Pesona

Cantik tanpa Menggunting Batik

Ahad, 8 October 2017 03:01 WIB Penulis: Bintang Krisanti

DOK BNI

PADUAN celana batik bermodel Aladdin dengan blus batik merah-kuning tanpa lengan itu menjadi salah satu busana yang ditampilkan di Karnaval Pesta Batik Indonesia 2017. Berlangsung Minggu (1/10) di ruas Jalan Jenderal Sudirman-Jalan MH Thamrin, Jakarta, acara itu memang tampak mengusung fesyen batik yang edgy sekaligus bernuansa Bohemia.

Selain celana model Aladdin, ada berbagai bawahan dan blus yang serbaasimetris, termasuk segi volume. Ketika diperhatikan lebih saksama, tampilan unik tersebut ternyata berkat penggunaan kain-kain batik yang tidak digunting dan langsung ditata di tubuh para model, atau disebut juga dengan teknik draping. Kain-kain batik itu dikaitkan dengan cara diikat, dililit, diputar, disemat dengan peniti, ataupun dengan ikat pinggang.

Teknik draping memang bukan baru di dunia mode. Salah satu desainer yang rajin menggunakan teknik ini ialah desainer senior Carmanita. Berkat teknik ini pula keunikan koleksinya makin kuat karena tiap busana selalu memiliki tampilan berbeda.

Di ajang karnaval batik kali ini, penata fesyen Nitrania Karnelia mengungkapkan gaya draping dipilih sebagai cara menjaga keindahan motif-motif batik. "Kebanyakan kain batik di jadikan baju dimodif sedemikian rupa sehingga membuat motif-motif kain batik tidak secara keseluruhan terpampang nyata. Karena proses pembuatan baju tersebut telah melalui proses penjahitan, pemotongan, dan pengguntingan," jelasnya kepada Media Indonesia, Rabu (4/10).

Tidak hanya itu, menurut perempuan yang akrab disapa Nitra ini, penerapan teknik draping bisa menghasilkan lebih banyak model busana. Para pecinta batik bisa selalu tampil beda meski menggunakan kain yang sama.

Bagi pemula yang ingin mencoba teknik draping, Nitra menyarankan untuk melihat berbagai tutorial yang sudah banyak beredar di Youtube dan Instagram. Draping dengan model sederhana, menurutnya, cukup dilakukan dengan mengikat kain. Penerapan model ini pun hanya memakan waktu sekitar 2 menit.

Batik maos

Dalam acara tersebut batik yang digunakan merupakan Batik Maos Rajasa Mas. Label batik ini merupakan salah satu UMKM yang tergabung dalam Rumah Kreatif BUMN (RKB) BNI di Cilacap Jawa Tengah.

"Menyambut Hari Batik Nasional, BNI ingin memperkenalkan batik maos pada generasi muda agar batik maos selalu lestari. Hari ini kami membawa 10 inspirasi motif dan gaya dari batik maos yang dikemas modern tanpa menghilangkan nilai esensi batik. Melalui acara ini, kami memperlihatkan batik maos itu indah dan mudah untuk dipadu-padankan mengikuti tren saat ini," jelas Kiryanto selaku Corporate Secretary BNI dalam rilis mengenai acara tersebut.

Batik maos khas Cilacap dituturkan muncul pada abad ke-18. Batik ini memiliki makna filosofi dan sejarah tinggi karena menampilkan sandi perang laskar Pangeran Diponegoro dan menggunakan teknik pewarnaan alam. Melalui motif-motifnya, batik yang saat itu digunakan sebagai simbol atau sandi perang Pangeran Diponegoro ternyata terbukti mampu mengecoh perhatian Belanda sehingga sulit sekali dikalahkan Belanda.

Nitra menjelaskan Batik Maos Rajasa Mas ialah salah satu produk batik yang cocok untuk teknik draping karena tidak kaku dan tidak licin. "Dan motifnya itu sangat bagus sehingga gampang untung memadu padankan," tambahnya.

Nitra juga memberikan kiat untuk menggunakan kaus atau celana dalaman saat menggunakan kain draping. Selain untuk kenyamanan, penggunaan busana dalaman ini dapat menjamin tidak tereksposnya bagian-bagian pribadi akibat bagian-bagian kain yang tidak rapat terkait. (*/M-2)

Komentar