Tifa

Wayang Jurnalis Pentaskan Epos Mahabarata

Ahad, 8 October 2017 09:59 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Artis Indy Barends tampil pada pertunjukan Wayang Jurnalis yang mengambil tema Bhinneka Itu Ika di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Minggu (1/10). -- ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

MEREKA biasanya duduk dibangku penonton. Biasanya duduk sembari mengamati detail lakon yang dipentaskan sembari membuat catatan-catatan kecil tentang pentas.

Mereka biasanya cermat memperhatikan setiap gerak pemain serta detail artistik yang disajikan. Seusai pementasan biasanya langsung merangsek ke belakang panggung untuk mencari sutradara, produser, ataupun para pelakon. Namun, kali ini berbeda.

Itulah yang membedakan gelaran itu dengan gelaran wayang orang biasanya. Para pemainnya pun berbeda. Jika gelaran wayang orang biasanya diisi jajaran pemain profesional dengan kualitas kesenimanan yang tak diragukan, kali ini gelaran wayang orang justru dimainkan para jurnalis. Bisa dibayangkan bagaimana mereka yang setiap hari berkutat dengan aktivitas jurnalistik berganti dengan harus menari dan memerankan tokoh-tokoh yang ada di lakon.

Para jurnalis yang sebelumnya akrab dengan aktivitas jurnalistik berubah menjadi objek liputan. Jika sebelumnya mereka mengamati, kali itu mereka diamati. Jika biasanya mereka menonton pertunjukan, justru kali itu mereka yang ditonton. Mereka berada di atas panggung. Mereka memakai kostum.

Mereka beradegan dan berdialog. Gantian, mereka merasakan atmosfer panggung sebagai pemain. Sesuatu yang tidak mereka dapati ketika menjadi seorang jurnalis yang meliput gelaran wayang orang. Para jurnalis tidak saja menjadi penikmat seni dan menyuguhkan berita seni, tapi kini menjadi pelaku seni budaya.

Dalam tajuk Indraprastha, sebanyak 19 jurnalis dari berbagai media berturut dalam satu panggung pentas di Galeri Indonesia Kaya pada 1 Oktober 2017. Mulai pemimpin redaksi, wartawan media cetak, online, dan elektronik, hingga jurnalis foto berusaha memberikan suguhan seni pertunjukan menarik dengan khas jurnalis. Mereka berpentas dalam rangka perayaan ulang tahun Galeri Indonesia Kaya yang ke-4. Pentas ini diprakarsai Bakti Budaya Djarum Foundation yang bekerja sama dengan Wayang Orang Bharata. Pementasan ini juga menampilkan Indy Barens yang berperan sebagai Arimbi, istri Bima dan ibu Gatotkaca.

Lakon ini berangkat dari cerita sebuah negara plural yang dibangun dengan penuh perjuangan oleh Pandawa. Negara itu bernama Indraprasta. Rakyatnya terdiri dari berbagai suku bangsa. Ada bangsa manusia, raksasa, bahkan bangsa jin. Mereka bersatu padu, menjunjung negara berdaulat, Negara Kesatuan Indraprasta, yang dipimpin seorang raja berdarah putih bernama Puntadewa.

Lakon ini mengambil latar cerita pascakejadian Bale Gala-Gala. Saat itu, Pandawa dijebak Kurawa. Pandawa dibakar dalam sebuah bangunan yang dipenuhi gala-gala, yaitu sejenis getah kayu damar yang mudah terbakar. Namun, karena pertolongan dewa, Pandawa terhindar dari kematian. Pandawa kemudian melakukan pengembaraan di hutan.

Menghindari kejaran mata-mata Kurawa yang terus memburu dan menginginkan kematian mereka. Dalam pengembaraan, Dewi Kunthi memerintahkan Pandawa untuk membangun sebuah negeri. Membangun negeri sendiri akan lebih terhormat dari pada sekedar mengharap warisan negara Astina, yang sekarang dikuasai Kurawa.

Sutradara Teguh Kenthus Ampiranto meng­ungkapkan ide awal mengajak para jurnalis berlakon menjadi wayang orang. Ide awal tersebut berasal dari Galeri Indonesia Kaya yang ingin agar para jurnalis yang biasa menulis, mengkritik, dan memberi saran berbentuk tulisan juga dapat memberikan tuntunan berupa dialog.

Baginya, Wayang Jurnalis sangatlah menarik. Sebelumnya belum pernah ada konsep wartawan bermain wayang orang di Indonesia, apalagi di dunia. “Baru pertama ada, belum ada di mana-mana. Baru di sini,” terang Kenthus.

Pesan keberagaman
Menurut Kenthus, pengambilan judul Indraprastha juga selaras dengan Galeri Indonesia Kaya. Indraprastha berisi bermacam warga negara mulai raksasa, manusia, hingga jin. Begitu pula dengan pesan kebinekaan. “Saya mengambil judul Indrapastha karena ceritanya hampir sama dengan Galeri Indonesia Kaya. Galeri kan menampung semua budaya di Indonesia,” imbuhnya.

Selain itu, pesan kebinekaan sangat ditonjolkan dalam lakon ini. Pesan itu juga sangat berkesesuaian dengan Indonesia yang punya banyak suku, agama, dan ras.

Jadi kebinekaan itu yang saya tonjolkan. Perbedaan itu bukan masalah. Justru kebinekaan itu indah,” tegasnya.

Namun, bagaimanapun juga, bagi para jurnalis yang terlibat langsung dalam proses latihan, ada satu hal yang tidak terlupakan. Itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bahwa semua profesi punya tantangan dan kesulitan masing-masing. Menari wayang orang memang terlihat gampang. Namun, jika terlibat langsung menjadi pelaku, jangan mengharap itu menjadi mudah.

Bahkan sering kali jurnalis peserta latihan menceletuk, “Wah lebih susah jika dibandingkan dengan memotret,” atau “Lebih gampang menulis.” Padahal, materi gerak panggung sudah didesain paling sederhana dan berada pada level kesulitan paling rendah. Sekali lagi, pentas itu mengajari para jurnalis sebuah nilai kebersamaan dan penghargaan terhadap sesama. Yang lebih penting ialah bersetia dalam proses. (M-2)

Komentar