MI Anak

Saat Biru Terlihat Ungu

Ahad, 8 October 2017 00:16 WIB Penulis: OMAR PARIKEST RAWIDIGDO Reporter Cilik 2015

MI/Duta

SUATU hari saat sedang olahraga pagi bersama ibu di sekitar lingkungan rumah, saya melihat mobil yang sangat saya sukai. Langsung saja saya memberi tahu ibu dengan tidak lupa menyebutkan warna mobil tersebut untuk memperjelas mobil mana yang saya maksud.

Namun, ibu malah kebingungan. Ia tidak juga mengerti mobil yang saya maksud hingga saya harus mendekati dan menunjuk ke mobil tersebut. Menurut ibu, mobil tersebut bukanlah berwarna ungu muda, sebagaimana yang saya sebutkan, melainkan mobil tersebut berwarna biru.

Ibu bahkan sampai beberapa kali bertanya kepada saya soal warna mobil itu. Namun, berkali-kali pula saya tetap pada pendirian bahwa mobil tersebut berwarna ungu muda.

Peristiwa ini membuat kami pergi ke dokter mata, beberapa hari kemudian. Setelah menjalani pengecekan mata, saya didiagnosis dokter mengalami rabun warna protan moderat. Kondisi ini membuat saya melihat warna biru menjadi warna yang lain. Sekembalinya dari dokter, saya pun melakukan penelusuran internet soal kondisi rabun warna.

Dari beberapa situs kesehatan seperti Enchroma.com dan situs milik National Eye Institute, saya menemukan bahwa rabun warna atau kadang disebut dengan buta warna ialah berkurangnya kualitas penglihatan terhadap warna tertentu. Penderita rabun warna biasanya mengalami kesulitan saat melihat warna merah, hijau, biru. Terdapat beberapa jenis kondisi rabun mata, di antaranya protanomaly dan protan moderat.

Protanomaly ialah saat sel reseptor sensoris untuk transmisi cahaya yang bernama cone tidak bekerja dengan baik. Akibat tidak berfungsinya cone, warna merah, oranye, dan kuning bisa terlihat seperti hijau dan warna yang terlihat tidak terlalu jelas.

Sementara itu, orang yang protan moderat mempunyai cone yang tidak bisa mendeteksi warna merah dan warna biru tua. Orang yang mengalami protan moderat akan melihat biru gelap sebagai ungu, sedangkan pink terang sebagai abu-abu.

Bisa karena keturunan

Rabun warna biasanya dialami sejak kita lahir dan terjadi akibat faktor keturunan dari ibu. Namun, kondisi ini tidak harus terjadi di semua anak.

Laki-laki mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk mendapatkan rabun warna daripada perempuan karena laki laki hanya mempunyai satu kromosom x (sebagai pendeteksi warna merah dan hijau), sedangkan perempuan memiliki dua kromosom x. Pada laki-laki jika kromosom x tersebut rusak, berarti mereka memiliki rabun warna merah-hijau. Jika salah satu kromosom x di perempuan rusak, kromesom x yang lainnya masih bisa menggantikan.

Ada beberapa jenis rabun warna, tetapi rabun warna yang paling krusial ialah saat kita tidak bisa membedakan warna sama sekali. Jika kalian mengalami hal yang sama dengan saya, segeralah ungkapkan kepada ayah-ibu, agar mereka bisa segera membawa kalian ke dokter mata (ophtalmologist). Dengan begitu, kalian bisa diperiksa dengan rinci.

Ada satu cara untuk memperbaiki rabun warna. Pada 2010 sebuah perusahaan berasal dari Amerika Serikat bernama EnChroma membuat kacamata untuk membantu orang yang rabun warna. Orang yang tidak rabun warna juga dapat memakai kacamata ini. Pada mereka, warna akan terlihat lebih jelas lagi.

Semangat mengejar cita-cita

Sebagai penderita rabun warna, ada beberapa pekerjaan yang sulit untuk bisa digeluti. Salah satunya adalah pilot karena seorang pilot perlu melihat dan menganalisis serangkaian alat di panel. Alat itu menggunakan warna sebagai indikasi penunjuk analisis. Tentunya jika pilot mengalami rabun warna akan sulit membaca analisis di pesawat dan dapat membahayakan penumpang.

Sebagai anak yang bercita-cita menjadi pilot, saya tentu sempat merasa sedih karena kondisi mata saya. Namun, saya sadar bahwa saya tidak boleh menyerah. Saya sadar yang terpenting ialah saya harus belajar giat untuk menggapai berbagai cita-cita yang terbentang luas. Selain itu, dengan kemajuan zaman, bisa saja nantinya ada kebijakan atau teknologi yang membuat penderita rabun warna berprofesi sebagai pilot. Jadi teman-teman, ayo kita terus semangat bagaimanapun kondisi fisik yang kita alami. (Omar Parikest Rawidigdo, Reporter Cilik 2016 Media Anak Media Indonesia, Kelas 7 Sekolah Global Jaya Bintaro Tangerang)

Komentar