Gaya Urban

Mengejar Pahala lewat Busur Panah

Ahad, 8 October 2017 05:01 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/Arya Manggala

SORE hari, di lapangan Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sekelompok muda-mudi berkumpul. Penampilan mereka cukup menarik perhatian karena berbekal busur dan anak panah.

Berdiri di barisan, mereka tampak serius mengikuti arahan instruktur. Sejurus kemudian anak-anak panah meluncur dari busur mereka ke papan target yang berjarak sekitar 10 meter.

Pemanah pria maupun perempuan sama-sama memiliki lima kali kesempatan melesakkan anak panah. Meski mereka bukanlah atlet, semuanya tampak cukup serius dan bersemangat menjalani kegiatan itu.

"Panahan itu bagi saya ada dua manfaat utama, yakni olahraga serta mendapatkan pahala, sehingga saya sangat semangat untuk menekuni olahraga panahan ini," ungkap salah satu peserta, Peni Larasati, yang ditemui Media Indonesia, Senin (2/10). Bersemangatnya Peni terlihat pula dari caranya memanah. Perempuan 32 tahun itu tampak sudah cukup piawai membidik target.

Nyatanya, Peni memang sudah setahun bergabung dengan Youth Islamic Study Club (YISC) Archery Club. Latihan panahannya diawali dengan masa pengenalan dan adaptasi alat. "Awalnya saya juga tidak bisa apa-apa, barulah setelah sekitar dua bulan saya baru bisa mengarahkan anak panah ke papan target sejauh 10 meter. Karena memang untuk bisa seperti ini, butuh latihan, kesabaran, dan bertahap," sambungnya.

Kesabaran dan ketekunan bukan hanya dibutuhkan dalam mengasah keahlian membidik target, melainkan juga dalam melatih fisik. Pasalnya, meski olahraga ini seperti tidak menguras stamina, sesungguhnya cukup menguji kekuatan tangan. Sebab untuk dapat mengarahkan bidikan, pemanah harus cukup lama mengangkat busur yang memiliki berat sekitar 1,3 kg. Belum lagi tarikan tali busur yang juga cukup berat.

Semua kalangan

Nuansa islami dalam YISC Archery Club mudah dikenali. Selain dari lokasi tempat latihan, para peserta berpakaian islami dengan busana hijab. Tidak hanya itu, seperti yang juga diutarakan Peni, kebanyakan peserta memilih olahraga tersebut karena mengikuti sunah.

Dalam Islam, anjuran belajar memanah terdapat dalam sebuah hadis. Olahraga lainnya yang dianjurkan ialah berenang dan berkuda.

Instruktur YISC Archery Club, Hikmatiyar Rabbani, menjelaskan selain berpegang pada sunah, keunggulan olahraga memanah dapat dirasakan sendiri. Salah satunya, olahraga ini dapat melatih konsentrasi.

Di sisi lain, kentalnya nuansa islami tidak membuat aktivitas komunitas tersebut tertutup bagi kalangan nonmuslim. "Kita memang prioritaskan yang beragama Islam, namun jika ada masyarakat nonmuslim yang ingin bergabung untuk latihan, tetap kita akan terima dengan baik. Karena olahraga panahan ini tentunya untuk semua kalangan," tutur Hikmatiyar.

Ia melanjutkan olahraga memanah cukup 'ramah' usia dan gender karena tidak menguras fisik dan tidak melibatkan gerakan-gerakan yang menyebabkan benturan atau yang membahayakan lainnya. Dalam menggelar latihan, YISC Archery Club juga tidak memisahkan lokasi latihan berdasarkan gender.

Komentar