MI Muda

Bahasa Kejujuran dalam Fotografi

Sabtu, 7 October 2017 23:31 WIB Penulis: Dwi Safitri Mahasiswi jurusan Sastra Indonesia Universitas Jambi

Dok. Pribadi

FOTO besar pesinetron Omar Daniel lengkap dengan guratan tulisan ‘Karena tidak ada yang lebih menjadikan saya “saya” dari secangkir kopi Toraja’ menjadi salah satu dari 85 foto yang dipamerkan di Plaza Indonesia, Jakarta, mulai 4 Oktober hingga 31 Oktober nanti. Serupa dengan yang ada di foto Omar, foto-foto lain juga dilengkapi dengan tulisan bernada kecintaan pada budaya bangsa.

Sang fotografer di balik pameran tunggal tersebut, Rio Surya Prasetia, mengaku memang sengaja mengangkat jiwa kepemudaan dan nasionalisme sebagai bagian perayaan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober.

Sebelum ia membuat pameran tersebut, jejak karier fotografi Rio di Tanah Air lebih dikenal dengan fotografi fesyen yang memang menjadi fokusnya. Perjalanannya memang tidak mudah, terlebih di bidang fotografi fesyen telah banyak nama terkenal termasuk Rio Wibowo (Riomotret) yang kebetulan bernama mirip dengan Riop.

Meski begitu, Riop tetap berusaha menonjolkan keunikannya tersendiri. Tidak sia-sia berbagai sosok terkenal telah ia foto, termasuk aktor senior Didi Petet. Lalu bagaimana kiat Riop dalam merintis karier itu dan mencetak keunikan tersendiri? Berikut penuturannya kepada Media Indonesia Muda, Rabu (4/10).

Apa alasannya mengangkat tema Yang muda di era milenial?

Karena bertepatan dengan bulan Sumpah Pemuda maka saya ingin mengangkat jiwa kepemudaan bangsa Indonesia lewat pameran foto. Saya memiliki visi untuk memperlihatkan semangat sumpah pemuda masih sangat tinggi pada kaum muda walaupun terkadang mereka sendiri tidak menyadarinya. Benang merah di foto-foto ini ialah penggunaan kain merah atau putih atau kain adati.

Pendapat tentang generasi milenial?

Saya melihat sesuai fakta-fakta pada 2020 generasi yang lebih muda akan lebih banyak daripada yang lebih tua. Semua itu akan menjadi masa depan Indonesia. Saya rasa kalau ada yang bilang generasi milenial itu pemalas dan maunya ekpres itu salah. Mungkin lebih tepatnya kita efisien dan kalau hasil akhir tetap sama. Saya suka di era sekarang setiap orang bisa menjadi merek terhadap diri masing-masing. Artinya tanggung jawab ke diri sendiri juga lebih jauh besar.

Bagaimana awal mula menjadi foto­grafer?

Awalnya saya memang hobi potret, bahkan waktu kecil saya suka potret iseng-iseng. Kebetulan bapak saya juga suka foto. Awalnya saya disuruh menjadi insinyur, tetapi saya merasa itu bukan diri saya karena saya suka seni rupa. Saya menemukan fotografer itu lebih tepatnya ke diri saya. Jadi saya menempatkan fotografer dengan fotografi untuk meng-caption orang dengan momen-momen. Setelah itu saya kuliah mengambil jurusan seni rupa fotografi di Amerika. Selepas kuliah, saya lanjut mendalami dunia digital desain di Kanada. Sampai akhirnya saya bekerja di dunia kreatif. Selama 4 tahun saya bekerja di negeri orang, lalu saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan memulai karir sebagai fotografer.

Bagaimana kamu menciptakan keunikan daripada fotografer lain?

Saya berusaha memperlihatkan karakter dari pakaian-pakaiannya. Pakaian dan karakter yang ingin saya tampilkan di foto salalu menjadi titik utama. Atau apa yang ingin saya perlihatkan ke audiens karakter yang saya berusaha ciptakan.

Untuk saya pribadi sebenarnya fesyen itu dari awal memang menarik. Fesyen itu untuk saya bukan sekadar pakaian baju cantik. Fesyen bisa menjadi identitas diri seseorang. Terkadang orang menunjukkan kepribadian lewat pakaian. Kita memakai baju yang kita nyaman dan sadar atau tidak sadar apa yang orang mau lihat dari diri kita. Fesyen buat saya juga bukan hanya model-model pakai gaun besar mahal yang di majalah-majalah atau pekan fesyen.

Selain fesyen, hal apa yang menarik bagi kamu?

Sebenarnya banyak, tergantung kita sebera­pa besar bisa mengapresiasikan objek. Saya tidak membatasi diri kalau untuk mengambil objek, tetapi yang paling saya suka memang hanya foto fesyen meskipun sebenarnya cita-cita saya untuk bisa memajukan fashion photography di Indonesia. Saya banyak memiliki koleksi foto pribadi yang saya simpan. Terakhir saya kumpulin objek-objek di jalan yang sudah ditinggalkan orang di sekitarnya. Contohnya seperti tanaman di parkiran yang potnya sudah pecah dan tanamannya jadi aneh bentuknya. Foto ini menceritakan (benda) yang dulunya dirawat dan setelah hancur ditelantarkan.

Kiat-kiatnya apa saja agar bisa mendapatkan hasil foto yang maksimal?

Yang pertama fotolah dengan jujur. Yang kedua ketika ingin memotret sebuah objek pakailah perasaan. Bukan hanya fokus ke alatnya harus mahal-mahal dan terbaru. Semua orang bisa membeli peralatan tercanggih dan termahal, tetapi tidak semua orang bisa memotret dengan mempunyai visi dan pemikiran tersendiri.

Bagaimana kiat kamu ketika menghadapi kendala?

Sebenarnya saya tipe orang yang kalau ada kesulitan dinikmati saja. Paling sulit kalau orang sekitar yang kadang sudah mengotakkan diri mereka sendiri. Kalau seperti foto fesyen masih banyak yang mikir foto harus dengan model dan baju desainer yang besar dan mahal. Tiap pemotretan sebenarnya punya kesan sendiri karena foto fesyen itu pasti ada saja dramanya dan harus bisa kompromi dan kasih solusi agar suasananya tidak kacau.

Saran untuk anak-anak muda?

Jika ingin berkarya, mulailah dari diri sendiri, jangan mengikuti gaya orang lain. Kita melihat apa kelebihan dari kita. Jika sudah menemukan kelebihannya, kembangkanlah kelebihan itu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki karena jadi diri sendiri itu lebih tepat daripada menjadi diri orang lain. (M-3)

Komentar