Lingkungan

Nyamuk DBD semakin Ganas

Selasa, 10 October 2017 07:40 WIB Penulis: Indriyani Astuti

Ist

SALAH satu yang patut diwaspadai dalam perubahan iklim ialah meningkatnya kasus demam berdarah dengue (DBD).

Sebabnya, perubahan iklim telah mengakibatkan pemanasan global hingga suhu atmosfer semakin panas.

Kondisi seperti itu membuat nyamuk semakin mudah dan cepat berkembang biak dan aktif menggigit, termasuk nyamuk penular DBD, Aedes aegypti.

Demikian disampaikan peneliti dari Persatuan Penyakit Tropik dan Infeksi, dr Leonard Nainggolan SpPD-KPTI, dalam temu media bertajuk Nyamuk Bandel, Perkembangan dan Wabah yang Ditimbulkan, di Jakarta kemarin.

"Cuaca yang panas menyebabkan nyamuk lahir dengan ukuran lebih kecil dan lebih aktif menggigit karena mereka membutuhkan lebih banyak darah untuk berkembang biak dan menetaskan telur," terang Leonard.

Lebih lanjut dia menyampaikan, setelah musim kemarau berganti dengan musim hujan seperti saat ini, biasanya angka kejadian DBD meningkat karena banyaknya air yang tergenang.

Air tergenang, sambung Leonard, menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk untuk menetaskan telur-telur.

Nyamuk Aedes aegypti memiliki habitat di lingkungan perumahan, tempat yang terdapat penampungan air bersih seperti baik mandi dan tempayan.

"Nyamuk mampu beradaptasi dengan lingkungan. Telur nyamuk mampu bertahan hidup tanpa air selama enam bulan sehingga saat musim kemarau panjang telur-telur masih bisa bertahan, ketika ada hujan lebat telur menetas jadi larva," imbuhnya.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka kejadian DBD tertinggi karena berada di wilayah tropis.

Menurut data Kementerian Kesehatan, pada 2016 tercatat 201.885 orang di 34 provinsi terjangkit DBD dan 1.585 meninggal karena DBD.

Angka kejadian tertinggi di Provinsi Jawa Barat 36 ribu kasus, Jawa Timur 24 ribu kasus, DKI Jakarta 20.423 kasus, dan Bali 20.329 kasus.

Resisten obat

Mengontrol nyamuk merupakan cara utama mencegah dan mengurangi penularan DBD.

Dikatakan Leonard, pengendalian nyamuk dengan menggunakan bahan kimia tidak cukup efektif.

Sebabnya, nyamuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sehingga semakin lama semakin resisten.

"Telah dilaporkan, nyamuk Aedes resisten terhadap penggunaan organofosfat seperti fenthion dan malathion yang selama ini banyak digunakan pada obat nyamuk dan pengasapan (fogging)," ucapnya.

Menurut dia, ada bahan kimia yang direkomendasikan seperti DEET, picaridin, dan permethrin.

"Tapi karena bahan kimiawi kurang aman untuk kesehatan, sebaiknya gunakan penolak nyamuk berbahan ekstrak tumbuhan seperti sereh."

Hal yang sama disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widiastuti bahwa pengendalian nyamuk menggunakan bahan kimia seperti fogging tidak maksimal karena hanya memberantas nyamuk dewasa, sedangkan jentik dan larva nyamuk masih ada.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pembudayaan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M plus, yakni menguras tempat penampungan air, mengubur barang bekas, dan menutup tempat menyimpanan air.

"Plus menghindari gigitan nyamuk dengan tidur memakai kelambu dan obat nyamuk," ujarnya. (H-3)

Komentar