Lingkungan

Sekolah Dulu sebelum Kembali ke Hutan

Senin, 9 October 2017 01:45 WIB Penulis:

DOK. BKSDA

RINTIK ujan tidak dipedulikan Gonda, 8 bulan, dan Tegar, 1.

Siang itu, di kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Samboja, Kutai Kartanegara, Kaltim, kedua bayi orang utan itu tampak asyik menggelayut di dahan yang rendah sambil dipayungi sehelai daun lebar oleh pengasuh mereka.

Mereka bergerak sesuka hati sambil mengunyah-unyah daun jenis ficus yang ada di kaki mereka. Sementara itu, dua pengasuh mereka, yaitu Yuli, 33, dan Sisil, 33, mengawasi dengan saksama.

Kedua perempuan itu juga turut memasukkan dedaunan seperti yang dipegang Gonda dan Tegar ke mulut masing-masing.

Sesekali Yuli, pengasuh Gonda, menggantinya dengan buah Bridelia glauca. Gonda, meski tampak masih agak ragu, turut melakukan hal yang sama.

Berbeda dengan Tegar, meski lebih tua, Tegar tidak langsung meniru apa yang dilakukan pengasuhnya. Ia tampak ragu.

"Mereka masih bayi. Mereka kehilangan induk yang harusnya mengajari mereka banyak hal tentang perilaku orang utan," kata Aulia, Koordinator Pengasuh Orang Utan (Pongo pygmaeus) di Sekolah Hutan KHDTK Samboja, lewat handy talkie (HT), pekan lalu.

Media Indonesia yang mengamati dari kejauhan mesti berkomunikasi dengan Aulia lewat HT karena manusia asing dilarang berada di dekat orang utan.

Program di 'sekolah hutan' itu fokus terhadap bayi dan anak orang utan.

Saat ini Gonda dan Tegar diajari banyak hal tentang alam sebelum dilepasliarkan ke hutan saat menginjak usia 5-6 tahun.

Memilih makanan termasuk yang diajarkan karena mereka tidak tahu harus makan apa dan bagaimana cara memakannya.

Pengasuh wajib mencontohkan karena begitulah cara mengajari mereka.

Gonda dan Tegar sebisa mungkin dijauhkan dari manusia, kecuali pengasuh.

Menurut Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) Samboja, Achmad Gadang Pamungkas, pihaknya tidak boleh 'memanusiakan' orang utan agar mereka lebih mudah beradaptasi di alam.

Pembina Yayasan Jejak Pulang, Sighe Preuschoft, juga menegaskan orang utan mesti dikondisikan sebagai orang utan demi kelangsungan hidup mereka.

Diserahkan warga

Gonda dan Tegar ialah orang utan yang diserahkan warga ke Pusat Penelitian Orang Utan yang dikelola Balitek KSDA Samboja. Saat ini terdapat enam orang utan di Balitek KSDA itu.

"Kehadiran enam orang utan ini akan dijadikan pilot project bagaimana melakukan rehabilitasi hewan dilindungi untuk kembali ke alam," kata Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementrian LHK, Henri Bastaman. (Denny Parsaulian/H-3)

Komentar