Khazanah

Visualisasi Pertunjukan Wayang Topeng Malang

Sabtu, 7 October 2017 23:46 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/Sumaryanto Bronto

CINTA memang tak ada habisnya. Cerita tentangnya tak pernah usang dikisahkan ulang. Tema itu selalu bisa dihadirkan. Bukan hanya itu, kisah lekat hidup manusia pun seolah melintas batas ruang dan waktu. Di mana pun dan kapan pun, cerita itu selalu menjadi hal menarik. Semacam kisah Romeo dan Juliet, Shah Jahan dan Arjumand Bann Begum, Laila Majnun, ataupun kisah percintaan lain. Ternyata cerita cinta juga dipunyai khazanah Nusantara dengan kisah tentang Panji. Bahkan kisah ini telah menyebar ke Asia Tenggara dan Eropa.

Salah satu pertunjukan yang khas dengan cerita Panji ialah pertunjukan wayang topeng Malang. Pertunjukan itu hampir mirip dengan konsep wayang orang. Bedanya, dalam wayang topeng, semua pemain memakai topeng. Seni pertunjukan itu dimainkan manusia, tapi tidak memperlihatkan wajah asli sang pemain. Sesuai dengan namanya, para pemain dalam pertunjukan ini menggunakan topeng sebagai penutup muka.

Wayang topeng Malang punya kekhasan tersendiri. Salah satunya ialah pahatan karakter wajah seseorang pada kayu yang tampak lebih nyata. Selain itu, warnanya lebih beragam dan mencolok jika dibandingkan dengan topeng dari daerah lainnya.

Warna-warna tersebut mempunyai makna masing-masing. Warna merah melambangkan karakter pemberani. Warna kuning melambangkan kesena­ngan atau sifat ceria. Warna hijau melambangkan kesuburan atau kedamaian. Warna biru atau hitam melambangkan sifat bijaksana.

Kekhasan lain terletak pada 15 elemen topeng yakni mata, alis, hidung, bibir, kumis, jenggot, jambang, rambut, hiasan, urna, jamang, cula, sumping, isen-isen, dan warna. Setiap elemen inilah yang akan membentuk tokoh khas Malangan seperti Panji Asmorobangun, Dewi Sekartaji, Raden Gunungsari, Bapang Jayasentika, dan Klana Sewandana.

Pertunjukan wayang topeng Malang biasanya dimulai dengan gending giro. Lalu disusul dengan Tari Beskalan Patih. Barulah masuk pada jalan cerita dalam bagian jejer jenggolo/kediri/sabrang. Jejer menceritakan permasalahan yang dihadapi. Keinginan Prabu Sewandana untuk merebut Dewi Sekartaji dari Kerajaan Jenggala.

Setelah itu disusul adegan perang gagal. Adegan itu merupakan pertemuan antara prajurit Jawa dan prajurit sabrang. Masuk sejenak rehat dengan a­degan Sigeg atau hiburan. Setelah sigeg, barulah dilanjut dengan adegan perang. Pada adegan perang tidak ada pembunuhan, bahkan tidak ada kalah ataupun menang.

“Dalam perang itu tidak ada pembunuhan. Tapi ada yang kalah, ada yang menang. Yang kalah dikembalikan ke kerajaan,” terang empu topeng malang Tri Handoyo kala menjadi pembicara Festival dan Seminar Budaya Panji yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 4–6 Agustus 2017. Tri Handoyo ialah pemimpin sanggar seni topeng Asmorobangun di Kedungmonggo Malang.

Setelah adegan perang, cerita memasuki babak akhir dengan adegan temu. Bagian ini menceritakan bertemunya Panji dan Dewi Sekartaji. Lalu ditutup dengan Tari Gunung Sari.

Panji Asmoro

Topeng Malang mempunyai 76 karakter tokoh yang dibagi menjadi empat kelompok, yakni Panji, tokoh antagonis, abdi atau pembantu, dan binatang. Menurut Tri Handoyo, empat kelompok tersebut juga menjadi simbol manusia. Dalam diri manusia terdapat empat sifat yang direpresentasikan dalam lakon-lakon tersebut.

Sekian banyak karakter tokoh, tidak semua bermain dalam satu panggung bersama-sama. Karakter tokoh yang paling mencolok dalam setiap pertunjukan adalah Panji Asmoro Bangun, Dewi Sekartaji, Gunung Sari, Dewi Ragil Ku­ning, Bapang, dan Klana Sewandana.

Panji Asmoro Bangun merupakan tokoh protagonis yang mengatur naik turunnya konflik dalam suatu cerita yang dibawakan. Warna hijau pada wajahnya melambangkan kebaikan hati. Mata berbentuk bulir padi melambangkan sifat jujur, sabar, gesit, dan perwira. Bibir sedikit terbuka mengartikan kelembutan dan keluhuran budi. Alis Panji berbentuk nanggal sepisan, berhidung mancung, dan juga terdapat kumis.

Tokoh utama wanita, Dewi Sekartaji, mempunyai gambaran persis seperti Panji Asmoro Bangun yakni alisnya nanggal sepisan, berhidung mancung dan memiliki hiasan cula. Wajahnya berwarna putih menunjukkan bahwa ia seorang yang suci, lembut, dan baik hati.

Karakter sahabat Panji yakni Gunung Sari digambarkan dengan mata sipit dan berkumis panjang. Warna wajahnya sama seperti Dewi Sekartaji yaitu putih. Dewi Ragil Kuning, adik Panji, bersifat aktif. Warna wajahnya yang kuning melambangkan kesenangan.

Klana Sewandana. Klana merupakan tokoh antagonis yang merupakan musuh dari Raden Panji. Klana digambarkan sebagai sosok yang memiliki mata besar atau mata kedhelen, hidungnya berbentuk pagotan, mulutnya berbentuk jambe sinegar setangkep, jamang yang serupa melati ronce, serta jenggotnya yang brewok. Tokoh ini memiliki wajah berwarna merah yang memberi arti bahwa ia seorang pemarah dan pemberani.

Bapang memiliki warna wajah yang merah, hidung panjang, dan matanya yang besar. Warna wajah sahabat Klana Sewandana ini melambangkan sifat pemarah dan pemberani.

Merunut cerita sejarah, tarian topeng Malang dulunya merupakan sarana yang diadakan pada acara keagamaan pada zaman Majapahit. Bahkan menurut penuturan Empu Topeng Malang Tri Handoyo, Raja Majapahit Hayam Wuruk pun menari topeng. Setelah Majapahit runtuh, topeng lalu menyebar ke Malang. Hingga saat ini, seni pertunjukan wayang topeng pun menjadi ditetapkan sebagai tarian khas Malang.

Cerita Panji dimulai di abad ke-13 atau pada masa awal Kerajaan Majapahit. Panji merupakan kisah tradisional Jawa Timur yang berasal dari abad ke-13 yang kemudian menyebar ke beberapa wilayah dan negara lain.

Sejalan dengan berkembangnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 dan ke-15, Panji juga ikut tumbuh sehingga menyeberang ke Bali, Lombok, Kalimantan, dan ikut dibawa ke Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand. (M-2)

Komentar