Humaniora

Dari Literasi, Aceh Berdaya

Kamis, 12 October 2017 02:45 WIB Penulis: FERDIAN ANANDA MAJNI ferdian@mediaindonesia.com

FOTO: DOK PRIBADI

KONFLIK berkepanjangan menyusul tsunami di Aceh telah mengakibatkan bumi serambi Mekah tertinggal jauh bila dibandingkan dengan provinsi lainnya. Mata dunia tertuju ke Aceh, bantuan masih terus mengalir di segala bidang, baik kesehatan, ekonomi, pendidikan, maupun infrastruktur. Sejak saat itu, atas bantuan lembaga donor asing, LSM-LSM lahir menjembatani. Begitu pula taman baca masyarakat (TBM) Ar Rasyid, yang berdiri pada 2009 yang dirintis perempuan relawan pendidikan, perempuan, dan anak itu. Ia pun mendirikan Youth Centre di Aceh serta menjadi Ketua Yayasan Kesejahtera­an Masyarakat Aceh (Yakesma) yang dibentuk bersama Rotary International District 3400.

Kepada Media Indonesia, Senin (9/10), Alfiatunnur alias Dedek mengatakan, saat tsunami melanda, anak-anak disembuhkan, salah satunya dengan trauma healing dari buku. Setiap hari, ia berkeliling membawakan buku, boneka, puzzle, serta berbagai donasi yang bisa didistribusikan. “Menggunakan kendaraan, kami berpindah-pindah, sampai 2006, hingga akhirnya menempati rumah sewa di Banda Aceh,” sebutnya.

Namun, selain itu, didirikan pula pojok-pojok membaca dengan memberdayakan masyarakat setempat sebagai pengelola. Ia juga mulai dibantu Warung Baca Indonesia dari Jakarta yang menyuplai buku dan bantuan dari gerak­an Indonesia Membaca. “Di TBM Ar Rasyid sendiri, ada lima anak korban tsunami, satu di antaranya yatim piatu yang tinggal dan ikut mengelola,” kata dia.

Lokasi itu menjadi bagian dari lahan milik Yakesma yang totalnya 9 hektare, di sana juga terdapat ruang serbaguna, PKBM, PAUD, asrama, rumah sakit, lapangan futsal, kebun, dan musala. Pembangunannya didanai Rotary International District 3400. “Bupati Aceh Utara saat itu, Tarmizi A Karim, melalui Keputusan Bupati Aceh Utara Nomor 012/521/2005 memercayakan pinjam pakai tanah milik Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di Kabupaten Aceh Besar kepada Rotary Club D3400 yang di dalamnya dibangun Youth Center. Rotary memberikan dana dengan syarat harus ada tanah untuk pembangunan,” tuturnya.

Tantangan
Meskipun sudah menempati gedung permanen, tidak serta perjalanannya mulus. Bahkan, tantangan tak terbilang. Sekolah gratis yang didanai Australia harus tutup karena tidak mendapatkan izin operasional pemerintah Aceh sehingga bantuan dialihkan ke Sri Lanka. “Pada 2012, kami membangun sekolah gratis, selama tiga tahun berdiri tidak mendapatkan izin dan akhirnya tutup. Bahkan anak asuhnya juga mendapatkan diskriminasi, dia menang kaligrafi tingkat kecamatan tetapi tidak mendapatkan izin untuk ikut lomba tingkat kabupaten,” terangnya.

Namun, khusus untuk TBM, langkahnya tak terbendung. TBM-TBM baru dicetak dengan mendistribusikan buku ke Singkil, Pulau Banyak, Meulaboh, Pidie, hingga Aceh Utara. Pojok-pojok baca pun dibangun di meunasah atau pesantren dan TPA di Aceh Besar. “Padahal, kami juga ingin membuka pojok baca di halte Trans-Kutaraja di Banda Aceh, tapi belum mendapatkan respons. Kami menghubungi wali kota agar mendukung pembuatan tempat meletakkan buku di halte agar kota terlihat berpendidikan dan edukatif, tetapi belum direspons,” sebutnya.

Kuncinya, mentalitas
Tantangan lainnya, masyarakat sekitar masih melihat kegiatan-kegiatan yang digagas sebatas proyek, belum merasa sepenuhnya memiliki sehingga optimal berkreativitas dan berinovasi. “Saya berkeinginan menanam rasa di masyarakat untuk memiliki kegiatan ini. Masih ada orangtua yang melarang anak-anak datang ke TBM untuk membaca. Pemerintah pun belum mengakui keberadaan TBM Ar-Rasyid,” sebutnya.

Kawasan Yakesma di daerah bekas konflik dan kawasan terparah dilanda tsunami membuat masyarakat masih dalam proses menghilangkan orientasi mengharap donasi. Proses pengikisan itu perlu waktu lama. “Meski demikian, pelan-pelan ada yang senang melihat kegiatan kami, ada yang ikut berpartisipasi,” tandasnya. Kendati begitu, Dedek mensyukuri operasional yang terus berjalan.

“Kita dapat buku baru, misalkan pada 2012, kami mendapatkan dana zakat sebanyak Rp30 juta, lalu saya gunakan membeli buku semua. Jadi soal keuangan memang tidak memiliki kas khusus, tetapi ada saja uang itu,” kata lulusan Educational Leadership of University of Arkansas itu. Bahkan, baru-baru ini mereka juga baru menerima dana dari Rotary Club Bandung yang berkunjung langsung ke lokasi. “Baru-baru ini ada biaya bulanan sebesar Rp200 ribu untuk relawan selama satu tahun, harus disyukuri karena itu pemberian orang,” jelasnya. Selain donatur tetap pun bantuan insidental, Dedek pun mengoperasikan pusat pelatihan yang keuntungannya disisihkan.

Agenda selanjutnya
Target besar ialah pengelolaan sampah hingga pemberdayaan gepeng. Agenda selanjutnya ialah lokasi Yakesma yang kurang sehat, banyak sampah dengan kesadaran sanitasi minim. “Kami sedang melakukan provokasi untuk menjadi file project. Ini akan jadi target proyek selanjutnya. Pengelolaan sampah secara masif dan profesional sebagai sumber ekonomi. Kebersihan bagian dari iman, kita baca tapi tidak mengaplikasikan dalam kesehariannya,” kata dia.

Selanjutnya, pemberdayaan 100 gelandangan dan pengemis atau gepeng di Aceh. Mereka nantinya, akan mendapatkan modal usaha Rp5 juta serta pembinaan selama dua tahun. “Jadi mereka yang tidak punya rumah akan tinggal di Yakesma dan akan dibina. Bila ada anak, akan disekolahkan dan ibunya dikasih dana Rp5 juta untuk usaha, target pembinaan dua tahun harus punya simpanan dan bisa mandiri,” paparnya.

Dedek yang masih memilih melajang berharap programnya untuk Aceh selama 13 tahun ini diregenerasi. Bahkan, sebagian anak didiknya jadi pelaksana dan penerus sehingga ide tidak mati dan lebih berkembang. “Secara umum TBM tidak hanya menjadi tempat koleksi buku karena kalau cuma buku, sudah ada perpustakaan. Jadi TBM menjadi tempat bagi orang lepas dan cepat berkreasi dalam suatu frame pendidikan. Kemajuan itu bisa muncul dari TBM karena memang fleksibel, tidak terikat dan terbeban. Oleh karena itu, mereka bisa santai dan tidak ribet,” jelasnya.

Pendidikan, kata Dedek, ialah kunci kemajuan ekonomi. “Saat ini yang paling penting, mindset masyarakat, pendidikan, dan perekomian akan jadi solusi sekaligus sumber masalah. Saya harap pemerintah melihat ini kesempatan menggali potensi dari level masyarakat,” pungkasnya. Saat ini, lanjut Dedek, TBM Ar Rasyid memiliki buku yang beredar 12 ribu dengan anak asuh 35 serta relawan tetap 12 orang. “Namun jika ada kegiatan, relawan pasti bertambah karena ada mahasiswa, termasuk yang baru pulang dari luar negeri,” ujar Dedek. (M-1)

Komentar