Tifa

Seni Rupa dan Keterlibatan Publik

Ahad, 8 October 2017 10:22 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

Pengunjung menikmati karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa Resipro(vo)kasi yang bertajuk “Praktik Seni Rupa Terlibat di Indonesia Pascareformasi” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (6/10). -- ANTARA FOTO/Bernadeta Victoria

SEJAK memasuki ruang pamer, pandang­an mata langsung disapa dengan tulisan ditembok Belanda Sudah Dekat. Di samping tulisan itu, terdapat gambar orang-orang memegang senjata dengan bermacam gaya. Seperti pose layaknya jagoan yang ada dalam film atau ketika mereka bergaya seperti Power Rangers ketika memperkenalkan diri dan dalam posisi tempur.

Seolah mereka sedang menghadapi ancaman invasi penjajah. Mereka siap menghadapi musuh. Namun, apa jadinya jika senjata yang digunakan ialah senjata mainan plastik? Lagi pula para pemegang senjata juga tidak memakai seragam militer. Mereka malah berbusana keseharian atau malah berpakaian layaknya orang bekerja.

Itulah karya Wimo Ambala Bayang yang berjudul Belanda Sudah Dekat! Karya itu menjadi salah satu yang dipamerkan dalam tajuk Resipro(vo)kasi di Gedung B Galeri Nasional Indonesia pada 5–19 Oktober 2017. Sejumlah 10 perupa individual dan kolektif akan menampilkan 10 karya dengan pendekatan praktik seni rupa terlibat yang beragam baik medium maupun konteks sosialnya.

Selain Wimo Ambala Bayang, masih ada seniman lain seperti Moelyono, Angki Purbandono, Irwan Ahmett, Elia Nurvista, Fajar Abadi, Vincent Rumahloine, Alfiah Rahdini, Jatiwangi Art Factory, dan Cut and Rescue.
Dalam karya itu, Wimo mengundang partisipasi beberapa komunitas sekitar untuk berpose dengan senjata mainan plastik. Setiap komunitas terpilih kemudian diberi sebutan Angkatan Keenam, Angkatan Ketujuh, dan seterusnya.

Penamaan itu sebagai parodi atas wacana usulan Partai Komunis Indonesia pada 1960-an untuk membentuk Angkatan Kelima dengan mempersenjatai petani dan buruh. Judul Belanda Sudah Dekat! merupakan antitesis dari guyonan lawas, “Tenang, Belanda masih jauh!” Guyonan itu sering digunakan sebagai pembenaran atas sikap santai dan bermalas-malasan.

Metode komunikasi
Pameran ini dikuratori Bayu Genia Krishbie. Resipro(vo)kasi dapat dimaknai sebagai resiprokasi dan provokasi ataupun provokasi resiprokal. Itu bisa diartikan sebagai metode komunikasi dan pertukaran gagasan dua arah secara egaliter antara perupa dan publik yang penya relasi elasi langsung dalam proses penciptaan karya atau peristiwa seni rupa. Seolah saling memprovokasi satu sama lain.

Munculnya kesadaran perupa pada upaya pelibatan publik atau melibatkan dirinya dengan publik dalam proses kreatifnya itu sendiri bermula dari penolakan terhadap elitisme seni rupa, pengkultusan profesi seniman oleh publik, dan keterasingan yang dibangun antara objek seni rupa dan pe­ngunjung di ruang galeri atau museum.

“Melalui gagasan-gagasan yang ditawarkan perupa dalam beragam konteks sosialnya, diharapkan pameran ini mampu memberikan gambaran umum sejauh mana perupa merespons kondisi sekitarnya, memantik pemikiran kritis publik atas problem-problem sosial kontemporer serta memberikan perspektif yang berbeda dalam memaknai praktik penciptaan karya berbasis proses dan peristiwa sebagai alternatif pengalaman artistik bagi perupa dan pengalaman estetik bagi publik,” terang Bayu Genia Krishbie. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar