Jeda

Dana Virtual yang tidak Bisa Diputarkan

Ahad, 8 October 2017 09:04 WIB Penulis: Rizky Noor Alam M Taufan Bustan/(M-3)

Warga menggunakan perangkat laptop untuk berbelanja daring di daerah Tangerang, data Bank Indonesia menyebutkan pada 2010 nominal transaksi yang elektronik mencapai lebih dari Rp693 miliar. -- ANTARA FOTO/Lucky R

PESATNYA perkembangan e-money di Indonesia terlihat dari data yang dirilis Bank Indonesia. Berdasarkan data jumlah uang elektronik beredar, jumlah instrumen yang beredar pada 2010 hanya 7.914.018. Jumlah itu melonjak menjadi 68.841.316 pada Agustus 2017.

Meski begitu, dalam segi nominal, tampak tidak terjadi lonjakan yang sama signifikannya. Pada 2010 nominal transaksi yang elektronik mencapai lebih dari Rp693 miliar, sedangkan pada Agustus 2017 mencapai lebih dari Rp790 miliar.

E-money, menurut BI, terbagi dalam dua kategori. Pertama UE chip based, yakni nilai uang disimpan pada cip yang biasanya ditanam di dalam kartu. Contoh umum UE chip based ialah kartu e-toll. Kedua ialah UE server based, yaitu nilai uang disimpan di server penerbit sehingga untuk penggunaan transaksinya tidak harus menggunakan kartu dan reader, tapi bisa juga dilakukan secara daring.

Dari data BI itu terindikasi semakin banyak masyarakat menggunakan e-money meski nilai transaksi yang dilakukan belumlah besar.

Hal tersebut dikatakan pula Senior Vice President (SVP) Transaction Banking Retail Sales PT Bank Mandiri (persero) Tbk, Thomas Wahyudi. Menurutnya, meskipun banyak sektor yang menerima pembayaran dengan e-money, dana yang dihimpun relatif kecil karena tidak terlalu banyak nasabah yang menyimpan dana pada Mandiri E-Money.

"Saat ini jumlah e-money yang diterbitkan Bank Mandiri sudah mencapai 10 juta kartu hingga Agustus 2017. Dari jumlah kartu tersebut, frekuensi transaksinya mencapai 300 juta transaksi dengan nilai Rp3,4 triliun," jelas Thomas kepada Media Indonesia, Selasa (3/10).

Bank Mandiri ialah 1 dari 26 penyedia e-money di Indonesia yang berlisensi BI. Selain perbankan, penyedia e-money ialah perusahaan seluler, market place, hingga payment gateway.

Berlombanya para perusahaan menyediakan e-money membawa pertanyaan mengenai menggiurkannya bisnis ini. Terlebih ada anggapan bahwa dana dalam e-money dapat diputarkan penyedia, layaknya tabungan dan deposito di bank. Namun, hal tersebut nyatanya salah. "Dana yang ada di uang elektronik bukan merupakan dana pihak ketiga (DPK) sehingga tidak bisa diputar seperti dana tabungan nasabah," tukas Thomas.

Hal yang sama dikatakan Chief Technology Officer iPaymu Riyeke Ustadiyanto dan juga Public Relation Manager Bukalapak, Evi Andarini. Bukapalak memiliki e-money bernama Bukadompet yang kini layanan to-up-nya tengah dibekukan BI.

Meski dana tidak dapat diputar, tetap saja e-money menjadi bagian penting dalam bisnis daring atau digital. Sebab e-money memberikan kemudahan pembayaran dan dari situlah keuntungan bisnis yang lebih besar tercipta. "Kami menerbitkan e-money pada dasarnya didorong keinginan untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi pembayaran ritel. Dengan e-money masyarakat tidak perlu lagi membawa banyak uang tunai dan menyimpan banyak pecahan uang kecil. E-money sendiri secara tidak langsung dapat membantu kami dalam meningkatkan loyalitas nasabah," lanjut Thomas.

Fee transaksi
Jika perbankan melihat keuntungan e-money dari segi loyalitas nasabah, penyedia e-money di kategori payment gateway mengambil untung dari fee transaksi.

"Hak pengelola transaksi adalah fee transaksi yang didapat dari tiap transaksi yang terjadi," ungkap Chief Technology Officer iPaymu Riyeke Ustadiyanto. Soal besaran fee, Riyeke menyebut jumlahnya tidak besar. "Kami dapat keuntungan cuma 1% dari setiap transaksi," tambahnya.

Untuk meraup banyak transaksi, iPaymu yang sudah mengantongi lisensi BI terhubung dengan jaringan ATM Prima, ATM Bersama, MEPS, Visa, Master Card, JCB, PLUS, dan Link. Melalui interkoneksi tersebut, iPaymu terhubung dengan 137 bank nasional melalui jaringan ATM. Jadi, iPaymu bisa melayani seluruh nasabah dari bank apa pun.

Selain itu, menurut Riyeke, penyediaan e-money memang krusial karena memenuhi kebutuhan yang terjadi. Dengan kondisi gaya hidup daring sekarang ini, penyediaan e-money sudah layaknya kerja marketing. Transaksi akan tercipta dengan sendirinya karena orang merasa kebutuhannya terpenuhi.

"Saya hanya melempar kebutuhan orang. Yang menge-push target ternyata bukan dari kami. Ternyata, timbulnya transaksi itu dari mereka sendiri. Kadang saya juga heran, pada bulan tertentu transaksinya melebihi target. Tim kami tidak bekerja. Karena saya mengikuti kemauan pasar. Saya bikin sistem, pasar merespons, menyerap, akhirnya jalan," jelasnya.

Keunikan tak berbatas
Dengan makin banyaknya penyedia e-money, tidak mengherankan kompetisi dalam merebut pasar makin ketat. Maka terlihat penyedia e-money menawarkan berbagai keunikan.

Truemoney, contohnya, mengedepankan sisi syariah yakni lewat sertifikat e-Money Syariah dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Berbekal sertifikat itu, layanan e-money dari Thailand yang mulai beroperasi di Indonesia sejak Februari 2016 ini berencana menyasar pasar di lingkungan komunitas muslim di Indonesia, seperti pondok pesantren, sekolah islam, masjid, dan Koperasi Syariah atau Baitul Maal Wat Tamwil (BMT), serta produk-produk halal dengan kerjasama bersama LLPOM MUI.

Sementara itu, market place Bukalapak berusaha memperbesar pasar e-money mereka dengan mengover beragam transaksi. Tidak hanya untuk belanja barang umum, pembelian pulsa, token listrik, tapi juga pembelian reksa dana lewat Bukareksa, dan pembelian emas lewat Bukaemas.

Terkait dengan upaya mendapatkan lisensi BI, Public Relation Manager Bukalapak, Evi Andarini, menjelaskan permohonan izin e-money telah diajukan. "Kami belum mengetahui kapan persisinya bisa mendapatkan lisensi. Namun sesuai pemberitahuan BI, waktunya tidak kurang dari 35 hari," ujarnya.

CEO Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan juga tengah mengurus perizinan. "Sebagai bagian dari perizinan, fitur top-up kami hentikan sementara. Hal ini bertujuan agar TokoCash nantinya juga dapat digunakan di luar platform Tokopedia." (M-3).

Komentar