Properti

Oversuplai Bayangi Optimisme Pasar Perkantoran

Selasa, 10 October 2017 06:20 WIB Penulis:

ANTARA

SINYALEMEN perbaikan properti, khususnya perkantoran, di DKI Jakarta, mulai menunjukkan sinyal positif dari sisi permintaan di kuartal III 2017.

Namun, pertambahan ruang kantor yang pesat membuat tingkat okupansi dan harga sewa diprediksi semakin tertekan hingga akhir 2017. Ferry Salanto, Associate Research Director Colliers International Indonesia, mengungkapkan, dari sisi permintaan, tenant dari sejumlah sektor industri mulai menunjukkan keseriusan untuk menempati ruang kantor baru.

Di sisi lain, permintaan yang mulai naik itu belum dapat mengimbangi membanjirnya suplai ruang kantor di Ibu Kota. “Permintaan tenant meningkat di sektor finansial, pelayaran, perusahaan konsumer, dan perusahaan berbasis IT seperti perdagangan elektronik serta usaha rintisan.

Yang sedang naik juga ialah permintaan co-working space (ruang kerja bersama), terutama yang digabung dengan private office,” kata Ferry saat memaparkan studi institusinya di Jakarta, Selasa (3/10).

Saat ini tingkat okupansi ruang kantor di Jakarta berkisar di angka 83% di kawasan bisnis (CBD) maupun di luar kawasan bisnis. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak 2009. Harga sewa saat ini turun hingga 9% di kawasan CBD dan turun 4%-5% di luar kawasan CBD. Studi Colliers menunjukkan, ruang kantor di Jakarta akan bertambah hingga 600 ribu meter persegi sampai akhir tahun ini dan 1,5 juta-2 juta m2 sampai 2019.

Kondisi oversuplai tersebut dipastikan akan membuat okupansi dan harga sewa ruang kantor semakin tertekan. Prediksi Colliers untuk akhir tahun ini angka okupansi akan berada di angka 80%.

Salah satu kawasan komersial baru yang menunjukkan pertumbuhan berdasarkan data Colliers berada di sepanjang Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. (Gnr/S-4)

Komentar