On This Day

1975: Sakharov Mendapat Nobel Perdamaian

Senin, 9 October 2017 05:50 WIB Penulis:

wikipedia

ANDREI Dmitriyevich Sakharov ialah fisikawan berkebangsaan Soviet yang membantu pembangunan proyek bom hidrogen Uni Soviet.

Ia dianugerahi Nobel Perdamaian pada 9 Oktober 1975. Penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas perjuangannya melawan penyalahgunaan kekuatan dan pelanggaran martabat kemanusiaan dalam segala bentuk.

Pemerintah Soviet melarang Sakharov melakukan perjalanan ke Oslo, Norwegia, guna menerima penghargaan.

Sakharov lahir di Moskow pada 1921. Ia menempuh studi fisika di Universitas Moskow.

Pada Juni 1948, ia direkrut dalam program senjata nuklir.

Setelah meledakkan bom atom pertama mereka, Uni Soviet dan Amerika Serikat (AS) terlibat dalam perlombaan pengembangan bom hidrogen, sebuah senjata yang memiliki kekuatan lebih hebat ketimbang bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.

Meskipun Sakharov mendapat berbagai penghargaan ilmiah dari Uni Soviet atas prestasinya, seiring dengan meningkatnya perhatian para ilmuwan pada implikasi dan ancaman dari senjata yang menakutkan, ia menyesali hasil ciptaannya.

Pada 1957, kepedulian Sakharov terhadap bahaya uji coba senjata nuklir biologi menginspirasinya untuk menulis artikel mengenai efek radiasi tingkat rendah dan menyerukan penghentian uji coba nuklir.

Pada 1969, Sakharov menyelundupkan dan memublikasikan artikel karyanya di The New York Times.

Dalam artikel itu, ia mengecam perlombaan senjata, sistem politik Uni Soviet, dan menyerukan pembentukan masyarakat yang peduli pada kelangsungan bumi dan masa depannya.

Pada 1975, ia menjadi orang berkebangsaan Uni Soviet pertama yang memperoleh Nobel Perdamaian.

Komentar