WAWANCARA

Egy Maulana Vikri - Optimistis Indonesia Bisa Tampil di Piala Dunia

Ahad, 8 October 2017 08:26 WIB Penulis: Ferdian Ananda Majni

Egy Maulana Vikri -- MI/Ferdian Ananda Majni

REMAJA berambut pirang dan berkulit kuning langsat itu me­ne­bar senyum penuh keramahan tatkala ditemui di Asrama Atlet Putra Kawasan Sekolah Khusus Olahragawan di Jalan Harsono RM, RT 9/RW 7, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Ferdian Ananda Majni dari Media Indonesia menemui winger (pemain sayap) U-19 itu di sela-sela kesibukan berlatih di Diklat Ragunan, Senin (25/9). Egy menceritakan perjuangannya menembus timnas hingga potensi sepak bola dalam dirinya. Akselerasi mumpuni dilengkapi umpan akurat yang menjadi ciri khasnya, juga berkat kerja kerasnya. Berikut petikan wawancaranya.

Sejak kapan Anda bermain bola?
Ayah sudah mengajari nendang-nendang bola sejak saya bisa jalan. Lalu saya jadi suka bola. Ayah juga memasukkan saya ke sekolah bola SSB. Pada usia 7 tahun saya masuk SSB Tasbi, dari sanalah mulai ikut pertandingan.
Saya rutin latihan setiap Selasa, Kamis, dan Minggu di SSB Tasbi. Kemudian Senin, Rabu, dan Sabtu di Asam Kumbang. Itulah rutinitas saya tiap hari latihan sepak bola. Sepulang sekolah, saya ikut pengajian sampai pukul 15.00 WIB setiap hari.

Apa yang memengaruhi sehingga begitu mencintai sepak bola?
Memang sudah keturunan, keluarga semua bermain sepak bola. Ayah dulu seorang striker dan sempat di PSMS Medan, tapi lebih banyak di PS Tirta Nadi, Persibri, Batanghari, Jambi.
Jadi, saya besar dan tumbuh dalam keluarga pecinta sepak bola. Pastinya saya yakin akan terus bertahan di sepak bola.

Bagaimana pencapaian sepak bola?
Saya belum apa-apa dan masih panjang. Umur saya masih 17. Jika saya puas sekarang, semua akan habis di usia 30-an. Saya tidak ingin seperti itu dan akan terus belajar, berlatih, serta tidak melupakan orang-orang yang telah berjasa terhadap saya.
Intinya, saya harus lebih bekerja keras lagi, berdoa dan lebih banyak belajar lagi.

Apa saja prestasi yang telah diraih?
Banyak, lupa saya (he he he). Tapi selama di PPLP Ragunan, pernah dapat pemain terbaik dan top scorer di ajang Gothia Cup 2016, top scorer di Piala Menpora, pemain terbaik dan top scorer di Soeratin 2016, pada Turnamen Toulon 2017 di Prancis juga mendapat penghargaan Jouer Revalation Trohee (pemain paling berpengaruh di tim) dan menjadi top scorer dengan 8 gol di Piala AFF U-18 2017 kemarin.

Mendapatkan penghargaan yang pernah diperoleh Luis Figo dan Cristiano Ronaldo di Turnamen Toulon 2017 di Prancis, bagaimana perasaan Anda?
Pasti senang banget karena awalnya saya tidak tau itu trofi apa. Saya kira trofi untuk satu pertandingan. Apalagi saya merasa belum menjadi terbaik, tetapi memang orang yang nilai ya tidak masalah bagi saya, penilaian orang bagaimana saya bermain dan saya tetap harus belajar lagi. Karena trofi itu tidak ada gunanya jika saya tidak bekerja keras.

Apa kiat Anda meraih prestasi?
Acuan saya agar lebih baik lagi ke depannya. Jangan cepat merasa puas, tetap belajar, bekerja keras, dan berdoa.
Ayah saya juga selalu bilang, jika setiap main kita target cetak gol, itu gol tidak akan dapat. Akan tetapi, coba bermain untuk tim karena jika kita main untuk tim dan kita bermain bagus, gol itu datang sendiri.
Nah, jikapun rezeki, itu semua, top scorer dan pemain terbaik itu bonus. Paling penting tim sukses, kita juga pasti sukses.

Dalam tim, apakah Anda pemain paling berpengaruh?
Di tim U-19, semua pemain bisa mengikuti. Kalaupun setiap posisi tidak ada, itu bakalan susah. Jadi, tidak ada pemain bintang di dalamnya.
Saya juga tanpa mereka tidak bisa menjalankannya, begitu juga yang lainnya. Saya tanpa teman-teman, tidak ada apa-apanya.

Dalam bermain, gaya permainan siapa yang paling memengaruhi Anda?
Saya memang sering melihat permainan Lionel Messi tetapi permainan saya tidak se-perfect dia lah, saya masih banyak belajar lagi.
Namun, saya juga tidak mau sama seperti dia. Saya mau jadi diri sendiri, saya ya Egy Maulana Vikri. Jikapun ada yang bilang mirip Lionel Messi tidak apa-apa, itu terserah mereka karena mereka yang menilai saya, tapi tetap saya ingin menjadi diri saya sendiri.

Anda tetap berkarier di Indonesia?
Saya belum memikirkannya dan bagaimana saya nantinya bermain. Akan tetapi, saya ingin bermain di Eropa. Itu bukan berarti saya tidak ingin bermain di Indonesia, tetapi ada saatnya nanti saya akan kembali. Kalau memang bisa, saya ingin sekali bermain di Eropa.

Jadi berkeinginan bermain di Eropa?
Pasti. Bukan hanya saya, semua pemain jika ada peluang ingin bermain di Eropa, tetapi untuk klub-klub besar saya belum siap.
Step by step (pelan-pelan), jika ada klub dari Eropa yang berprospek bagus, saya didukung manajemen, direktur, dan semuanya kenapa saya tidak coba?
Keinginan utama memang di Eropa, kalau memang sudah mentok dan tidak ada tawaran sama sekali, mungkin bisa Thailand atau Jepang.

Ada rumor Anda dikaitkan dengan klub Liga 1.
Untuk saat ini, saya belum memikirkan ke arah sana. Saya masih fokus di Diklat Ragunan, saya juga masih kelas 3 SMA, masih ingin fokus di sekolah dan di timnas. Insya Allah jika bisa membawa timnas juara.

Bagaimana Anda melihat sepak bola di Tanah Air?
Hmmm, menurut saya sudah mulai bagus, jikapun ada masalah itu wajar. Tidak ada yang sempurna dan selalu bagus di dunia ini. Lagian pembelajaran- pembelajaran itu penting agar Indonesia bisa lebih baik ke depannya.

Saat mencetak gol atau bertanding melawan siapa yang paling berkesan?
Saat sama coach Indra, waktu mencetak gol menit-menit terakhir melawan Myanmar. Soalnya mereka sombong, sudah yakin menang dan terus bertahan.
Yang saya senangi itu kawan-kawan tidak ada yang mau kalah, bukan mental kalah. Semua ingin menang, ya akhirnya semua keinginan itu tercapai.

Anda juga sempat membawa ASIOP Apacinti menjadi Kampiun Gothia Cup 2016 di Swedia, pengalaman apa yang ada peroleh di sana?
Saya dipinjam sama ASIOP, jadi jangan nantinya salah karena saya tetap di Diklat Ragunan. Nah, di turnamen itu seharusnya untuk pemain kelahiran 2001, tetapi boleh memainkan dua atau tiga pemain yang lebih tua karena saya kelahiran 2000.
Kalau kesulitannya, awal-awalnya ya cuaca. Tetapi cuma sebentar setelah bisa beradaptasi. Pemain di sana memang lebih besar dan tinggi, kita kalah duel, tetapi menang kecepatan.

Bagaimana pertemuan Anda dengan pelatih Idra Sjafri?
Dulu, saat saya berusia 12 pernah bertemu coach Indra di Festival FIFA Grassroot, pada 2012 di Medan. Namun, saya tidak tahu, mungkin coach Indra kehilangan karena lost contact dan belum tahu saya di mana.
Kemudian Pak Badja menemui saya dan dia ngomong ke coach Indra, hingga coach Indra pas banget sudah tahu saya di mana.
Kemudian saya diajak ke PPLP Ragunan dan dilatih mental oleh Pak Bambang dan pelatih fisik juga coach Irfan, Om Gunaryo, dan pelatih kiper coach Dwi.

Bagaimana perasaan Egy saat berkesempatan mengikuti pelatnas bersama timnas U-22 dan latihan bersama Evan Dimas serta kawan lainnya?
Pastinya senang, apalagi latihan bareng idolanya sendiri. Awalnya tidak nyangka dan kaget, takut-takut juga latihan karena tidak enak sama idola dan tidak kepikiran juga.

Performa Anda sangat baik di Piala AFF U-19 2017. Dari seluruh laga, melawan negara mana yang paling tertantang dan susah ditaklukkan?
Vietnam, karena mereka punya pertahanan rapi, sulit ditembus dan mereka juga selalu menghajar saya. Setiap saya menguasai bola, mereka selalu menghajar saya.
Kalau melawan Thailand, kita kalah keberuntungan karena rezeki tidak di kita sehingga kalah.

Klub dan pemain idola Anda siapa? Kenapa?
Barcelona karena ada Messi. Apalagi tim taktikal mereka juga bagus. Akan tetapi, awalnya sih suka Arjen Robben, dulu sepatu juga ditulis Robben. Setelah itu, baru Messi karena sudah jarang juga lihat penampilan Robben.

Momen paling berkesan selama jadi pemain bola apa?
Saya masih ingat sampai sekarang. Dulu saya pernah ikut turnamen, tetapi kita kalah di final. Pembagian trofinya keesokan harinya. Panitia memilih saya sebagai pemain terbaik, tetapi pas saya mau berangkat mereka membatalkan saya dan digantikan sama orang lain. Jadi saya sampai nangis hingga papa pusing.
Jadi papa dan pelatih SSB Tasbih membuat piala pemain favourit player, itu dibuat-buat sama mereka agar saya tidak terlalu jatuh dan sedih. Setelah dapat piala itu saya senang kembali. Ayah cerita itu baru-baru ini (ha ha ha).
Saya juga sempat berhenti main bola selama satu minggu, tetapi pelatih dan ayah membujuk saya.

Terkait dengan masa depan, bagaimana komitmen di dunia sepak bola?
Banyak orang bilang ambil dulu untuk jaminan hidup. Namun, saya berpikir memang seharusnya ada jaminan hidup seperti itu. Tetapi saya rasa, saya sudah main bola dari kecil, saya mau lanjut di sepak bola, bagaiamanapun terjadi. Saya akan tetap di sepak bola.

Anda yakin sepak bola menjaminnya?
Saya yakin. Nah, itu kan dari diri kita sendiri meski memang ada yang ragu. Tetapi saya yakin dan saya bisa di sepak bola.

Jika sudah dikontrak klub profesional, apa yang akan dilakukan?
Niat pertamanya berangkatkan orangtua umrah atau haji. Setelah itu kehidupan orangtua bagaimana, baru diri saya sendiri.

Anda diproyeksikan masuk skuat timnas di Piala Asia tahun depan, apa target Anda?
Yang pasti ingin Indonesia masuk Piala Dunia. Tetapi jangan sombong. Optimistis boleh tapi jangan sombong.
Insya Allah, kita bisa masuk Piala Dunia, bukan hanya harus kerja keras, melainkan juga harus berdoa dan butuh dukungan. Jika Tuhan merestui, pasti kita akan masuk Piala Dunia. (X-7)

Komentar