Humaniora

Peranan Teman Sebaya Bantu Cegah Perkawinan Anak

Rabu, 11 October 2017 19:40 WIB Penulis: Dhika Kusuma Winata

thinkstock

PROGRAM Manager Plan International Indonesia Wahyu Kuncuro menyoroti pentingnya peranan remaja dan anak-anak dalam mencegah perkawinan anak. Salah satu cara yang bisa didorong ialah menggencarkan peer pressure yakni tekanan dari para teman sebaya.

Hal itu ia sebut bisa efektif untuk menyebarkan dampak buruk perkawinan anak di antaranya sesama anak. Pasalnya, sambung Wahyu, anak-anak cenderung lebih mau mendengarkan informasi dari teman sebaya ketimbang orang dewasa.

"Anak-anak muda bisa menjadi agen perubahan di daerah-daerah. Mereka bisa menekan teman-temannya untuk turut mencegah perkawinan anak. Termasuk mensosialisasikan dampak buruk yang ditimbulkan seperti terputusnya pendidikan, hilangnya hak untuk bermain serta mengembangkan diri, dan gangguan kesehatan reproduksi," ujarnya saat jumpa pers peringatan Hari Anak Perempuan Internasional yang digelar bersama Plan International di kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Jakarta, Rabu (11/10).

Dalam peringatan Hari Anak Perempuan Internasional 2017 itu, digelar pula kegiatan bertajuk Jadi Menteri Sehari di KPPPA. Sebanyak 21 anak berusia 15-19 tahun dari berbagai daerah di Tanah Air beralih peran menjadi Menteri KPPPA dan jajaran pimpinan.

Mereka mendiskusikan permasalahan perempuan dan anak dan menyampaikan dokumen Rekomendasi Anak Muda untuk KPPPA, di antaranya mendorong presiden untuk menindaklanjuti aturan pencegahan kerkawinan anak dan mendorong pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Pemerintah sendiri melalui KPPPA menargetkan revisi peraturan dalam mencegah perkawinan anak. Deputi Pemenuhan Hak Anak KPPPA Lenny Rosalin mengatakan pihaknya saat ini tengah mengupayakan penaikan usia perkawinan perempuan dari 16 tahun menjadi minimal 18 tahun.

Karena itu, lanjutnya, upaya untuk merevisi aturan dalam Undang-Undang No 1/1974 tentang Perkawinan bakal terus didorong. (OL-6)

Komentar