Travelista

Pesona Sejarah dan Wisata Kota Nabi

Ahad, 8 October 2017 02:01 WIB Penulis: Siswantini Suryandari/M-3

MI/SISWANTINI SURYANDARI

SETIAP kali kereta api akan mendekat ke Kota Madinah, Arab Saudi, segera para petugas melapisi rel dengan kain. Itu dilakukan agar suara dan getaran kereta tidak merusak makam sang tercinta, Nabi Muhammad SAW, yang berada di kompleks Masjid Nabawi.

Pemandangan rel yang ditutupi kain memang kini tinggal kenangan seiring dengan sudah tidak beroperasinya jalur Kereta Api Hejaz atau juga biasa disebut Hijaz (Hejaz Railway). Namun, kisah tersebut masih bisa diresapi di Museum Kereta Hejaz.

Kesempatan itu pula yang saya dapatkan di sela-sela tugas sebagai petugas haji Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Arab Saudi di Daerah Kerja Madinah. Di museum pula kita masih bisa melihat gerbong, lokomotif, bengkel, gudang, hingga bekas stasiun yang dibangun pada masa pemerintahan Utsmaniyah Turki, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II tersebut.

Menyimak sejarah di museum, terpaparkan pula bagaimana pemerintahan Utsmaniyah dahulu telah begitu serius mengembangkan proyek infrastruktur. Jalur kereta ini terbentang antara Damaskus (Suriah)-Amman (Yordania) sampai Madinah (Arab Saudi) dan merupakan bagian dari jalur kereta api yang menghubungkan antara Istanbul-Haifa (Israel).

Pembangunan jalur kereta api ini sudah dilakukan pada 1840 M, tapi baru direalisasikan pada 1908. Pada saat beroperasi pada 1912, setahunnya kereta rata-rata mengangkut 30 ribu penumpang. Semula pada 1970 jalur kereta akan ditingkatkan, tapi kesulitan keuangan, sehingga jalur kereta ini tidak terurus.

Bila memasuki Kota Madinah untuk pertama kalinya, umumnya warga Turki akan melewati kawasan Hejaz ini sebagai penghormatan untuk leluhur mereka yang membangun jalur transportasi antarnegara.

Di sisi lain, Museum Kereta Hejaz hanya satu dari banyak destinasi wisata sejarah di Madinah. Dengan banyaknya jejak sejarah di kota nabi, pemerintah Arab Saudi menggaungkan kota yang berada sekitar 400km di utara Mekah tersebut sebagai destinasi wisata islami internasional.

Berikut beberapa tempat-tempat ibadah dan sejarah yang sudah termasyhur dan masuk destinasi utama Madinah.

1. Masjid Nabawi

Salah satu masjid utama umat Islam ini terletak di jantung Kota Madinah. Masjid ini didirikan Nabi Muhammad di tempat berhentinya unta beliau. Semula masjid ini memiliki luas 1.060 meter persegi. Namun, dalam perkembangannya terjadi perluasan wilayah setelah nabi wafat. Hingga pada pemerintahan Raja Fahad pada 1995 dilakukan perluasan besar-besaran dengan lama pembangunan hingga 10 tahun. Luas keseluruhan Masjid Nabawi mencapai 400.327 meter persegi.

Di bawah tanah dibangun parkiran yang mampu menampung 5.000 mobil. Udara di Kota Madinah pada musim panas berkisar antara 30-50 derajat celsius, dengan kelembapan rendah sekitar 34%. Agar para pengunjung masjid nyaman dan tidak kepanasan, di bawah tanah ini terdapat pendingin udara yang pusatnya berada sejauh 7 km dari Masjid Nabawi. Dengan teknologi itu, ubin-ubin marmer menjadi dingin meski di luar terik matahari menyengat.

Kemudian, pada masa Raja Abdullah bin Abdul Aziz, pada 2005, mulai dipasang 250 payung besar di pelataran Masjid Nabawi. Pada masa Raja Abdullah ini, perluasan terus dilakukan sehingga masjid mampu menampung sekitar 2 juta jemaah.

2. Raudhah

Raudhah atau taman surga merupakan makam Nabi Muhammad SAW bersama kedua sahabatnya Abu Bakar As-Siddiq dan Umar bin Khattab. Sebelah makam adalah kamar ummul mukminin Siti Aisyah RA, istri Nabi. Sesudah Aisyah wafat, kamar itu dibiarkan kosong hingga sekarang.

Semula lokasi Raudhah berada di luar Masjid Nabawi, tepatnya di antara rumah Nabi dan mihrab di masjid. Namun, setelah perluasan Masjid Nabawi, Raudhah saat ini berada di dalam masjid.

Sebagai penanda peziarah sudah berada di Raudhah ialah jika ia sudah menginjakkan kaki di karpet berwarna hijau. Di situlah jemaah melaksanakan salat sunah dan berselawat.

Jemaah baik lelaki maupun perempuan, seusai melaksanakan salat, bisa berziarah ke makam Nabi. Namun, perempuan dibatasi waktunya hanya setelah salat Subuh dan Isya. Untuk jemaah pria, akses menuju makam dibuka 24 jam.

Pada musim haji, ziarah ke makam nabi luar biasa. Di dalam Raudhah ini ada beberapa tiang terbuat dari batang kurma, yang juga disebutkan dalam hadis nabi, yakni Tiang Aisyah, Tiang Wufud, Tiang Taubat, Tiang Mukhollaqoh, Tiang Sarir, dan Tiang Mahras atau Hars.

3. Permakaman Baqi

Baqi ialah pekuburan umum dan yang utama untuk penduduk Madinah sejak zaman Rasulullah. Dahulu makam ini bernama Baqi Al-Gharqad karena di dalamnya banyak ditumbuhi tanaman gharqad. Lokasi makam Baqi terletak di tenggara pagar Masjid Nabawi.

Diriwayatkan, hampir 10 ribu sahabat nabi dimakamkan di sini, termasuk istri-istri nabi, putra-putrinya hingga cucu, paman, bibi dan keluarga lainnya. Di Baqi ini, juga dimakamkan jemaah haji yang wafat di Tanah Suci, termasuk jemaah haji Indonesia. Maka setiap musim haji atau umrah, ahli waris jemaah berziarah sehingga suasana di kuburan Baqi cukup ramai. Namun, perempuan dilarang mengunjungi makam.

4. Jabal Uhud

Jabal Uhud atau Gunung Uhud merupakan salah satu tempat favorit peziarah. Jabal Uhud ini lokasinya hanya 4,5 km dari Masjid Nabawi. Dalam sejarahnya, Nabi bersama para sahabatnya kalah dalam peperangan melawan suku Quraisy di Jabal Uhud ini. Banyak sahabat meninggal dalam peperangan itu dan dimakamkan di dekat masjid.

Permakaman yang dikenal dengan nama Syuhada Uhud ini ramai dikunjungi para peziarah. Salah satunya yang dimakamkan di situ ialah Hamzah, sahabat dekat Nabi yang diangkat sebagai Sayid al Syuhada (panglima perang). Kematian Hamzah ditangisi nabi.

Tidak jauh dari Jabal Uhud, terdapat Gua Uhud. Namun, jalan menuju gua cukup sempit, yakni berkisar selebar satu mobil. Di dalam gua terdapat tetesan darah nabi, karena saat terjadi peperangan, kaki nabi tertusuk panah. Darah yang menempel di tembok tersebut dikabarkan berbau wangi hingga saat ini.

Oleh pemerintah Arab Saudi, gua yang sangat sempit dengan tinggi sekitar 2 meter dan lebar 75 cm itu ditimbuni kotoran burung agar tidak didatangi jemaah. Namun, masih banyak jemaah terutama dari India, Pakistan, dan Bangladesh berdatangan untuk mengambil kerikil di sekitar gua. Saat ini di sekitar gua telah dipagari dengan kawat berduri dan akses masuk ke gua ditutupi semen. Petugas keamanan rutin berjaga di sekitar gua agar tidak didatangi peziarah.

5. Masjid Quba

Masjid Quba termasuk masjid yang paling banyak dikunjungi. Masjid ini merupakan masjid pertama dibangun tangan Rasulullah. Pembangunan masjid yang berada di wilayah Quba itu dilakukan saat Rasul berhijrah dari Mekkah. Rasulullah pun bersabda, "Barang siapa bersuci dari rumah, dan salat Duha di Masjid Quba setiap Sabtu, ia akan diganjar pahala sama dengan pahala umrah. Pada masa Raja Fahad bin Abdul Aziz dilakukan renovasi beberapa kali, tapi keasliannya tetap terjaga hingga kini.

6. Masjid Qiblatain

Masjid bersejarah ini diyakini semula merupakan milik Kafilah Bani Salimah. Terletak sekitar 5 kilometer dari Masjid Nabawi, pemberian nama Qiblatain berawal dari pelaksanaan salat dengan dua kiblat oleh para sahabat nabi, yakni kiblat ke Masjid Aqsa di Palestina dan Kabah di Masjid Haram Mekkah. Setelah turunnya ayat tentang kiblat, seluruh umat Islam di seluruh dunia saat salat berkiblat ke Kabah. Hampir keseluruhan masjid dengan dua menara ini masih asli meski sempat beberapa kali direnovasi pada 1987.

7. Masjid Miqat

Masjid Miqat ini berlokasi di sebelah barat Lembah Aqiq atau sekitar 12 km dari Masjid Nabawi. Pembangunannya pertama kali dilakukan pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz di Madinah pada 706-712 Masehi. Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Bir Ali ini sangat penting dalam prosesi pelaksanaan haji, sebab di sinilah para jemaah haji wajib melaksanakan wudu, memakai baju ihram, dan salat sunah sebelum memasuki Kota Mekah.

Masjid ini memiliki menara yang unik berbentuk spiral dan tingginya mencapai 64 meter. Lorong untuk masuk ke masjid cukup panjang dengan warna cokelat senada warna padang pasir.

Komentar