusak mental. Ini sebenarnya sangat menyimpang jauh dari khazanah Aceh,” paparnya.

Ia pun menggagas TBM Ar Rasyid sebagai tempat orang luar Aceh bisa belajar budaya dan warga lokal pun terus mendalami bahasa dan budayanya. Pendidikan, tanpa ekonomi, kata Dedek, tidak seimbang. Akan tetapi, ketika pendidikan baik, biasanya ekonomi meng­ikuti. “Saya benar-benar ingin melihat perubahan di dunia pendidikan dan mengubah mindset sehingga saya fokus pada isu pendidikan, perempuan, anak, juga pemberdayaan ekonomi,” tegasnya.

“Saat ini kami juga menampung anak-anak korban kekerasan seksual. Jadi saya menginginkan mereka melupakan kejadian lalu, dengan melakukan kreativitas dan berusaha maju,” kata dia. Di TBM Ar Rasyid, anak-anak korban kekerasan seksual disekolahkan, dibim­bing belajar agama, serta mengasah kretivitas.
“Membaca 24 jam, juga meng­aplikasikannya. Jadi anak-anak dibebaskan menciptakan inovasi. Pintar membaca tanpa mengaktualisasikannya itu nol,” jelas Dedek.

Baca lalu keliling dunia
Dedek mencontohkan seorang anak asuhnya kini telah menjadi tutor di Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Aceh (Yakesma) sembari melakukan budi daya ikan serta kuliah kelautan dan perikanan. “Kuliah di perikanan juga berawal dari dia baca, hingga tertarik membuat kolam ikan,” jelasnya. Berkaca pada pengalaman priba­dinya, terlahir dari keluarga ulama, dengan bacaan ia punya mimpi keliling luar negeri. Meski berasal dari perdesaan, ia terus memupuk dan menjaga mimpi itu.

“Jika ada tamu dari Amerika saya suka mencari tahu tentang Amerika, jadi semua berawal dari mimpi,” lanjut Dedek. Nyatanya, setelah tsunami mimpinya mulai terealisasikan. Ia berkeliling Amerika dan Australia untuk presentasi. “Sebanyak 90% mimpi saya sejak kecil tercapai dengan buku,” pungkasnya. (FD/M-1)

Komentar